
Meski begitu ,etika di perusahaan kami masih di terapkan, mengetuk pintu sebelum masuk.
"Masuk!" titah Pak Winata.
Lalu aku membuka pintu dan masuk.
"Maaf, Pak. Jika saya mengganggu" ujar Arga .
"Duduklah" ucap Pak Winata.
Setelah aku duduk Pak Winata bertanya,
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Pak Winata.
"Maaf sebelumnya, kedatangan saya kesini ,untuk pengunduran diri."
Sambil ku serahkan map berisikan surat pengunduran diri, Pak Winata menatap map yang aku sodorkan, lalu menatap ku dan bertanya,
"Kenapa, apa masalahnya ?" tanya Pak Winata penasaran.
"Saya hanya merasa ... tidak pantas bagi saya masih bertahan disini, sedang yang lain sudah pada di berhentikan ,saya juga bagian dari mereka karyawan lepas " jelas Arga sangat hati-hati.
Pak Winata tersenyum dan berkata,
"Jadi, kamu mau bilang kalau saya sudah mempertahankan orang yang tidak pantas ?."
Aku tidak mengerti dengan ucapan Pak Winata, apakah maksudnya dia yang mempertahankan aku? lalu masalah pekerjaan yang selalu salah adalah perbuatan orang lain?.
"Maaf, Pak. Saya tida bermaksud seperti itu, saya sangat menghargai kebaikan Bapak ,hanya saja ...."
Ucapanku terhenti, aku tidak tau harus bagaimana mengucapkannya.
"Hanya saja apa ?" tanya Pak Winata .
Aku terdiam tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
"Saya tidak mau dengar ini lagi kedepannya dan kamu masih di butuhkan di tempat ini, kinerjamu ... bukan hanya harus di pertahankan, tapi juga harus di tingkatkan!" saran Pak Winata.
"Tapi pa-"
dengan cepat Pak Winata berkata,
"Tidak ada tapi, sekarang kamu selesaikan pembukuan yang saya minta kamu revisi dan silahkan keluar !" seru Pak Winata.
Kemudian aku keluar tanpa bisa mengatakan sepatah katapun, aku kembali keruangan dengan menghela nafas panjang , karena terasa sangat membingungkan
Di satu sisi aku muak dengan mereka yang berada di belakang layar, mereka berusaha menyingkirkan aku dengan segala upaya, membuatku ingin berhenti dari pekerjaan ini.
Di sisi lainnya, aku membutuhkan pekerjaan ini, jika aku keluar bagaimana aku bisa membiayai anak istriku? belum lagi hutang-hutang ku yang semakin membengkak, karena harus menutupi kebutuhan Arini.
__ADS_1
"Tckk ... aku harus bagaimana? tidak bisa begini terus, aku harus mencari pekerjaan lain" batinku.
Meski akhirnya aku masih bekerja di perusahaan Winata, tapi semakin hari semakin sulit saja hidupku.
Pikiran kacau ,suasana hati jadi semakin buruk dengan keadaan di kantor.
Belum lagi arini yang selalu meminta uang mingguan, jika tidak dihiraukan dia nekat mengganggu Refa, membuat aku tidak bisa konsentrasi dan fokus pada pekerjaan.
"Bro, lo kenapa? akhir-akhir ini kerjaan ga beres semua, gue liatin ngelamun mulu kerjaan lo, kalo lo butuh waktu liburan buat refresh otak lo, kenapa gak minta cuti aja?" saran Andreas.
Aku langsung menatap Andreas dan berkata,
"Ideu apaan tuh? gue emang butuh nga refresh otak, uda hampir nge hank nih."
"Dasar lo, emang kadal super ja'im" ucap Andreas lalu berlalu.
Sedangkan aku langsung membuat surat permintaan cuti, berharap dengan cuti ini aku bisa lebih tenang.
Dan aku pun di beri izin untuk bercuti selama tiga hari, dengan catatan, setelah cuti bisa menyerahkan pembukuan yang belum selesai ku kerjakan.
"Cuti macam apa ini? mana ada cuti masi harus mengerjakan pekerjaan, kaya daring aja" gerutu Arga merasa tidak terima dengan perintah bos nya, namun terpaksa menerimanya.
