
-temannya, melakukan apa yang sudah mereka Persiapkan sejak Sabtu sore lalu.
" Gue kira enggak Lo terlambat juga, Angkasa, " Ucap Roni mundur dan berbaris di sebelah Angkasa saat Pak Handoko tak melihatnya
Angkasa berdesis tidak suka, " ssst diem Lo, "
Roni cengengesan di sampingnya. ia melihat Angkasa memperhatikan Bulan dalam-dalam, " Lihat benderanya Angkasa bukannya Bulan, "
Angkasa tidak membalas. Cowok itu memberi hormat saat aba-aba hormat terdengar lewat Pengeras suara sekolah oleh Austin. Lagu Indonesia raya terdengar bahkan adik-adik kelas perempuan yang berdiri di depannya ikut bernyanyi meski dengan suara kecil
Upacara berlangsung Cukup lama. setelah selesai, Angkasa masih bisa melihat Bulan sudah di tempatnya semula. Bendera yang dia bawa sudah berada di atas sana tepat di ujung tiang. Cantik satu kata yang terbentuk di kepala Angkasa saat melihat Bulan berpakaian Paskibra
" Yang baris di sini maju kalian, "
Angkasa Terkejut karena Pak Handoko dan Bu Maya langsung menyuruh mereka semua untuk maju. ini sama saja mempertontonkan mereka. Pak Handoko menuju ke arah Angkasa menarik cowok itu agar keluar dari barisan karena melanggar terlalu banyak
" kamu ini mau sekolah atau mau jadi Preman, " Tanya Pak Handoko, " Topi kamu mana, "
" Hilang Pak, di sekolah, " balas Angkasa
" Gimana bisa hilang, "
" Saya enggak tahu Pak hilang di mana"
" Tapi kan kamu bisa beli lagi, " Pak Handoko mengomel. ia semakin emosi melihat tingkah Angkasa yang Santai-santai saja di depannya, " Kamu itu bikin saya naik darah terus, "
" Kenapa kamu terlambat, " Tanya Pak Handoko
" jagain Papa saya di rumah sakit kemarin. Baju saya masih di rumah jadi saya terlambat, "
" Angkasa ... Angkasa !" Pak Handoko sampai menahan nafas, marah bercampur geregetan, " Sampai kapan kamu kayak gini ? Jongkok ! jalan jongkok keliling lapangan sampai dua Puluh kali, "
Angkasa awalnya mau Protes, tetapi ia akhirnya menurut untuk berjongkok. Pak Handoko menyuruh kedua tangan Angkasa berada di telinga. Hanya Angkasa yang dihukum seperti itu. Cowok itu melakukannya tanpa malu. Amanda menggeleng-geleng melihat Angkasa melewati ring basket dengan berjongkok
" Gila si Angkasa Putus kali ya urat malunya, " Amanda masih memperhatikan Angkasa Sementara Bulan hanya menanggapinya biasa saja. disampingnya, Harusnya Bulan menuju kelasnya sekarang karena Para murid sudah membubarkan diri
" Lo enggak kelas Bulan ? Atau naruh Peci ke ruang OSIS bareng gue, " Kata David
" Gue titip ke Lo aja ya, David Enggak enak juga gue sama anak OSIS kalau gue ke sana. Gue ntaran aja ke kelasnya, " Bulan melepas Peci dari sekolah yang sedang ia kenakan dan memberikannya kepada David. David hanya menyahut seadanya Cowok itu lantas Pergi
Teman-teman Angkasa masih setia. duduk-duduk di dekat Pohon sambil melihat Angkasa menjalani hukumannya. Angkasa sudah berhasil menuntaskan hukumanya lebih cepat karena dia juga kelelahan Cowok itu memberi tahu Pak Handoko. Guru itu sedang mencatat namanya di daftar murid terlambat
" Bapak enggak mau tahu kalau besok kamu enggak berubah Bapak Panggil orangtua kamu, " Setelah mengancam Pak Handoko Pergi, Angkasa langsung duduk di tengah-tengah lapangan. seragamnya benar-benar basah oleh keringat
__ADS_1
" Emang Pilih kasih itu Guru masa Lo doang yang dihukum sementara Aldi enggak, " Ucap Roni setelah Angkasa memilih tempat untuk duduk di samping Teman-temannya, " Tuh Cowok kan juga terlambat, "
" Udahlah Roni kayak enggak tahuu Pak Handoko aja Lo, Ron. " Angkasa tidak mau membahas
" Tuh guru dendam kesumat kali sama Lo , Angkasa makannya tuh guru cuma ngehukum Lo aja, " Leo bertanya, " Capek, gak, "
" Gue kan kuat, Gak kayak Lo, "
Leo tertawa geli, " Waduh, Angkasa. Masih Pagi, Angkasa jangan mancing gitulah, " balas Leo bercanda karena ia tahu Angkasa hanya bercanda Dia bukan lagi remaja labil yang baper-an
" Ada yang lihatin tuh, Angkasa, Bulan, Cieee, " Ucap jackie dengan nada Panjang. Angkasa yang sedang mengusap keringatnya dengan tangan itu melihat dengan tangan itu melihat Bulan, Amanda dan Aluna masih berada di dekat lapangan
