Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 29. Ketahuan.


__ADS_3

"Mas ... aku kesemutan. Kamu gak tidur, kan?" tanya Refa.


Arga tersadar lalu melepaskan pelukannya dan berkata,


"Maaf, mungkin aku lelah. Kamu ... tidurlah, ini sudah malam. Aku juga mau istirahat, kamu tidak perlu repot-repot melayaniku" ucap Arga sambil mengibaskan tangannya, kemudian berlalu.


"Kenapa dengan nya hari ini?" gumam Refa.


Arga benar-benar terlelap,


"Mungkin dia lelah" batin Refa.


Refa pun ikut masuk dalam selimbut yang sama.


Singkat cerita, Dua hari kemudian.


Hari ini Arga tidak masuk ke kantor, karena hari ini bagian ia kelapangan.


Ketika Arga sedang bekerja, ia menerima pesan lagi dari Jun.


"Apa kamu sedang di luar, Kakak ipar? Lihatlah istrimu yang cantik ini, dia sedang menyirami bunganya. Apa aku boleh menghampirinya?" isi pesan Jun beserta foto Refa.


Raut wajah Arga terlihat terkejut dan panik, ia langsung menghubungi Refa,


"Halo?" jawab Refa.


"Kamu sedang apa, Re?" tanya Arga terdengar panik.


"Aku sedang di rumah, kamu kenapa?" ujar Refa heran dengan nada bicara Arga yang terdengar panik.


"Maksud ku, kamu lagi di luar apa di dalam?" tanya Arga lagi.


"Tadi sih di luar, sekarang sudah di dalam. Kenapa sih, Mas? Ko kamu kaya yang panik gitu" Refa semakin penasaran.


"Apa ada seseorang yang datamg ke rumah?" tanya Arga semakin misterius.


Refa merasa aga aneh dengan pertanyaan Arga, lalu ia menjawab,


"Tidak. Dari tadi tidak ada seorangpun yang datang kerumah."


"Ya sudah. Kamu baik-baik dirumah ya, jaga Gara"


"Iya" jawab Refa.


Lalu Arga mengakhiri panggilan nya, sementara Refa masih kebingungan.


Setelah Arga menghubungi Refa, ia menghubungi Jun.


"Dimana kamu?" tanya Arga pada Jun.


Jun menjawab,


"Tentu saja di depan rumah Kakak ipar, aku sedang menunggu izin darimu untuk masuk."


Jun tertawa licik lalu melanjutkan ucapanya,


"Bagaimana, Kakak? Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, aku bukan tipe orang yang sabar."


"Aku harus bagaimana, agar kamu tidak mengganggunya?" tanya Arga tertahan.

__ADS_1


"Mudah saja. Tebus, berapa lama kamu tidak membiayai Putra. Dan jangan menghindari komunikasi tentang Putra, sekalipun dengan ibunya" ucap Jun.


Arga tidak bicara lagi, ia mengerti apa yang di maksud Jun dan mengakhiri panggilannya.


Kemudian ia membuka blokiran nomor Arini dan mengirimkan sejumlah uang pada rekeningnya, tidak lupa Arga pun mengirimkan bukti transfer pada Arini.


flashback off


Setelah itu beberapa hari kemudian.


Arga benar-benar sibuk, bahkan di hari libur sekalipun.


Arga membawa pekerjaannya ke rumah, karena ia ingin mengerjakannya sambil bersantai bersama keluarga.


Karena hari sudah malam, Refa menghampiri Arga untuk mengantarkan teh hangat ke ruangan nya.


Namun di dalam ternyata Arga sudah tertidur.


"Dia tertidur? Pekerjaannya belum selesai" ucap Refa menggelengkan kepalanya.


Refa melihat ponsel Arga menyala tanpa suara, karena ponsel Arga dalam mode silent.


Karena penasaran Refa melihatnya, seketika hati Refa bergemuruh, jantung nya memacu dengan cepat.


Karena pesan itu dari Arini dan isi pesannya membuat Refa ternganga tidak percaya dengan apa yang di tulis Arini.


Pesan Arini pada jam lima sore,


"Mas. Putra demam, kumohon datanglah"


Pesan Arini jam delapan malam,


Kemudian Refa keluar dari ruang kerja dan membawa ponsel Arga, ia ingin mencari tahu lebih banyak.


