Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 25.


__ADS_3

"A-apa maksud kamu? aku, aku tidak mengerti."


"Jadi maksud kamu sekarang, aku yang bertele-tele?" tanya Arga dengan nada mengejek.


"Bukan begitu maksud aku, Mas. Aku sedang membahas kalau aku cukup tahu diri menjadi simpanan mu yang bisa menerima kehadiran Refa. Tapi bukan berarti aku juga akan menerima kehadiran wanita lain" pekik Arini.


Arga menatap Arini lalu menjawab dengan dingin.


"Kamu pikir aku tidak mengerti maksud mu, begitukah? kalau aku tidak mengerti, untuk apa aku berkata seperti barusan!"


Arini terdiam. Dia berpikir apa yang harus ia katakan selanjutnya.


Sebelum Arini menemukan kalimat yang cocok untuk ia ucapkan. Arga mendahuluinya berkata,


"Kamu tidak perlu mencari alasan lagi. Sama seperti kamu, aku diam bukan berarti tidak tahu. Aku menjadikanmu simpanan bukan berarti kamu bisa sesuka hati."


"Apa ini? kamu mau melemparkan kesalahan padaku?" tanya Arini menatap tajam Arga.


"Tidak." Lalu arga berjalan mendekati Arini, kemudian berkata dengan mendekatkan wajahnya pada Arini.


"Aku hanya mengembalikan apa yang sudah kamu berikan padaku!" ucapnya tajam.


Kemudian Arga kembali duduk ke tempatnya.


"Hah. Apa yang aku berikan? ... aku bahkan percaya padamu. Menerima mu apa adanya, juga mempertaruhkan segalanya!" ucap Arini.


"Tidak puas dengan hanya di jadikan simpanan, lalu mencari pria lain. Apa ini juga termasuk?" tanya Arga tanpa mau memandang Arini.


Baru saja Arini membuka mulut untuk bicara, namun Arga lagi-lagi mendahuluinya.


"Sudahlah, aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Aku hanya ingin mengingatkan!"


Kemudian Arga kembali mendekati Arini dan melanjutkan perkataanya,


"Aku pernah memberimu pilihan. Jika kamu merasa tidak puas, kamu boleh minta cerai. Namun apa yang kamu pilih? ... kamu tidak benar-benar ingin bercerai denganku, malah mengancam dengan kehamilan mu. Dan kamu, diam-diam bermain di belakangku."


Arini panik tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya menatap Arga dengan ketakutan.


"Kamu pikir aku tidak tahu!" teriak Arga di depan wajah Arini.


"Kata siapa aku selingkuh, dan apa buktinya?!" bentak Arini tidak ingin kalah dari Arga.


Padahal hatinya berdegup kencang, tubuhnya gemetar.


"Kamu minta bukti?" tanya Arga.


"Tentu saja, menuduh itu harus ada bukti kalau tidak, itu namanya fitnah."


Kemudian Arini melemparkan amplop coklat kepada Arga, yang isinya adalah foto Arga dan Mila.


Namun saat Arga membukanya, dia tidak terlihat terkejut.


Dia menyimpannya lalu tertawa dan berkata,


"Kamu ingin apa dengan foto ini?" tanya Arga dingin.


Arini terdiam melihat reaksi Arga yang tenang. Dia berkata dalam hati,


"Kenapa dia tidak panik? sial, sekarang aku harus bagaimana?."


"Aku tanya untuk yang terakhir kalinya, apa mau mu? Jika kamu tidak puas dengan status mu, kita bisa bercerai."

__ADS_1


Arga berkata sebelum Arini sempat menjawab.


Kemudian Arini menemukan ide. Dia berkata,


"Mungkin, bukti ini tidak mengejutkan karena aku yang kau hadapi. Namun, bagaimana jika Refa yang melihat bukti ini? aku tidak percaya kalau reaksimu masih akan setenang ini."


Arga menatap Arini dengan tajam. Dia tidak habis pikir kalau wanita ini masih memiliki ide macam ini.


Tapi Arga pun tidak akan kalah dengan ancaman Arini. Dia membalas ucapannya.


"Hanya dengan foto ini?. Coba saja kalau berani!"


Kemudian Arga pergi meninggalkn Arini. Dengan membawa amplop coklat berisikan foto-foto Mila dengan dirinya.