" Ngapain mereka masih di sana, "
" Nungguin gue dan Angkasa lah Lo enggak usah kegeraaan gitu, " kata Leo membuat jackie menoyor kepalanya
" Pede banget Lo ! Leo Protes, " Amanda nungguin guelah Gimana ceritanya bisa nungguin Lo Ngayal Lo ketinggian tong,"
" iya,iya Amanda Mulu sampe mabok,"
" Bulan, sini dong, " Teriakan Dylan membuat Angkasa menatapnya dengan tanya
Bulan menunjuk dirinya sendiri lalu bertanya, " Gue, "
" Ngapain, " Tanya Angkasa sewot kepada Dylan
" Udah Lo diem aja, "
Setelah disuruh temen-temennya dan diantar Amanda serta Aluna, Bulan menuju mereka. perempuan itu menatap Dylan dengan Pandangan tanya Dylan melirik Angkasa sebentar
" Nih Bulan, Bos gue katanya minta foto bareng Ayo Angkasa, kan udah gue Panggilin , " Senyum Dylan benar-benar menyebalkan di mata Angkasa. sementara Teman-temannya hanya memperhatikan ulah Dylan
" Gue enggak Pernah ngomong kayak gitu, " Angkasa enggan menatap mereka
" Enggak usah malu-malu gitu Angkasa. kalau masih sayang bilang aja, "
" Ayo, Bulan ! Foto doang kok enggak aneh-aneh Tapi jangan deket-deket Angkasa karena Angkasa keringatan. Bau,"
" Dylan doang emang, " Bima geleng-geleng kepala membiarkan Dylan jadi makcomblang dadakan
" Eh ? Apa ? foto, " tanya Bulan
" iya Bulan foto Sama Angkasa, "
__ADS_1
" Engg ... "
Bulan berdiri sebelum Bulan menyelesaikan Ucapannya. laki-laki itu menarik seragam Angkasa agar cowok itu berdiri di samping Bulan sementara Amanda dan Aluna tahu diri langsung menyingkir. Dylan menoleh ke belakang
" Pinjem hape, dong, "
Sagara memberikan Ponselnya kepada Dylan, " Wow. Hape mahal kameranya bening banget, " katanya lagi
" Dasar katrok, " Bima berseru
" Lo mau fotoin orang aja enggak modal, Lan, "
" Bukannya gitu Leo Hape gue kan masih ada di Loli, "
" Alasan aja Lo, "
" Nah gitu, " Dylan kembali memusatkan diri kepada Angkasa dan Bulan, " Deketin dikit. Gak kelihatan di sini, "
" Senyum anggap aja Lo kasih gue kenang-kenangan, " Angkasa Berbisik kepada Bulan. Perempuan itu menoleh karena Angkasa merangkulnya Laki-laki itu tidak lagi berbicara dan tersenyum menghadap ke depan. Bulan ragu akhirnya melakukan hal yang sama, menatap kamera dan tersenyum kecil. Bukan senyum senang melainkan senyum terpaksa
Dylan mengabdikan gambar, " Nih udah Angkasa. Coba gue yang ngefotoin orang Pasti bagus hasilnya. Coba orang lain yang ngefotoin gue. Mana Pernah bagus hasilnya, "
" Lo Curhat Lan, " Tanya Sagara
" Makasih Bulan Natasha, " Angkasa berterima kasih kepada Bulan. Pandangan yang diberikan Angkasa tidak main-main Ada keinginan besar untuk memiliki lagi meski Bulan tidak ingin Menatapnya. mungkin karena malu atau memang sudah tidak mau melihatnya lagi
" Gue mau ke kelas dulu, " Bulan selalu merunduk ia langsung Pergi mengabaikan Aluna dan Amanda yang mengejar sambil memanggilnya
...••••...
Bel-bel tiap Pojok berbunyi. Pulang sekolah kali ini sangat mencekam. setelah Bulan keluar kelas dan mau menunggu di depan sekolah. Ramainya motor anak-anak Tiger muncul dari belakang sekolah menuju jalan raya. mereka semua bergerombol lengkap dengan jaket Tiger. Salah satu dari mereka membawa kayu Tinggi dengan ikatan Putih lebar dengan bertuliskan TIGER sebagai suatu ciri khas atau tanda akan terjadi sesuatu yang berbahaya
jantung Bulan berdegup kencang. Mata semua orang memandang mereka jalanan pun jadi macet seketika karena mereka. Bulan dapat melihat Angkasa membonceng Bima yang sedang membawa bendera Tiger tersebut.
Loli terlihat berlari menuju ke luar sekolah dengan nafas ngos-ngosan. perempuan yang sedang menggenggam Ponselnya itu sama dengan Bulan shock. Loli membaca Pesan Dylan, ia Loli tidak bisa mencegah karena kelasnya Pulang terakhir.
kepalanya bergerak mengikuti tiap motor menuju ke arah yang Loli tahu. jalan itu membawa mereka ke suatu tempat. sebuah tempat yang menjadi musuh besar Tiger selama ini
" Loli mereka kenapa, " Tanya Bulan
" Mau tawuran, "
" Di mana, " Bulan Panik
__ADS_1
" Di SMA Ganesha, "