
"Cih, wajahmu saja yang terlihat lugu, ternyata kelakuanmu dibelakang Arga lebih bejat dariku. Mengatai ku murahan, tapi nyatanya kamu lebih murahan!."
"Hah. Coba kamu lihat, Mas. Arini bilang kelakuan ku lebih bejat di belakangmu,"
Refa berhenti saat dirasa ucapannya aneh, lalu ia menyadari sesuatu dan berkata,
"Memangnya apa yang kamu katakan sama Arini? dan kapan aku pernah berselingkuh di belakangmu? Kamu yang selingkuh lalu menyalahkan aku yang bejat di belakangmu? bahkan sekarang kamu juga menyalahkan Arini berselingkuh darimu!."
"Aku berani bersumpah, ketika berbicara dengan Arini, tidak pernah aku mengatakan hal-hal yang tidak baik tentangmu, Re."
"Oya, lalu maksudmu ... Arini hanya mengarang cerita?"
"Mungkin saja, karena aku tidak pernah menjelekan mu, jangankan pada Arini, jempol kaki ku saja tidak tau,"
Refa melotot pada Arga, karena ucapannya yang tidak serius.
"Aku serius!"
"Lalu menurutmu, apa aku terlihat bisa mengkhianatimu?" tanya Refa.
Sebelum menjawab Arga terdiam, takut kalau pertanyaan ini adalah jebakan, Arga menjawab dengan sangat hati-hati.
"Sampai sejauh ini, aku masih percaya sama kamu."
Refa memalingkan wajahnya dan memutar bola matanya malas,
"Lagi-lagi dia menggombal, dasar buaya cap kadal" maki Refa dalam hatinya.
Refa memilih mengabaikan Arga, lalu ia mengirim kembali pesan pada Arini,
"Ya, mau bagaimana lagi. Kamu memang murahan sih. Kamu tidak punya bukti atas tuduhan mu mengatakan aku lebih bejat darimu. Tapi lihatlah dirimu, meski aku tidak punya bukti kamu melayani banyak pria. Aku masih punya bukti kejahatanmu, menjadikan anak sendiri sebagai alat pemerasan, mengatas namakan HAK nafkah!."
__ADS_1
"Maaf yah, aku masih mampu menghidupi anakku, tidak perlu memeras uang dari orang macam kalian. Aku hanya mengetes saja, ternyata kalian tidak punya itikad baik sama sekali terhadap anak saya! kalian memang keluarga penipu!" Arini membalas pesan Refa.
"Penipu teriak penipu! Tck, tck, tck. Kasian anakmu, harus menanggung beban dosa yang kamu perbuat. Karena dulu kamu lah yang tidak punya itikad baik untuk melepas suamiku, meski aku memohon agar kamu tidak melayani Arga. Kamu menipuku dengan menyetujui permintaanku,"
"Setelah apa yang kamu lakukan, sekarang kamu masih berani berharap, aku punya itikad baik untuk kamu dan anakmu? Cih. Kamu sungguh naif, jangankan melihat aku sebagai sesama wanita, melihat untuk anakku saja tidak. Pada akhirnya kamu tetap merampas suami juga ayah dari anakku!" Lanjut Refa.
"Sudahlah, kalau kalian tidak mau memberikan hak anakku, tidak perlu bicara ini itu. Apalagi mengungkit kejadian yang sudah berlalu" balasan Arini.
"Aku sih bukannya tidak mau, hanya saja agak risih kalau memberi hak nafkah lahir batin anakmu melalui kamu. Bagaimana kalau kamu berikan hak asuh anakmu padaku? maka aku akan menjamin hak atas lahir batin anakmu tercukupi"
"Kita lihat saja, apa kamu mau menyerahkan anakmu atau tidak?" ucap Refa setelah mengirimkan pesan pada Arini.
Tidak lama kemudian Arini membalas pesan Refa,
"Tidak, terimakasih. Anakku tidak kekurangan apapun meski tidak bisa hidup bersama ayahnya."
Refa tertawa kencang membaca pesan Arini, kemudian ia membalasnya.