"Silahkan saja ambil, itu tidak seberapa aku masih punya yang lainya di ponselku" ucap Arini saat melihat Arga membawa foto itu.


Dan Arga tidak menggubris ucapan Arini, dia terus berjalan hingga berlalu dari rumah Arini.


***


Di tempat lain.


Mila yang melihat Arga pergi tanpa sepengetahuan nya, dia menatap Arga sampai punggungnya tidak terlihat lagi.


Sesampainya di rumah Mila membaringkan tubuhnya di sofa.


Kemudian ia melihat sekeliling dan menyadari kalau suaminya belum pulang.


"Kamu tidak jadi pulang hari ini?" tanya Mila pada suaminya lewat pesan singkat yang ia kirim.


Kemudin suaminya membalas pesan Mila.


"Tidak."


"Lalu kapan kamu akan pulang? apa kamu tidak merindukan anak istrimu?."


"Aku pasti pulang, tapi tidak sekarang" jawaban singkat dari suaminya.


"Lihatlah, manusia macam apa dia? hanya membalas sepatah dua patah kata saja bahkan tidak menanyakan kabarku. Sungguh tidak punya perasaan."


Mila memaki suaminya kesal, karena suaminya berubah menjadi dingin dan acuh setelah bekerja di luar kota.


Mila menyimpan ponselnya, lalu ia bergegas membersihkan diri.


setelah selesai mandi dan berganti baju. Mila mengambil ponselnya ia berniat menghubungi Arga.


Karena Mila sendirian di rumah, selain suami bekerja di luar kota anaknya juga suka keluar.


Anaknya Mila sudah terhitung besar, dia sudah SMA.


Dia hanya pulang ketika sore atau terlambat beberapa jam.


"Lagi dimana? tadi pulangnya buru-buru amat, belum waktunya pulang juga, kan? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Mila lewat pesan singkat yang di kirim pada Arga.


Tapi Arga tidak kunjung membalasnya.


Mila menunggu hingga ia tertidur di sofa.


***


Sementara itu Refa sedang menunggu Arga.

__ADS_1


Dia sudah memasak makanan kesukaan Arga, tapi Arga belum juga tiba.


Kemudian Refa menelpon Arga.


"halo?" jawab Arga.


"Kamu masih dimana, Mas?" tanya Refa.


.


"Lagi di jalan, sebentar lagi juga sampai" jawab Arga.


"Baiklah. Hati-hati di jalan ya, aku masak semur telur kesukaanmu, Mas" ucap Refa.


"Iya sayang. Uda dulu ya, aku lagi nyetir."


Panggilan pun di akhiri.


***


Kini Arga sedang di suatu tempat. Ia sedang membakar fotonya dengan Mila.


Ia menerima pesan dari Mila, namun saat ia ingin membalasnya, tiba-tiba ada panggilan dari Refa bahwa ia sedang menunggunya.


Karena khawatir pada Refa, Arga lupa membalas pesan Mila.


Saat melihat Refa yang tersenyum hangat dan Gara yang selalu memeluk nya.


Membuat hati Arga luluh, ia merasa penuh kasih namun ia juga merasa tidak tenang atas kesalahannya.


"Ayah!" teriak Gara. Yang berlari menghampiri Arga untuk di gendong dan memeluknya.


"Ayah tenapa lama cekali pulangnya? Ibu cudah macatin matanan tetutaan ayah, loh" ucap Gara.


"Tadi Ayah ada urusan dulu sebentar, Boy" jawab Arga.


Lalu menurunkan Gara dari gendongannya.


"Ya sudah. Sekarang kita makan yuk" ajak Refa.


Malam ini adalah makan malam yang menyenangkan untuk Gara. Karena sudah berapa lama Arga jarang menyempatkan waktu, walau hanya sekedar untuk makan malam sekalipun. Dia terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri.


Sampai waktunya untuk Gara tidur,


"Selamat malam, Boy. Mimpi yang indah" ucap Arga kemudian mencium kening Gara .


"Telima acih untut hali ini Ayah, aku cangat cenang" ucap Gara senang.


Karena Refa belum mencium Gara, ia bertanya pada Ibunya,


"Ibu tenapa? apa tidat mau mencium Gala?."


 


 


Terimakasih sudah membaca karyaku 😘


 


 

__ADS_1


__ADS_2