Tapi kali ini Refa tidak membalas pesan Arini. Dia mulai mencari sesuatu sampai ke Facebook, dan Refa mendapatkan yang ia inginkan.


Ada beberapa inbox yang belum di baca dan salah satunya nya dari akun Facebook Arini.


Pada tanggal sebelas juli,


"Mungkin ini hukum alam atas perbuatanku, maaf karena aku sudah hadir dalam hidupmu. Aku hanya berharap kamu menepati janjimu"


Pada tanggal dua belas juli,


"Selalu teringat akan janjimu, yang berjanji untuk tanggung jawab dan berbuat adil. Tapi Alhamdulillah sampai saat ini janji itu masih belum terbukti."


Pada tanggal tiga belas juli,


"Padahal kurang bagaimana aku masih menutupi aibmu. Disini ada keluarga dari Refa kalau aku mau, mungkin sudah aku katakan. Sudah banyak buktinya, tapi aku tidak sejahat itu."


Pada tanggal enam belas juli,


"Meski ini hukum alam untukku, tapi anak tidak bersalah. Kamu berjanji untuk tanggung jawab atas haknya dan kamu pun berjanji akan memberikan jatah uang mingguan padaku. Padahal kalau kamu tidak mampu tidak usah menjanjikan, karena itu hanya membuat aku sakit atas janji yang tidak pernah kamu tepati."


Setelah selesai membaca pesan dari Arini, tubuh Refa lunglai tidak bertenaga.


Ia merasa sesak di dadanya, tapi ia belum mendapatkan bukti nyata dari Arga yaitu sebuah pengakuan.


Refa tidak bisa tidur, ia mondar mandir dengan perasaan yang kacau.

__ADS_1


Kemudian Refa memberanikan diri untuk membangunkan Arga.


"Mas. Bangun Mas ... ada pesan masuk baca dulu takutnya penting" ucapku berusaha tenang.


Kemudian Arga pun bangun dan membaca pesannya, tapi ia seolah-olah tidak ada apa-apa.


Karena Refa tidak puas dengan reaksi Arga, ia bertanya,


"Mas ... " tanya Refa terhenti.


"Kenapa?" Arga juga bertanya balik.


"Kamu mau tidur lagi?" tanya Refa yang melihat Arga hendak berbaring lagi di sofa.


"Ia, aku masih ngantuk " jawab Arga lalu berbaring lagi.


Namun sebelum sempat berbaring, Refa menahan nya dan berkata,


"Mas. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, bisa kita bicara sebentar?" ajak Refa.


Arga mengangguk dan duduk dengan posisi yang baik.


"Aku barusan baca pesan kamu, Mas. Di antara salah satu pesanmu, ada pesan dari Arini juga. Yang mau aku tanyakan pasti kamu sudah tahu. Kamu bisa jelaskan, Mas. Apa maksud dari pesan Arini?" tanya Refa sangat tenang.


Arga terdiam lama, lalu menjawab,


"Ia ... anaknya ingin bertemu denganku ... " lirih Arga.


"Tapi kenapa ingin bertemu kamu, Mas? dan kenapa kamu harus bertanggung jawab? apa itu anak kamu?" selidik Refa.


Dengan cepat Arga membantah,


"Tapi aku tidak merasa dia anakku!."


"Aku tanya sama kamu! apa kamu sudah menikah, dengan Arini?" tanya Reda dengan nada tinggi di awal dan rendah di akhir.


Arga tidak menjawab, dia bungkam tidak mau menggerakkan bibirnya sama sekali.


Lalu Refa bertanya lagi dengan membentak,


"Jawab aku, Mas!."


"Iya!" jawab Arga tegas.


Refa menepuk jidatnya, terlihat jelas kekecewaan dalam raut wajahnya.


"Tapi aku tidak merasa kalau anak itu anak aku, Re ... "


ucap Arga melanjutkan dengan lirih.


"Tapi kamu sudah menikahinya, Arga!" bentak Arini.


Lagi-lagi Arga hanya terdiam, Refa melanjutkan ucapannya,


"Kamu anggap aku ini seberapa bodoh? sampai alasan macam ini kamu katakan. Entah itu anak kamu atau bukan, kenyataannya kalian punya anak setelah menikah!"


 


Terimakasih sudah membaca karyaku. 🥰

__ADS_1


__ADS_2