Kisah Untuk Sagara & Angkasa

Kisah Untuk Sagara & Angkasa
BAB 82 Permintaan maaf


__ADS_3

BULAN, menghela nafas. ia lalu menundukkan kepalanya dalam gelungan kedua tangan yang bertumpuk di atas meja, Hari ini terasa begitu berubah segalanya jungkir balik. Biasanya jika Bulan datang dan berada di lorong sekolah lalu berpasasan dengan Angkasa, Cowok itu Pasti akan langsung menyapa atau menghampirinya. Namun, tadi tidak begitu. Angkasa mundur dan mulai menjauh Cowok itu bahkan tidak mau memandangnya. semuanya memang salah Bulan. Bulan Pun menyadari semua ini karena perbuatannya. kepercayaan Angkasa telah hilang sejak kejadian kemarin.


...David Mahendra...


...sorry Bulan buat yang kemarin Gue nggak duga kalau Angkasa benar-benar marah sama Lo...


...Bulan...


...enggak apa-apa David ini salah gue...


Biasanya Angkasa-lah yang bertanya demikian Padanya. Perempuan itu melirik ke kanan dan melihat Cowok-cowok kelas XII IPA 5 sedang berjalan di lorong.


mereka menarik minat Bulan karena Angkasa ada di depan cowok itu selalu ada di depan. Memimpin Tidak pernah ada di belakang Lagi pula, mana ada murid SMA Arwana yang tidak segan Pada Angkasa ? Dari awal cowok itu memang sudah punya nama yang bagus Sejak tahun lalu ketika ia dikabarkan oleh murid-murid yang lain sebagai Pengganti Adit menjadi ketua Tiger


Bulan mendekatinya. ia tahu bahwa kali ini Bulan sudah sangat nekat menghampiri laki-laki itu atas apa yang terjadi. Mereka semua berhenti dekat tangga sekolah. Bulan melihat Angkasa mau menaiki tangga Pun mendekatinya


Dylan yang melihat Bulan Pun berbisik kepada Angkasa yang ada di sebelahnya itu, " Bulan tuh, Angkasa, "


Angkasa langsung refleks menoleh ke samping, tetapi hanya sebentar setelah ia melihat senyum sendu Bulan, Angkasa malah memalingkan wajahnya dan berjalan menaiki tangga


" ANGKASA, " Bulan menerobos banyaknya teman Angkasa yang berjalan di belakang cowok itu untuk sampai kepadanya


" Angkasa, "


Angkasa tetap mengabaikannya Cowok-cowok itu menatap Angkasa dengan pandangan kasihan Bulan juga tidak berhenti. ia menarik seragam sekolah Angkasa hingga cowok itu berhenti. orang-orang yang berjalan di belakangnya ikut berhenti


" Bisa ngomong sebentar enggak ? Tanya Bulan. Angkasa tanpa menoleh melepaskan tangan Bulan dari seragam sekolahnya lalu kembali berjalan


" Angkasa, "


Angkasa juga tidak berhenti Leo menyuruhnya Angkasa untuk berhenti dan mendengarkan perempuan itu, tetapi Angkasa masih tetap sama ia tidak terpengaruh. keras kepalanya Cowok itu memang tidak akan pernah bisa diubah. barulah Bulan menghadang jalannya cowok itu menatap Bulan


" sebentar aja, " Bulan meminta dengan nada memohon tetapi Angkasa malah Melirik Leo, " Tolong, Gue cuma mau nyelesain masalah, "


" Minggir Lo jangan ngehalangi jalan, gue " Kata-kata bernada sinis itu terdengar di telinga Bulan yang membuat perempuan itu tampak terkejut, " Enggak usah merasa sok Penting, " hati Bulan langsung mencelos mendengarnya


" Tapi ini Penting bagi gue, Angkasa Gue selalu berusaha buat ngomong sama Lo, tapi Lo malah ngejauhin gue, Gue mau ngejelasin ke Lo. sebentar aja setelah gue jelasin, gue Janji enggak maksa Lo lagi, "


Angkasa tidak juga memberikan kesempatan. ia tetap berlalu dari hadapannya tanpa mendengarkan lagi kata-kata yang keluar dari Bulan. Teman-teman Angkasa Pun melewati Bulan, meninggalkannya dalam diam diiringi tatapan iba

__ADS_1


...••••...