"Ya sudahlah, daripada tidak sama sekali. "
Tiga hari berlalu serasa satu hari bagi Arga, pekerjaan yang harus ia serahkan masih belum selesai, ternyata cuti tiga hari tidak membuat dia mendapat ilham.
Pak Winata menghela nafas raut wajah nya terlihat muram, setelah menerima laporan pembukuan dari Arga.
"Kinerjamu benar-benar menurun Arga, saya sangat kecewa, kenapa kinerjamu jadi merosot seperti ini ?" keluh Pak Winata.
"Saya mohon maaf, Pak. Saya sudah berusaha dengan maksimal, mungkin memang kinerja saya sudah tidak mampu, saya benar-benar minta maaf, apapun hukuman yang akan bapak berikan, akan saya terima dan laksanakan, terimakasih atas kebijakan Bapak, saya mohon undur diri"
Arga keluar dari ruangan Pak Winata.
Sementara Pak Winata tidak mengucapkan apapun, dia hanya menatap buku-buku yang berada di meja, susunan pembukuan dari Arga yang belum selesai.
Dibandingkan kembali ke ruangannya, Arga memilih pergi dari kantor, kebetulan Arini mengirimkan pesan, bahwa dia ingin bertemu.
"Mas, kamu dimana? aku mau bertemu. Susu dan diaper putra sudah habis."
"Arini, jika aku tidak punya pekerjaan ,apakah kamu masih mau bersama aku?" tanya Arga.
"Kamu sekarang dimana mas? ada apa?" ucap Arini balik bertanya.
Sebenarnya Arini sudah paham dengan maksud Arga, hanya saja ia ingin mendengar secara rinci apa yang terjadi pada Arga.
"Sekarang aku hanya seorang pria pengangguran, mungkin kedepanya aku tidak mampu menutupi kebutuhan mu."
Arga berharap Arini mundur dengan sendirinya, atas apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Setidaknya beban Arga berkurang, namun tidak seperti yang di bayangkan Arga.
"Memangnya kenapa dengan pekerjaanmu? tidak punya pekerjaan bukan berarti tidak bisa mencari uang, kan ?" ujar Arini.
Arga tidak membalas lagi pesan Arini, dia memasukan ponselnya ke dalam saku celana, lalu pergi untuk pulang kerumah.
Ketika sampai dirumah, Arga tidak menceritakan apa yang terjadi pada Refa, dalam hati Arga berharap Refa menanyakan apa yang terjadi.
"Dia tidak sepeka Arini, atau dia tidak mau peduli?" batin Arga.
Sementara Refa bertanya-tanya dalam hatinya namun ia tidak berani bertanya, karena Refa takut ,kalau Arga tidak suka di tanya masalah pribadi nya.
Mereka hening dengan pikiran masing-masing, hingga Gara datang memecah kesunyian.
"Ehh, ada Ayah?" tanya Gara.
Arga dan Refa menoleh ke arah Gara secara bersamaan.
"Ayah uda pulang telja ?" tanya Gara.
"Sebenarnya sih belum" jawab Arga .
"Teluc ... tenapa Ayah di lumah? aaah Ayah boloc telja yaaa ?" ujar Gara menggoda Ayahnya.
"Hahaha kamu tau aja boy, ngomong-ngomong kamu dari mana?" kata Arga sambil tertawa canggung.
"Gala habic main cama temen gala yang di cebelah" jawab Gara.
Arga hanya mengangguk menanggapi cerita Gara.
Hari berganti dan pagi ini Arga tidak bersiap untuk bekerja, sebenarnya Refa merasa heran, tapi lagi-lagi ia tidak berani bertanya, selalu Gara yang berinisiatif untuk bertanya .
"Loh ... Ayah macih di lumah? emang engga telja ?,"
"Enggak boy, kamu ko belum mandi ?" jawab Arga.
"Mau dong, ini tan gala balu bangun tidul, mau ambil andut dulu."
Mulut gara kuncup saat berkata dulu, Arga tersenyum melihatnya .
"Anak Ayah, belum mandi aja uda ganteng" puji Arga untuk anaknya.
Kemudian Gara berlalu untuk mengambil handuk.
terimakasih sudah membaca karya ku 🥰
__ADS_1