Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 28


__ADS_3

Dengan hati yang penuh pertanyaan, aku pergi meninggalkan Arga yang menjauh dariku dengan hati yang tidak rela .


Namun terdengar percakapan mereka putus nyambung, sepertinya Arga mengakhiri percakapan mereka, namun Arini menghubungi kembali.


Aku masih bisa mendengar meski kurang jelas, tapi aku yakin kalau aku tidak salah dengar, Arga membentak Arini dan melontarkan kata-kata kasar.


"Sudah selesai, Mas."


Refa bertanya ketika melihat Arga masuk.


"Dia sudah gila! aku sarankan kau jangan pernah lagi berhubungan dengannya. Jika dia menghubungimu jangan hiraukan!" jelas Arga memperingatkan Refa.


Refa tidak menjawab pada Arga, tapi dia berkata dalam hati,


"Cih. Dia yang berhubungan, dia juga yang melarang aku, apa-apaan ini? bukankah seharusnya aku yang bilang begitu?."


Lalu Arga kembali berkata,


"Sekarang dia itu sudah seperti wanita matre."


Refa merasa kepalanya mau meledak, memikirkan banyak hal yang menurutnya tidak realistis.


"Terus, yang di maksud Arini tentang masalah sepupunya itu apa?" selidik Refa.


Arga terdiam sesat lalu menjelaskan,


"Ohh. Itu masalahnya sudah lama, aku juga lupa lagi apa masalahnya."


Sebenarnya Refa tidak percaya, bahkan masih banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.


Namun niatnya ia urungkan karena ia tau pasti, jika di pertanyakan akan ada perdebatan.


Refa memilih mengabaikan dari pada berpikir yang tidak-tidak, karena menurutnya hanya membuang-buang waktu.


Arini di sebrang sana murka dengan makian yang ia terima dari Arga.


"Tolong ya. Bicara yang baik, masa orang besar dan berpendidikan seperti mu bicaranya seperti itu? sungguh tidak sopan, jauh dari kata sopan santun!" pesan Arini untuk Arga.


Arga tidk membalasnya, saat Arini ingin mengirimkan lagi pesan, tapi malah centang satu, tanda nomor nya sudah di blokir.


"Aaarggg!"


Arini berteriak murka, mengibaskn tangannya ke segala arah .


Kemudian Arini menghubungi Jon. Ia meminta bantuan pada Jun.


"Jun. Aku minta bantuanmu" pinta Arini.


Tidak lama Jun mengirimkan foto Refa yang di ambil di depan rumahnya.


Arini terkejut dan bertanya,


"Kamu dapat foto Refa dari siapa, Jon?"

__ADS_1


"Ck. Kamu tidak perlu tahu! kamu tunggu saja, beberapa saat lagi Arga akan menghubungimu" jawab Jun santai .


Arini memilih percaya pada Jun, ia menunggu kabar baik.


Dan beberapa hari berlalu, ternyata benar saja Arga membuka blokiran nomor Arini.


"Bagaimana? apa nomor mu masih dia blokir?" tanya Jun yang tiba-tiba datang kerumah Arini.


"Kerja bagus, Jun. Aku tidak mau tahu bagaimana kamu melakukannya, tapi tidak kupungkiri aku memujimu. Terimakasih " ucap Arini memuji adiknya .


"Heh, baru tahu terimakasih " ejek Jun.


"Tapi ... ternyata Refa lebih cantik darimu" ucap Jun sambil membayangkan penampilan Refa saat ia foto.


Arini menatap Jun kesal dan berkata,


"Relatif tahu, wanita itu tidak ada yang lebih cantik, semua wanita relatif cantik, tapi cantik saja tidak cukup. Kalau dia lebih unggul, mana mungkin Arga berpaling. Cih" ucap Arini.


Jelas terlihat dari nada bicara dan raut wajahnya, kalu ia tidak terima di bandingkan dengan Refa.


Jun terkekeh lalu berkata,


"Itu sih, aku rasa kalian memang cocok, sama-sama memiliki selera yang aneh."


"Entah nasib Refa buruk, atau nasibmu yang kurang beruntung" ucap Jun melanjutkan.


"Diam! adik durhaka!" bentak Arini.


"Baiklah, baiklah. Aku akan pergi" ucap Jun sambil berlalu.


