
Dengan hati sekeras batu, Angkasa menuju lemari Pendingin dan mengambil air. ia tidak mau repot-repot membersihkan apa yang sudah diperbuat ayahnya. Cowok itu meneguk air yang ada di dalam botol hingga habis. Kepalanya terangkat bersamaan dengan jakun yang naik turun saat air Dingin mengalir di tenggorokannya. sensasi segar menjernihkan kepalanya
" Angkasa sini kamu, " Teriakan marah Hardi, ayahnya membuat Angkasa menoleh. Cowok itu meremas botol minumannya begitu keras hingga airnya naik dan jatuh ke tangannya. Botol yang dipegangnya sudah remuk dalam genggamannya. kali ini, Angkasa tidak boleh lari atau menghindar seperti yang sudah-sudah
" PAPA TAHU KAMU SUDAH PULANG KEMARI KAMU ANAK SIALAN, "
ayahnya masih berteriak. Angkasa menaruh tas sekolahnya di kursi meja makan, saatnya menghadapi kenyataan
Hardi tampak turun dari tangga rumah dengan berlari. Angkasa tahu saat-saat ini pasti akan terjadi Kepadanya. Hardi melempar berkas-berkas di lantai yang sudah Angkasa bakar hingga sisa setengah Angkasa juga yang sudah merusak sebuah Laptop dan Flashdisk Tempat Hardi menaruh segala data, berharganya
" Kerjaan kamu, kan, "
" iya ! kenapa, "
Plakkk
Hardi menamparnya. Tamparan yang sangat keras di Pipi Angkasa hingga menimbulkan bekas merah yang pasti tidak akan hilang Cepat. suasana langsung berubah sengit
" Dasar anak nggak tahu terima kasih sudah bagus saya kasih kamu uang Kenapa kamu bakar semua data-data di kantor saya, " Hardi mencengkeram jaket Angkasa. ingin menghajar anaknya, " Apa kamu enggak tahu kalau berkas dan data-data itu sangat Penting, bagi saya dan masa depan kamu, "
" Seharusnya Anda tahu alasannya Masa depan apa yang Anda bicarakan Semuanya omong kosong ! saya nggak butuh materi ! saya butuh keluarga saya balik seperti semula, " Angkasa menyahut dengan dingin. Lagi-lagi tamparan mengenai Pipinya. kedua tangan Angkasa mengepal di sisi tubuh. Tamparan kedua ini mengenai luka yang di sebabkan oleh Rio tadi, membuatnya, tambah berdenyut sakit. jauh dari dalam lubuk hatinya Angkasa terasa teremas karena hanya Angkasa selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Hardi
" Papa Cuma bisa nampar Angkasa kan Tampar aja lagi, P " Angkasa malah menantang, " seharusnya bukan berkas Papa yang Angkasa bakar, tapi rumah ini juga Biar Papa enggak bisa Pulang sama selingkuhan Papa itu, "
" Mulut kamu itu kurang ajar sekali, Angkasa ! saya bisa bangkrut kalau kamu terus-terusan berlaku seperti ini anak bodoh, "
Angkasa diam, " Oh iya ? Terus apa yang Anda lakuin Pesta miras sama temen-temen Anda di rumah ?
