Kisah Cinta Dan Penghianatan

Kisah Cinta Dan Penghianatan
Bab 30. Refa kecewa.


__ADS_3

"Kamu anggap aku ini seberapa bodoh? sampai alasan macam ini kamu katakan. Entah itu anak kamu atau bukan, kenyataannya kalian punya anak setelah menikah!"


Refa mengusap wajahnya prustasi, air mata mulai mengalir, dirinya sudah tidak mampu menopang berat tubuhnya.


"Kamu jahat, Mas. Kenapa harus sampai begini ... " lirih Refa.


Arga tetap bergeming meski hatinya sakit saat melihat Refa hancur, ingin rasanya ia memeluk Refa dan memberikan bahu untuknya menumpahkan air mata.


Namun Refa tidak bersedia,


"Jangan sentuh aku!."


Refa berdiri berniat ingin meninggalkan ruangan Arga, namun tubuhnya lemah karena shock.


Arga mencoba menahannya, namun lagi-lagi Refa menipisnya dan berteriak,


"Jangan sentuh aku!."


Kemudian Refa ambruk di tempat,


"Jangan sentuh aku ... " Dengan berderai air mata Refa tersungkur.


Tangannya memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.


"Sakit ... Sakiiit ...."


Arga merasakan sakit yang sama, ia pun menangis menemani istrinya, tangannya ingin memeluk namun tak tergapai.


Arga hanya bisa melihatnya dan terus mengucapkan kata maaf yang tidak terdengar jelas karena suara isakan Refa.


Tanpa di duga, ternyata di luar ada sosok yang memperhatikan, meski dia tidak paham namun dia tahu kalau Refa sangat terluka, bahkan dia bisa merasakan seberapa dalamnya luka Refa hanya dengan mendengar pukulan di dadanya dan berkata "sakit".


"Ibu ... " lirih Gara yang berada di luar.


Kemudian ia memilih untuk mundur kembali ke kamarnya,


Setibanya di kamar ia meringkuk memeluk dirinya sendiri, terbayang akan ibunya.


Dalam hati Gara bertanya-tanya,


"Ada apa dengan ibu? Kenapa kamu membiarkannya terluka ayah, Kenapa, kenapa? Aku sakit melihat ibu menangis."


Gara tidak bisa menangis, dia sakit tapi tidak tahu apa yang sakit. Meski usianya terbilang masih kecil, dia memiliki keistimewaan.


Pola pikirnya berbeda dengan anak-anak seusianya.


Kembali ke Arga dan Refa, mereka masih berada di tempat yang sama.


Tidak menyadari kehadiran Gara, setelah meraung cukup lama, Refa pun bangun ia membenarkan penampilannya yang berantakan.


Refa berdiri dan berjalan menuju kamarnya, di susul dengan Arga di belakangnya tanpa perlu di komando.

__ADS_1


Refa duduk di tepi ranjang dengan menatap dinding di hadapannya. Arga menyapa berusaha memohon ampun pada Refa,


"Sayang ... aku mohon maafkan aku ... kalau kamu marah kamu boleh pukul aku sepuasnya, aku rela ...."


Refa tidak menjawab, pandangannya masih kosong.


"Re ... aku mohon katakan sesuatu, ingin memukul, memaki meneriaki lakukan, Re. Lakukan, jangan menyiksa dirimu seperti itu" ucap Arga menghampirinya.


Arga berdiri di depannya, memberikan tubuhnya untuk dipukuli.


Refa menoleh menatap Arga tanpa ekspresi dan berkata dengan datar,


"Aku ingin kamu pergi dari sini."


Lalu Refa memalingkan kembali wajahnya.


Deggg .


Hati Arga sakit mendengar perkataan Refa, ia berpikir kali ini mungkin kesalahannya sangat fatal.


Arga bersujud di hadapan Refa, memohon diberi kesempatan.


"Jangan, Re. Kamu boleh lakukan apa saja, tapi jangan mengusirku ... " lirih Arga memohon pada Refa.


"Kenapa kamu harus begini? Dulu kamu tidak izinkan aku pergi, hingga kini kenyataannya kamu masih bersama Arini. Karna kamu begitu ingin bersamanya, sampai harus menyakiti aku lebih dalam lagi. aku lebih rela kamu pergi tinggalkan aku untuk Arini ... " ucap Refa dengan berderai air mata.


