
Eva meluapkan amarahnya dengan melempar buku-buku di dalam kamar. Kebenciannya terhadap Dewi semakin membara hingga membuat dadanya panas. Keberuntungan yang didapat Dewi secara bertubi-tubi membuat Eva tidak bisa membendung lagi rasa iri dengkinya. Ia tidak pernah merasa sekalah ini terhadap seseorang. Apa yang Dewi dapatkan sekarang membuat Eva kehilangan akal sehatnya.
“Kamu merebut Fadil, menggantikan posisiku di debat, beasiswa dan Bang Reja pun memutuskanku semua gara-gara kamu. Aku bersumpah akan membalas lebih dari yang kamu lakukan padaku saat ini.” Suara petir bersahutan di luar sana lalu tidak lama kemudian hujan deras pun turun dengan derasnya.
Hari berlalu dan waktu berkumpul ke empat sahabat itu pun semakin jarang karena Dewi sibuk mengejar SKS di semester lanjut. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Dewi tetap mengikuti prosedur untuk mendapatkan beasiswa S2nya. Minggu depan, Dewi harus mengikuti ujian TOEFL yang akan selenggarakan di sebuah universitas negeri di luar kota. TOEFl di sana sudah diakui dunia international sehingga Dewi harus mengikuti ujian TOEFL di sana.
Saat ini Dewi dilanda kebingungan karena dia tidak tahu harus memberikan alasan apa pada orang tuanya. Apalagi kepergiannya kali ini kemungkinan harus menginap semalam karena jarak rumah Dewi dengan kampus negeri tersebut lumayan jauh. Butuh waktu sekitar enam jam untuk sampai ke kota tujuan. Dewi juga butuh uang untuk biaya transportasi dan sebagainya. Orang tua Dewi pasti akan bertanya tentang tujuan kepergiannya dan kalau mereka tahu tentang usaha Dewi dalam mengurus beasiswa, mereka pasti akan marah.
“Berat banget hidup kayaknya ya?” sapa Ayi begitu tiba di kelas.
“Makanya bagi-bagi biar tidak terasa berat.” Sahut Rani.
Dewi dan Eva kompak terlihat lesu sejak tiba di kelas. “Yang satu urusan cowo yang satu urusan orang tua. Berat!” Seloroh Rani seraya menggeleng kepala.
“Ada apa dengan orang tuamu, Wi?”
Dewi langsung menatap Eva dengan tatapan penuh selidik. “Tidak ada. Memangnya kenapa?”
“Rani bilang kamu berurusan dengan orang tuamu. Makanya aku tanya ada apa?” ada niat terselubung di balik keingin tahuan Eva.
“Si De-“
“Udah beres, Guys. Aku sudah dapat duitnya.” Dewi memotong perkataan Rani.
“Dikasih? Apa juga kamu bilan-“
“Dikasih lah. Memangnya kalau bukan buat aku, buat siapa lagi duitnya mau diberikan?” lagi-lagi Dewi memotong ucapan Rani.
“Kalian ini kenapa sih?” Eva protes.
“Kamarin aku terkendala uang buat ikut tes TOEFL tapi sekarang sudah beres.” Jelas Dewi. Dia sudah bertekad untuk bicara sama Ayi dan Rani setelah ini. Dan untuk ke depannya, dia harus berjalan sendiri karena belum saatnya Dewi menceritakan tentang Eva pada mereka.
__ADS_1
Lain Dewi lain pula rencana di dalam benak Eva. Gadis itu sudah menyusun rencananya sendiri. Semingu kemudian, Eva menghubungi Rani dan Eva. “Jalan yok! Aku butuh healing nih.” Ucap Eva melalui sambungan telepon.
“Ada apa?” tanya Rani.
“Suntuk lagi banyak masalah. Ke pantai yok!” ajak Eva kembali.
“Ayi gimana?” Dia gak mau. Kita berdua aja.”
“Pantai mana dulu!”
“Pantai barat Paru.”
“Oke!”
Pantai Barat Paru terletak di bagian barat melewati kampung Dewi. Tentu saja maksud terselubung Eva tidak diketahui oleh Rani. “Eh, kok masuk ke rumah Dewi?” pertanyaan itu keluar dari mulut Rani saat motor yang dikendarai Eva memasuki halaman rumah Dewi. Di sana sudah ada kedua orang tua Dewi yang sedang bersantai di teras.