" ini rumah saya ! saya bebas melakukan apa pun di sini, "
" INI JUGA RUMAH SAYA ! kalau anda lupa saya hidup dan besar di rumah ini juga, " Angkasa melepaskan tangan Hardi dari jaketnya dengan kasar lalu menatapnya dengan sinis " JANGAN PERNAH ANDA SENTUH SAYA, KARENA SAYA ITU JIJIK DENGAN ANDA,"
" keluar dari kamu rumah saya ! saya enggak mau lihat muka Anda, lagi Pak Hardi yang terhormat, " Angkasa berbicara dengan suara formal
" Kamu ngusir saya, ! tanya Hardi tak Percaya
" Kenapa memangnya, " Angkasa dengan berani menantangnya, " saya juga anak laki-laki saya punya hak Penuh di sini selain anak kesayangannya Papa itu,"
Hardi mendekatinya. Membuka Paksa jaket Angkasa yang selama ini menjadi saksi kemenangannya dalam melawan musuh-musuhnya di luar atau di dalam sekolah. Tanpa banyak bicara Hardi melepas gespernya. ia sudah melihat bercak-bercak darah di seragam Angkasa
" KAMU BERANTEM LAGI ANGKASA, "
" Bukan Urusan Anda, "
" Dasar anak Tukang malu-maluin Keluarga ! Kamu enggak pernah, mencontoh Bara Kakak Kamu itu saya menyesal telah membesarkan kamu, "
Hardi mendorong tubuh Angkasa Ke Pojok dekat lemari kaca. suara lecutan gesper membuat Angkasa hendak melarikan diri, Tetapi Hardi menahannya dengan menginjak seragam Angkasa menggunakan kakinya
Lecutan pertama di Punggung membuat Angkasa memejamkan matanya. ia mengunci mulutnya rapat-rapat karena rasa sakit dan Panas menjalar di Punggungnya. seluruh syarafnya berteriak kesakitan. Lecutan-Lecutan yang datang terus menerus membuat Angkasa memejamkan mata. Hanya kedua tangannya yang di gunakan Cowok itu sebagai perisai dari amukan ayahnya
" Sudah Puas Anda nyakitin saya Pergi dari sini saya enggak suka rumah saya diinjak Orang seperti Anda ! Tatapan Angkasa bercampur antara benci dan dendam. Hardi lalu membuang gesper miliknya di lantai. ia mengambil kunci mobilnya di atas meja ruang tamu lalu keluar rumah
setelah Hardi Pergi, Angkasa menarik jaketnya. Cowok itu menggunakannya dan bersandar di lemari dengan keringat yang mulai mengucur. saat punggungnya menyentuh lemari, rasa nyeri membuatnya meringis. Angkasa berdiri dengan susah Payah. ia melihat assisten rumah tangga mendatanginya dengan cepat-cepat dari balik kamarnya. Angkasa tahu pembantu rumah tangganya itu menonton kejadian Tadi dari awal sampe akhir, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain takut dipecat.
" Den, Angkasa ! Aduh Den Luka Aden harus segera di obati, Ayok Bi Asri Obatin"
Keduanya matanya berkaca-kaca melihat keadaan Angkasa yang hanya diam saja dengan wajah Lelah. Cowok itu menggeleng, " Nggak Usah, Bi "
" Ayok Den, duduk dulu biar Bibi ambil air Putih buat Aden, dulu, "
Perhatiannya membuat Angkasa membiarkan wanita itu. Angkasa duduk di sofa dan kembali meringis karena Punggungnya terasa sangat Panas. Punggungnya pasti merah-merah
__ADS_1
Angkasa mengerutkan kening karena ada api dan asap di Taman belakang rumahnya. kedua mata Angkasa seperti Elang yang di mendapatkan mangsanya. ia langsung berlari menuju taman belakang dan terpaku melihat baju-baju sekolahnya yang hampir ludes oleh api
" Berengsek, "
Cowok itu menuju ke tengah dan seketika terduduk lesu di kursi taman rumahnya melihat baju-baju sekolahnya dan sepatunya habis terbakar
" Den, Bibi minta maaf, Bibi cuma bisa ambil beberapa baju sekolah Aden Bibi enggak berani berbuat banyak ke Tuan Hardi, Maaf, Den, Maaf, " Bi Asri sudah berdiri di sebelahnya tetapi Angkasa tidak menjawab, Bi Arsi menatap Angkasa khawatir karena Angkasa tak mau membagi kesedihannya
" Bi, Tinggalin saya sendiri , Angkasa mau sendiri, "
Saat mengucapkannya, Angkasa tidak mau memandang Bi Asri, Bi Arsi yang semulanya tidak mau akhirnya mengalah demi ketenangan Angkasa. Wanita itu menaruh segelas air putih di samping Angkasa dan meninggalkannya dengan Pandangan iba
Angkasa menatap hampa baju-baju sekolahnya yang sudah terbakar. Kedua tangannya terkulai lemas. kejadian ini tidak akan terjadi kalau orangtuanya nggak bercerai. kejadian ini tidak akan terjadi kalau saya ibunya tidak berselingkuh. kejadian ini tidak akan terjadi kalau saja ayahnya tidak ikut-ikutan bermain dengan banyak wanita untuk melupakan bayang-bayang ibunya. Kejadian ini tidak akan terjadi kalau saja Angkasa tinggal bersama Saphira ibunya.