"Tidak Re. Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Arga cepat.


"Aku tidak akan memilih Arini, dia bukan pilihan untukku, aku tidak akan meski kamu memaksaku!" jawab Arga tak kalah berteriak.


Refa menatap Arga tidak percaya dengan yang di ucapkan dan apa yang sudah terjadi.


Kemudian Refa tertawa dan berkata dengan sisa isak nya,


"Kamu selalu anggap aku bodoh, kan? Kali ini aku tidak akan percaya omong kosong mu. Alasan macam apa? Kalau memang Arini bukan wanita yang harus kamu pilih, kenapa kamu masih mempertahan kan nya sampai sejauh ini?!"


"Sekarang juga akan aku akhiri hubunganku dengan Arini, kamu harus ikut sebagai saksi" ujar Arga .


"Hah. Kamu pikir aku akan percaya? Setelah apa yang kamu lakukan dua tahun yang lalu dan apa yang terjadi sekarang! Tidak, aku tidak bersedia" kemudian Refa bangkit namun Arga mencegahnya.


"Aku mohon, Re. Aku serius ingin mengakhirinya, kali ini aku bersungguh-sungguh " Arga memohon.


"Kali ini? Bukankah dulu aku sudah memberimu kesempatan, kamu ke manakan kesempatan itu? Aku sudah mengatakan jika ada lain kali, aku akan meninggalkan mu!" ucap Refa menggema di telinga Arga.


Lalu Refa berkata kembali,


"Sekarang pilihannya ada dua, kamu pergi, atau aku yang pergi!."


Arga tidak rela jika harus kehilangan Refa dn Gara, ia berusaha membujuk Refa.


"Setidaknya tolong pikirkan Gara, Re. Bagaimana perasaanya jika harus berpisah dari slah satu di antara kita?" bujuk Arga.

__ADS_1


"Sekarang baru memikirkan perasaan Gara? Harusnya kamu pikirkan dari awal, sebelum kamu berselingkuh!" ucap Refa.


Arga tidak bisa berkata-kata lagi,


"Aku salah, Re. Aku salah aku salah, apakah kamu sungguh tidak bisa memberi aku satu kesempatan lagi, sekali lagi? Demi Gara" ucap Arga.


"Aku dan Gara tidak butuh janji palsu, yang kami butuhkan adalah bukti. Meski kamu bersumpah di atas Al-Quran sekalipun, aku tidak akan percaya sebelum di buktikan!" tegas Refa.


"Baik. Aku akan membuktikannya besok pagi. Besok pagi kita kerumah Arini" ucap Arga menyanggupi.


Hari berikutnya Refa seperti biasa menyiapkan sarapan untuk Gara dan juga Arga, Refa sangat baik dalam menutupi permasalahan.


Gara menghampiri Refa dan memeluknya.


"Pagi Ibu. Muach" cium Gara di pipi Refa.


"Pagi juga sayang. Muach" balas Refa mencium kening Gara.


Arga berdehem melihat interaksi anak dan Ibu.


" Ehemmm. Kamu tidak melupakan Ayah, kan?."


Gara menatap Arga dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.


"Hey, tatapan macam apa itu?" tanya Arga yang melihat Gara menatapnya.


Kemudian Gara berpaling ke Refa dan berkata dengan manja,


"Ibu. Tahu tah Ibu, cemalam Gala belmimpi Ibu menangis dan Ayah membialtan Ibu telluta. Atu cangat atit, Ibu. Melihatmu teacitan ...."


Tiba-tiba Refa melihat Gara tidak percaya, apakah itu benar mimpi atau dia melihatnya?.


Arga pun memandang Gara lalu menatap Refa , mereka memikirkan hal yang sama.


"Ohh. Ibu minta maaf karena tidak bisa melihatmu semalam, mungkin ... semalam Ibu tidur terlalu nyenyak" ucap Refa mengalihkan perhatian.


"Apa hubungannya mimpi buruk dan tatapan mu itu?" ucap gara menghangatkan suasana .


"Talena dalam mimpi atu tidat cempat memalahimu!" ketus Gara.


"Jadi maksud mu, karena tidak bisa memarahi Ayah dalam mimpi, terus kamu ingin memarahi Ayahmu di dunia nyata, hah?" tanya Arga.


 


 


Terimakasih sudah membaca karyaku🥰


 


 

__ADS_1


__ADS_2