“Assalamualaikum,” ucap Eva penuh semangat. Kedua orang tua Dewi menyambut mereka senang. Setelah mencium punggung tangan orang tua Dewi, Eva langsung mengajukan pertanyaan yang membuat orang tua Dewi terkejut.
Bapak dan Ibu dari Dewi menatap satu sama lain kebingungan. Sementara Rani juga bingung dengan situasi ini. Dia tahu kalau Dewi pergi ke luar kota untuk mengikuti tes TOEFL. Rani sudah berjanji untuk tidak memberitahukan pada siapa pun termasuk Eva.
Tiga hari sebelum keberangkatannya, Dewi meminta Rani dan Ayi untuk bertemu tanpa sepengetahuan Eva. Dewi meminta mereka untuk tidak memberitahukan siapa pun tentang keebrangkatannya ke luar kota termasuk Eva dengan alasan malu.
“Jangan sampai ada yang tahu termasuk Eva. Aku malu kalau sampai tidak lulus dan berita tentangku sudah menyebar kemana-mana. Apalagi kalau Eva tahu, dia pasti akan menertawakanku. Aku mohon sama kalian, tolong jangan kasih tahu Eva dan yang lainnya ya!”
Rani dan Ayi menutup rapat mulut mereka sampai hari ini tiba. Hari di mana Dewi sedang mengikuti tes di luar kota sementara Eva dan Rani justru berkunjung ke rumah Dewi.
“Bukannya Dewi menginap di tempat kalian?” pertanyaan Ayah dan Dewi membuat Eva tersenyum kecil.
“Tidak, Yah. De-“
“Dia di kos Ayi.” Jawab Rani cepat menyela ucapan Eva.
__ADS_1
Eva menatap Rani penuh arti. “Dia tidak memberitahu kamu?” pertanyaan Ibu dari Dewi menyadarkan Eva kalau Rani dan Ayi sudah meninggalkannya.
“Dikasih tahu, Buk. Cuma waktu itu Eva lagi tidak bergabung sama kami. Jadi dia tidak tahu kalau Dewi ada di kos Ayi.” Lagi-lagi Rani berbohong sementara Eva tidak percaya kalau Rani yang dianggap sahabat terdekatnya ternyata memilih diam membela Dewi.
Ibu dari Dewi datang membawa dua gelas the dingin. Mereka kerap bermain ke rumah satu sama lain hingga hubungan mereka dengan orang tua masing-masing sudah tidak canggung lagi.
“Bagaimana kuliah kalian?” pertanyaan dari Ayah.
“Alhamdulillah lancar, Yah. Tapi kami masih tertinggal jauh dari Dewi. Dia sudah loncat semester supaya bisa lulus cepat dan mendapat beasiswa dari kampus." Eva menjelaskan sembari tersenyum bangga seolah ia turut bahagia dengan pencapaian Dewi.
“Jadi Dewi bisa cepat lulus, begitu?” tanya Ayah lagi.
“Iya, Yah. Dewi pintar banget, Yah. Semua dosen memujinya. Makanya dia langsung mendapat tawaran beasiswa. Kalau tidak salah minggu ini dia akan ke luar kota untuk mengikuti tes TOEFL. Apa dia belum memberitahukan Ayah dan Ibu?”
Deg…
Rani menatap lesu pada kedua orang tua Dewi.
“Ke luar kota? kapan?” tanya Ayah penuh nada keterkejutan.
“Nah, kalau itu aku tidak tahu, Yah. Kapan ya, Ran? Kamu kan lebih sering dengan Dewi. Kalau aku jarang ngumpul belakangan ini. Dia bilang ke kamu, kapan akan ke luar kota?”
Gleg…
Rani kehabisan alasan sementara ayah dan ibu Dewi sedang menatapnya. “Aku juga kurang tahu, Yah, Buk. Karena itu semua diurus oleh pihak kampus. Kalau pihak kampus siap maka mereka akan mengabari Dewi.”
“Ya Allah, maafkan hambamu yang sudah membohongi orang tua ini.” Batin Rani.
“Hebat sekali kamu, Ran. Demi Dewi kamu bahkan membohongiku dan orang tuanya.” Batin Eva.
“Buk, telepon Dewi sekarang!”
__ADS_1
***