Bagaimana bisa ayahnya tega membakar baju-baju sekolahnya Bagaimana bisa Ayahnya tega membakar harapan-harapan kecil Angkasa. Mimpi-mimpi yang dimulai dari sekolah yang bahkan belum terwujud ?
Satu, nama di terlintas di benak Angkasa
Bara. Cowok itu tidak Pernah merasakan apa yang Angkasa rasakan seperti ini ?
...••••...
" DEMI APA KEMARIN ANGKASA NOLONGIN LO, " Amanda yang baru saja datang ke sekolah dan masuk ke dalam kelas langsung mengejutkan Bulan dengan Pertanyaannya. Dengan nada yang terbilang keras dan terang terangan, Cewek itu mampu membuat mereka jadi objek Pandang mereka menjadi objek Pandang beberapa orang yang ada di keras
" Ih Bulan bener, Lo ditawan sama anak-anak the Clam geng SMA Ganesha kemarin, "
" Jawab dong Bulan ! jangan diem aja gue kan Penasaran, " Amanda mengguncangkan- guncangkan badan Bulan Cukup keras.
" Amanda, suara Lo ," Bulan terdengar memelas sifat Amanda yang ini terkadang membuatnya malas
" Eh, Sorry gue nggak bermaksud, " Perempuan blasteran Australia Indonesia itu tersenyum tak enak kepada Bulan setelah menyadari kesalahannya, " Jadi, Bener, Bulan, " tanyanya lagi. kali ini dengan nada Pelan
" iya seperti yang Lo dengar, "
" Gue enggak mau inget kejadian kemarin. Gue nggak mau deket dia lagi,"
" Lo, Kenapa, "
" Ya Lo tanya lagi alasan kenapa, Amanda Coba Lo Pikir sendiri aja, " kata Aluna yang baru saja duduk di sebelahnya. sementara Loli duduk di sebelah Bulan
" Tahu, ah jangan bahas tuh Orang nggak Penting, " Bulan melempar Pandangan ke arah Pintu kelas dan melihat gerombolan lelaki itu datang.
" Ya ampun Angkasa Ganteng banget " Aluna memuji laki-laki itu, " APALAGI SAGARA, " ia melanjutkan dengan Teriakan kencang sambil cengengesan
" Ya elah Sagara melulu, " Amanda memutar kedua bola matanya Aluna selalu membahas tentang Sagara setiap kali berkumpul
" Nih ya gue bilangin, kakeknya Angkasa tuh kaya banget Terus kata Bokap gue, kakeknya itu sayang banget sama si Angkasa cuma Angkasa aja nakal ! Loli bercerita
Bulan menoleh lagi Pada Pintu kelas dan ternyata gerombolan Angkasa sudah menghilang.
...••••...
Toilet Perempuan sedang sepi, Begitu Bulan masuk, ia lantas Terkejut seseorang sedang memungunginya. Bulan terpaku dengan mulut setengah terbuka. Hal ini karena cowok yang ada di hadapan Bulan sedang tidak memakai baju !
Apa Bulan salah Toilet
Tidak salah. ini kan Toilet Perempuan. kenapa dia ada di sini ? yang membuat Bulan meringis ngilu, ikut merasa ngeri dan sakit menatap garis-garis Panjang merah yang terbentang di Punggungnya
" EH, LO NGAPAIN DI TOILET PEREMPUAN,"
__ADS_1
" Lo ngapain di sini, ? tanya Angkasa setelah mendengar teriakan Bulan
" Harusnya gue yang tanya ! Lo ngapain di sini, "
" Menurut Lo gue ngapain di sini, Kepo banget sih jadi Perempuan " Angkasa malah balik bertanya ketus. ia menggunakan kembali kaus Putih Polosnya lalu memasang seragam sekolah yang sempat Angkasa karena ada darah di kerahnya Dia sama sekali tidak memasukkan seragamnya di celananya
" Punggung Lo kenapa merah-merah, "
" Bukan Urusan Lo, " Angkasa berkata dingin. ia lalu mempercepat gerak Tangannya agar selesai membasuh wajah. Bulan sempat mendengar rintihan Pelan keluar dari mulutnya. Angkasa lalu keluar meninggalkan Bulan tanpa mengucapkan apapun. Bulan berjalan kr pintu kamar mandi. ia menyembulkan diri dari daun Pintu melirik kamar mandi laki-laki Rupanya sedang ramai. Mungkin itu sebabnya Angkasa masuk ke dalam toilet Perempuan
Bekas luka di Punggung Angkasa bukannya bekas cambuk ? Dia di cambuk siapa
...••••...