Angkasa melihat Bulan duduk di depannya. Perempuan itu mengabaikan tatapan Teman-teman Angkasa. Bulan membawa satu mangkuk bakso dan duduk diapit oleh jackie dan Sagara


" Boleh gabung, kan ? Tanya Bulan, tetapi tidak ada menjawab di sebelah kiri ada Kirana, Marissa dan Zaskia yang memandang perempuan itu dengan tatapan tidak suka karena telah menghancurkan suasana ramai di meja Tiger.


Mereka semua terdiam Tidak ada yang bersuara. Bulan tahu kesalahan terbesarnya adalah ikut bergabung makan di sini sekarang, Bulan merasa seperti makhluk Paling asing di antara mereka semua


Bulan menatap Angkasa. berharap laki-laki itu mau menyadari kehadirannya di sini. Namun, Angkasa masih tetap mengabaikannya Padahal Bulan sempat melihat bahwa laki-laki itu terkejut karena Bulan berani Duduk bersama mereka


" Enggak tahu diri banget sih Lo Ngerusak suasana Ngapain Lo dateng ke sini Enggak ada yang mau Lo duduk di sini, " Perkataan Kirana yang menyakiti hati Bulan sanggup membuat kepala menoleh kepadanya


" Kirana, " Bima menegurnya, Tetapi Kirana masih terus berkata-kata pedas Pada Bulan


" apaan sih Bim Nih cewek emang harus digituin biar dia nyadar kalau dia enggak bisa seenaknya sadar diri dong Lo, Modd makan gue jadi hilang gara-gara Lo, "


" Gue ... " Bulan mengangkat Pandangannya. ia melihat Angkasa hanya diam. Perempuan itu merunduk makin merasa harapannya untuk memperbaiki kesalahannya sangat kecil. Bulan tidak menyelesaikan perkataannya. Tanpa membuang waktu Bulan berdiri dan berniat Pergi dari sana


" Sorry karena gue ganggu, " Bulan tidak berani menatap siapapun. perempuan itu pergi dari meja Tiger menuju Pintu kantin.


Beberapa detik setelahnya, Angkasa berdiri. laki-laki itu tidak makan lagi. Cowok itu Pergi, mengabaikan Panggilan dari Dylan, Namun Angkasa tidak mengejar Bulan Angkasa Pergi ke arah lain


...••••...


" Lemes banget, karena Angkasa ya,"


Bulan Tersenyum tipis membalasnya, ia memaksakan diri, " Gue mau masuk kelas dulu, Enggak apa-apa kan, "


" Oh ya, Gue juga mau masuk kelas, " balas David, " Ya udah Lo masuk kelas aja,"


setelah Bulan masuk kelas. melalui jendela kelasnya, Perempuan itu menemukan Angkasa sedang memandangnya lalu Pergi menuju ke belakang sekolah


" Lo sakit Bulan ? Badan Lo Panas banget," Tanya Aluna Pada Bulan karena sejak Pelajaran tadi Bulan hanya tidur dan terlihat mengantuk Bulan menggeleng Padanya sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Bel sudah berbunyi sejak dua menit yang lalu


" Buru-buru banget, Bulan mau ngapain,"


" Gue duluan, ya, " Bulan memilih tidak membalas Aluna, Amanda dan Loli memandangnya lalu membiarkan Bulan Pergi dengan berlari-lari di lorong sekolah


saat Bulan tiba di tempat Parkir yang Ramai. Cowok-cowok berjaket hitam terlihat di sana. Mereka baru saja tiba yang membuat Bulan menghela nafas karena tidak terlambat. Bulan harus menjelaskan secepatnya kepada Angkasa agar masalah ini tidak harus berlarut-larut

__ADS_1


" Angkasa, " Bulan memanggil sehingga Angkasa yang baru saja mau mengeluarkan sepeda motornya memandang perempuan itu, " Boleh bareng enggak ? Gue enggak ada yang jemput hari ini. Cuma hari ini aja kok, Boleh ya, "