Hingga satu minggu kemudian anak Arini sakit demam, ia menghubungi Arga berharap dia mau mengurus Putra bersama-sama .


Namun Arga tidak menghiraukannya.


"Mas. Putra demam, kumohon datanglah" pinta Arini lewat pesan WhatsApp.


Arga tidak membalasnya, kemudian Arini mencoba mengirim pesan kembali dengan perasaan kesal,


"Kalau Putra tidak sakit aku tidak akan memintamu datang. Malah lebih sayang kakeknya dibandingkan Ayahnya!."


"Arga brengsek! sudah selama ini dia masih belum membaca pesanku!" ucap Arini kesal.


flashback on


Setelah perdebatan sengit antara Arini dan Arga pagi itu.


Arga kembali memblokir nomor Arini, kali ini Arga benar-benar murka pada Arini.


Sampai tiba ke kantor wajah Arga masih tertekuk muram.


"Dih, kenapa tuh muka? Kusut amat!" tanya Doni yang memperhatikan Arga.


"Diam kau. Aku sedang tidak berselera bercanda," ucap Arga.

__ADS_1


"Lagian siapa yang ngajak becanda?" jawab Doni.


Arga melihat sekeliling mencari Mila, namun dia tidak terlihat.


Doni yang masih memperhatikan Arga, menyadari kalau Arga sedang mencari seseorang.


"Udah gak usah dicari, Dia tidak masuk kerja karena hari ini anaknya wisuda," ucap Doni menjawab rasa penasaran Arga.


Lalu Arga pergi ke ruangannya dan mulai bekerja. Hari ini pekerjaan nya lumayan banyak, hingga membuat Arga harus pulang agak malam.


Sebelum pulang, Arga memeriksa ponselnya, karena dari tadi ia tidak sempat melihat ponsel.


Banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Tapi tidak ada pesan ataupun panggilan dari Refa, Arga menghela nafas.


"Apa dia tidak cemas saat aku belum pulang? Ini sudah jam delapan malam. Sudahlah mungkin dia sedang sibuk mengurus bocah tengik itu," ucap Arga.


kemudian Arga melihat ada pesan dari nomor Jun, saat di buka Arga terkejut.


"Istri tua mu di perlakukan dengan baik rupanya, selain di beri tempat tinggal yang cukup layak, tapi juga dimanjakan. Kenapa berbeda dengan kakak gua!" isi pesan Jun beserta foto Refa .


"Apa yang di tanam itu yang akan dia tuai, aku tidak pernah memilah milah, kurasa kamu akan mengerti sebagai sesama pria," jawab Arga berusaha tenang.


"Tapi kalian bisa sampai sejauh ini bukan karena paksaan, melainkan karena keinginan berdua, kan?" tanya Jun.


Arga tidak membalasnya karena ia merasa benar adanya.


kemudian Jun mengirimkan lagi pesan,


"Karena kamu sendiri yang memilih kakak gua secara sadar tanpa paksaan, setidaknya perlakukan dia dengan layak. kesalahan apa yang dia lakukan tidak sepadan dengan apa yang kamu lakukan padanya."


Arga berdecak lalu membalas pesan Jun,


"Kamu masih terlalu jauh untuk menasihati ku. Apa yang kamu inginkan sebenarnya?."


"Tidak banyak, perlakukan Putra dengan baik kalau tidak, aku sendiri yang akan datang kepada Refa!" jawab Jun.


Arga berdecak lagi, merasa kalau Jun terlalu ikut campur urusannya.


Arga tidak menghiraukan Jun, kemudian ia bergegas pulang.


Setibanya di rumah Arga melihat Refa masih menonton televisi.


"Kamu baru pulang, Mas? Sudah makan belum? mau aku siapin air hangat dulu atau makan dulu?" tanya Refa penuh semangat.


Arga bukanya menjawab, ia menatap Refa dengan perasaan yang sulit di artikan.


"Mas. Kamu kenapa?" tanya Refa heran, karena Arga tidak berbicara hanya menatapnya .


Kemudian Arga memeluk Refa, menenggelamkan wajahnya di bahu Refa dan berkata,


"Aku ingin seperti ini dulu sebentar, sebentar saja ...."


Refa pun hanya bisa diam dan pasrah, membiarkan suaminya bersandar.

__ADS_1


 


Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰


__ADS_2