Angkasa sedang bersandar di dinding dekat kelasnya. ia sedang menunggu jam pelajaran di mulai bersama teman-temannya. seorang memanggilnya Mereka menoleh dan menemukan Perempuan berambut cokelat. Ternyata Perempuan itu baru saja tiba di sekolah Para lelaki yang berada di dekat Angkasa menyapa Kirana dan menggodanya, tetapi Kirana sama sekali tidak menanggapinya
" ini Pasti gara-gara kemarin ya Angkasa, Ya ampun Angkasa " Tanya Kirana. Cewek itu mengulurkan tangannya menyentuh luka lebam yang ada di sudut mata Angkasa, tetapi Angkasa dengan cepat menurunkan uluran tangan itu, Tidak kasar, tetapi cukup menunjukkan bahwa Angkasa tidak mengharapkan Kirana bertindak demikian
Kirana menghela nafasnya, saat tahu Angkasa menolaknya secara mentah-mentah. Angkasa bahkan mengalihkan Pandang ke samping
" Udah diobatin, "
" Hmm, Udah " Angkasa bergumam
" Kenapa sih Lo terima ajakan mereka buat berantem Memang mereka suka cari masalah, jangan diladenin, Ntar malah makin seneng, Angkasa "
Angkasa sama sekali tidak mendengarkannya. Pikiran saat ini berkelana Pada Bulan. Bulan Yakin bahwa perempuan itu akan tutup mulut dengan apa yang telah ia lihat. kalau tidak, lihat saja apa yang akan terjadi Kepadanya
" Angkasa, " Kirana memanggilnya dengan lembut ketika Angkasa tidak beraksi sama sekali. ia malah Melirik Bima yang menampilkan muka Cemburu, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. sudah jadi rahasia umum kalau Bima tergila-gila dengan Kirana
" Mending Lo balik ke kelas aja Kirana, gue nggak apa-apa " Angkasa mulai jengah dengan Perempuan yang ada di depannya
Roni yang berdiam jauh di depannya memanggil Kirana, " Kalau Angkasa nggak mau sama Lo Mending sama Abang aja, Abang akan setia sama Lo deh, "
" Apa-apaan sih Roni, "
Kirana berbalik lalu berjalan menuju kelasnya membuat Angkasa Terkekeh melihat cara Roni mengusir Kirana
...••••...
Sekarang. Angkasa melihat dari kejauhan ia sedang membawa tumpukan buku-buku. Cewek itu tampak kerepotan sendiri. Dylan dan Roni sontak saling Pandang seakan berkata dalam diam, " Lo sepemikiran sama gue,"
Angkasa sendiri pun tampak cuek ia hanya mengamati Bulan Tidak berniat membantunya
" Eh, Neng Bulan Kata Abang Angkasa kangeen Neng, " Celetuk Roni membuat Angkasa mengerutkan keningnya. Dari jauh Angkasa tampak hendak memberi perhitungan Kepada Roni yang sekarang mengabaikannya
" Katanya kemarin pelukannya kurang kenceng, " kata Dylan bercanda
" Dylan, " Angkasa geram. hanya Sagara yang bisa mendengarnya karena ia berada tempat di samping Angkasa. wajah Cowok itu mulai datar sedatar-sedatarnya
Tetapi temen-temennya yang lain malah ikut-ikutan menggodanya, " Eh Angkasa bantu Napa sih ! Katanya kangen Ntar kalau Bulan lewat Lo malah Nyesel nihhh, " kata Leo
" Gak usah Fitnah Lo, " Ujar Angkasa
" Lo emang nggak Peka, Angkasa Gue sih Pengin bantu. Dengan senang hati malah ! Tapi sayang gue bukan tipe tikung, " Bima Pun ikut-ikutan
" Tikung apa Lo, " Tanya Leo
" Tikung Punya temenlah, Ya, gak Angkasa, "
Apa-apaan sih batin Bulan
__ADS_1
Angkasa hanya diam tidak Meledani temen-temennya. saat Bulan melewatinya Pun Angkasa hanya memandangnya dan Bulan juga melewatinya seperti biasa. mereka seolah tidak Pernah kenal meski kejadian kemarin tidak Pernah akan terlupakan