
Setelah kejadian itu Keisya selalu menghindar dan selalu mencari kesibukan, jadi saat Rangga berkunjung untuk mengunjungi Andra Keisya nggak ada, karena alasan kerja.
Dan saat ini Keisya mulai bekerja di cafe untuk mencari kesibukan dan melupakan kesedihannya.
Rangga pun sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang identitas orang tua Andra dan tentang air mineral yang dia beli di pinggir jalan. (Salah Rangga juga yah guys ngga beli di supermarket ).
"Gimana apa sudah ada info tentang orang tua Andra?" tanya Rangga pada asisten prinadinya sekaligus sahabat baik Rangga yaitu Geril.
"sudah bro, dan nama maminya Andra Dinda Wulandari kakak kandung Keisya Wulandari, dan nama papinya Rendi Setiawan, meninggal dua tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan."
Rangga yang mendengar penjelasan Geril, merasa sangat bersalah, telah menghancurkan masa depan Keisya, gadis yang sebenarnya harus dia jaga dan dilindungi, tapi kini malah Rangga lah yang merusak dan menghancurkannya masa depannya. Bahkan Keisya nggak pernah mau menerima telepon dan SMS dari Rangga.
Sebenarnya wajar jika Keisya marah, tapi terus-terusan menghindar nggak bisa menyelesaikan masalah.
Setelah Geril pamit pulang, Rangga bertekat ingin secepatnya menyelesaikan masalahnya dengan Keisya, gimana pun caranya
__ADS_1
*
Disinilah Rangga, di depan cafe, sambil nungguin Keisya pulang kerja. Begitu Keisya keluar dari cafe, Rangga seakan mendapat angin segar gadis yang selama ini menghindarinya kini ada di depan matanya.
"Keisya" panggil Rangga dengan sorot mata yang sulit di artikan. Aku mau ngomong sama kamu, sebaiknya kita memperbaiki semuanya Sya, bukan dengan cara kamu menghindar dari aku."
"Maaf... aku mau pulang, permisi." dengan suara yang berat dan sedikit bergetar.
Saat Keisya melangkah, Rangga dengan sigap menarik Keisya kedalam mobil, dengan kata maaf yang keluar dari bibir Rangga.
"Keisya please maafkan aku? aku akan bertanggung jawab Sya," Rangga pun menepikan mobilnya dan berbalik menatap Keisya dengan tatapan sendu sambil menggenggam tangan Keisya.
Keisya yang di tatap nggak berani menatap balik netra Rangga, Keisya hanya diam dengan berlinang air mata.
"Mas please, jahui saya anggap aja nggak ada apa-apa di antara kita," sambil sesenggukan Keisya berusaha untuk mengatur nafasnya.
__ADS_1
"nggak Sya, gimana bisa kamu berkata demi kian, gimana kalau kamu hamil? kamu mau anak kita kaya Andra yang ngga pernah ngerasain sosok papinya heemm?
Keisya semakin bingung, apa mungkin dia akan hamil? dan gimana nasib anaknya nantinya, begitu pilunya nasib Andra yang tanpa papi, harus selalu iri melihat teman seusia dirinya yang memiliki orang tua yang lengkap, dan haruskah itu terjadi lagi pada anak kandungnya kelak, jika benar adanya dia hamil? Keisya tanpa sadar geleng-geleng kepala.
Rangga yang melihatnya pun merengkuh Keisya kedalam pelukannya, sampai Keisya benar-benar merasa nyaman dan kembali rileks.
"Sya kamu maukan jika kita nikah?" Rangga yang melihat anggukan Keisya pun semakin mengeratkan pelukannya dan memberikan kecukupan sayang di kening Keisya.
"Mas jangan senang dulu, karena aku melakukannya untuk anak kita jika memang aku hamil, karena aku masih benci pada kamu mas."
Mendengar perkataan Keisya yang mengatakan membencinya, membuat hati Rangga sedikit tergores.
"Aku akan membuat rasa benci kamu jadi cinta Sya,
dan aku akan membuat kamu bahagia sehingga kamu lupa bahwa kamu pernah membenciku."begitulah janji Rangga pada Keisya.
__ADS_1