"Dan kalau kamu anggap aku bodoh lalu percaya alasanmu itu, kamu salah! Aku tau tujuanmu memang sengaja mengusik aku dan Arga. Kamu cemburu melihat kami disini baik-baik saja, kan?"
Arini juga tidak mau kalau lalu membalasnya,
"Kalau ia memangnya kenapa?! Aku sakit karena ucapanmu yang selalu menghina dan kelakuan Arga yang hanya ingin mempermainkan aku! Aku lebih baik di tampar atau di pukul, dari pada di hina, karena ucapan itu akan selalu terngiang di telingaku."
Refa tersenyum dan membalas pesan Arini.
"Kamu itu sebenarnya wanita pintar, tapi terkadang sok pintar. Lihat saja, kamu bahkan tidak bisa membedakan pelaku dan korban, kamu selalu anggap aku kekanakan. Tapi sekarang kamu lihat, siapa yang kekanakan?"
"Kamu selalu berpikir, kamu berbuat semua ini karena aku yang mulai menyakitimu, iya kan? Persepsimu, seperti semut tidak akan menggigit jika tidak di injak. Tapi kamu melupakan satu hal, manusia juga tidak akan menganggu semut, jika mereka tidak menampakan diri di hadapan manusia untuk mengambil sebutir manisan. Karena bagi manusia itu, meski hanya sebutir manisan tapi itu adalah hasil dari jerih payahnya dengan mengorbankan waktu dan tenaga, mereka berjuang demi menikmati manisan itu. Sementara semut dengan tidak tau malunya mengambil manisan yang pemiliknya pun belum mencicipinya."
"Sudahlah, aku tidak butuh di diceramahi oleh mu. Berisik tahu, bilang saja sama Arga, kalau dia memang tidak mau menepati janjinya, maka akan aku matikan dia dari hak walinya!" Arini membalas pesan Refa dengan kesal.
__ADS_1
"Ups. Aku lupa, kalau kamu tida beradab. Tentu saja tidak akan mengerti dengan apa yang aku katakan, hihi" balas Refa sedikit mengejek.
"Sok suci kamu !"
Sepertinya Arini tidak punya kata-kata lagi untuk di ucapkan, kemudian Refa mengeluarkan serangan terakhirnya yang ia kirimkan di pesan untuk menutup perdebatan mereka.
"Baiklah. Aku tidak akan menggoda mu lagi. Tapi aku sarankan, agar kamu tidak menggonggong lagi mengatasnamakan anak. Karena kalau tidak, aku dan Arga akan mengambil hak asuh anakmu dan tidak akan mengijinkan kalian penipu melihatnya lagi! Bay. Semoga tidurmu nyenyak Arini."
Kemudian Refa memblokir nomor Arini.
"Ah, sungguh melelahkan melayani guguk rabies chating, aku butuh pijatan di pundakku" ucap Refa manja.
Arga yang menyaksikan perdebatan sengit antara Arini dengan Refa, melihat Refa kelelahan dan berucap manja, tentu saja tidak tahan untuk tergoda dan terkekeh menahan tawa.
"Kenapa tertawa? aku ini baru saja berperang, menyingkirkan guguk rabies yang mengejar-ngejar mu" ucap Refa yang melihat Arga terkekeh.
"Aku tersentuh, tidak mengira kalau ternyata istriku ini sangat imut dan cerdas. tentu saja aku tidak tahan menahan tawa kebanggan ini."
"Selama ini kemana saja kamu, Mas. Dari dulu aku sudah imut dan cerdas, kamu saja yang tidak peka. Aku diam bukan berarti aku bodoh, selama ini aku selalu menghargai kamu, diam ku karena aku hormat atas apapun yang kamu buat. Tapi apa balasannya? kamu malah ... " ucap Refa lirih dan terhenti.
Memikirkan hal ini, seketika membuat rasa sakitnya kembali berdenyut di hati Refa.
Arga tau kenapa Refa berhenti bicara, dia kemudian menghampiri Refa, lalu berlutut di hadapannya sambil memegangi tangannya dan berkata.
Terimakasih sudah membaca karyaku 🥰
__ADS_1