" Kak Angkasa jadi enggak Tumben nih ngajakin Pulang bareng, "


Bulan menoleh Pada Marissa. adik kelasnya itu menghampiri Angkasa dengan wajah senang. Bulan memandang Angkasa agar Angkasa menjelaskannya secara langsung apa maksud dari Perkataan Marissa meski Bulan sudah tahu artinya


" Gue udah sama Marissa, " jawaban Angkasa membuat Bulan terdiam lama menatapnya. Perempuan itu menggigit bibir dalamnya menahan perasaannya sendiri ketika mendengar Angkasa mengatakan itu


sementara di lain Pihak, Angkasa masih bersikap tak acuh meski ia tidak bisa mengabaikan Tatapan Bulan. tatapan Bulan yang memiliki banyak arti itu sulit Angkasa jelaskan sehingga mengganggu Pikirannya


" Oh gitu yaudah gue bisa nyari angkot aja, Sorry ya, Angkasa, " setelah mengucapkannya, Bulan mundur dengan perlahan. ia membiarkan Marissa mendekati Angkasa perempuan itu berjalan dengan lesu di pintu gerbang sekolah ia sama sekali tidak menoleh ke belakang


Beberapa menit kemudian, motor Angkasa dan teman-temannya terlihat keluar dari gerbang sekolah, mereka sempat berpencar Cowok itu terlihat sudah membonceng Marissa. Bulan sempat melihat Angkasa meliriknya, tetapi perempuan itu memilih menundukkan kepalanya. ia berusaha tidak menganggap kejadian ini ada meski Perasaan sedih menyelimuti hatinya


Angkasa sedang mengendarai sepeda motornya melewati SMA Arwana. ia melihat seorang Perempuan berdiri sendirian di pagar sekolah dengan tatapan hampa. Angkasa membuka kaca helmnya Angkasa tidak salah lihat cewek itu Bulan.


Dua jam ? di sini


Angkasa menghampiri. Bulan yang mendengar suara sepeda motor yang sangat kenal itu mengangkat wajahnya dan menemukan Angkasa berdiri di depannya


Bulan kaget, tetapi berusaha untuk tersenyum untuk menutupi apa yang ia rasakan sekarang, Bayangan Angkasa mengantar Marissa Pulang terus muncul di kepalanya


" kok Lo bisa di sini Angkasa, Bukannya Lo udah Pulang dari tadi, " tanya Bulan mencoba tidak ada masalah di antara mereka. laki-laki itu tidak menjawab Perkataannya membuat Bulan menelan ludahnya karena takut saat Angkasa memandangnya seperti itu


selama beberapa detik, Angkasa juga tidak membalas Perkataan Bulan, Cowok itu malah memandang Bulan dengan tatapan dingin


" kebetulan gue mau ke Cafe, " kata Angkasa, " Dua jam Lo nunggu di sini Kenapa belum Pulang, " tanyanya dengan suara yang masih dingin seperti tadi. ada selipan nada khawatir di suaranya yang membuat Bulan tahu Angkasa masih Peduli kepadanya


" Enggak ada angkot yang lewat, " Ucap Bulan sambil berusaha keras menetralkan perasaannya sekarang Bulan malah ingin menangis, " Oh mau ke Cafe Jangan lama-lama inget Pulang,"


" Ayo Pulang, " Ajakan Angkasa membuat Bulan terkejut menatapnya, " Naik, "


Bulan tidak melakukan apapun kedua matanya sudah tergenang air mata tetapi ia tidak mau Angkasa melihatnya, Namun Angkasa melihatnya.


" Naik, " Suruhan singkat yang tegas membuat Bulan mengikutinya. Perempuan itu naik ke sepeda motor Angkasa Namun seperti ada jarak di antara mereka Padahal mereka masih pacaran.


samar-samar Angkasa mendengar Bulan berujar Pelan di belakang Punggungnya, " Angkasa gue minta maaf, "


" Gue udah maafin Lo, Tapi sorry Bulan Gue udah enggak Percaya sama Lo,"

__ADS_1


__ADS_2