
Cinta bisa mengubah dunia yang sebelumnya terlihat gelap menjadi terang benderang. Mengubah warna kelabu menjadi warna putih, mengubah mimpi menjadi kenyataan. Berkat cinta semangat untuk bisa sembuh membubung tinggi. Seakan cinta adalah harapan Bunga untuk tetap bertahan.
Tak terasa waktu berlalu begitu saja. Mengubah detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Hari demi hari, Minggu demi Minggu, kini enam bulan telah berlalu.
Tak terasa masa magang telah usai dan kini tinggal menyiapkan untuk menyusun skripsi. Banyak cerita yang telah terlewati antara Bunga dan Varo. Bahkan didepan orang tua Angel dengan tegas Varo menolak untuk bertunangan putri mereka. Tentu saja keluarga Angel merasa sangat tidak terima dengan keputusan Varo yang seolah telah mempermainkan hati putrinya.
Dalam waktu enam bulan, Angel belum bisa terima atas keputusan Varo dan terus mencoba untuk mendekatinya agar Varo mau bertanggung dengannya. Namun, keputusan Varo tak bisa diubah. Dia tetap tidak peduli dengan Angel yang manis terus mengemis cintanya.
Enam bulan telah berlalu, Varo masih menyembunyikan hubungan asmaranya dengan Bunga. Varo takut jika Angel mengetahui dia dan Bunga berpacaran. Bisa dipastikan Angel akan menyerang Bunga. Dan Varo tidak mau itu terjadi pada Bunga.
“Varo .... ” Lamunan Varo buyar ketiga seseorang memanggil namanya. Panggilan yang lembut selembut hatinya. Siapa lagi pemiliknya jika bukan Bunga.
“Bunga.... ” serunya dengan bibir yang ditarik lebar.
Selama menjalani terapi selama hampir enam bulan lamanya, Bunga merasakan hasil dari usahanya, dimana penyakitnya jarang tidak pernah kambuh lagi. Namun, bukan berarti penyakit Bunga telah menghilang.
“Ada apa?” tanya Varo.
“Em ... kayaknya nanti malam kita nggak bisa jalan deh karena Ayah sama Bunda ngajak ke acara mereka. Kamu enggak marah kan?” tanya Bunga sambil menarik sebuah kursi yang berada di depan Varo.
Lagi-lagi bibir Varo terangkat tipis. Bagaimana mungkin dia marah hanya karena janjinya dibatalkan. “Atas dasar apa aku harus marah kepadamu? Kecuali kamu membohongiku dengan alasannya pergi bersama dengan orang tua tetapi nyatanya malah pergi bersama dengan pria lain. Itu aku baru akan marah.”
“Kamu pikir akan ada pria yang mau jalan bersama dengan wanita penyakitan seperti aku? Jikapun ada itu hanya kamu.”
“Bunga! Sudah berapa kali aku katakan jangan berbicara seperti itu lagi, tapi mengapa kamu masih keras kepala? Bisa gak sih kamu denger kata-kataku? Kamu bukan wanita penyakitan!” tegas Varo.
Bunga melupakan sesuatu yang sering diucapkan oleh Varo. Bahkan Bunga sudah seringkali berjanji kepada Varo tidak akan pernah menyebut dirinya wanita penyakitan, tetapi kata itu lepas begitu saja dari mulutnya.
“Iya, maaf. Aku lupa,” sesal Bunga dengan lemah.
__ADS_1
“Sudahlah, terlalu sering mendengar kata maaf membuat telingaku gatal. Kamu udah makan?”
Kepala Bunga menggeleng dengan pelan.
“Bawa bekal?” tanya Varo.
Bunga hanya mengangguk dengan pelan sambil mengeluarkan kotak bekal dari Bundanya yang tak pernah terlewatkan.
“Bunda enggak nitip bekal untukku?” tanya Varo lagi.
Bunga menelan kasar salivanya saat Varo menanyakan titipan bekal dari Bundanya. Sebenarnya bundanya Bunga memang menitipkan bekal untuk Varo, tetapi karena Sinta sahabatnya memintanya, Bunga tak bisa menolak. Dengan berat hati Bunga memberikan bekal yang seharusnya dia berikan untuk Varo.
“Ada. Tapi .... ” Bunga menjeda ucapannya.
“Tapi apa?” Varo semakin penasaran.
Varo langsung menghela napas kasarnya. Entah sudah berapa puluh kali dia mengatakan pada Bunga agar tidak menuruti semua keinginan Sinta, tetapi Bunga sama sekali tak mendengarkan kata-katanya.
“Astaga, Bunga .... ” geram Varo sambil menyugar rambutnya kebelakang.
“Tapi kitakan bisa berbagi. Kamu enggak mau berbagi sama aku?” Bunga menautkan kedua alisnya.
“Bukan begitu Bunga ...! Kamu tau enggak kalau kamu itu selalu dimanfaatkan oleh Sinta? Asal kamu tau, bekal yang diminta oleh Sinta itu dia kirim untukku. Dan itu bukan hanya sekali dua kali, Bunga!” Varo segera mengambil sebuah kotak bekal dari dalam tasnya. “Ini bekal dari bunda 'kan?”
Bola mata Bunga terbelalak dengan lebar ketika melihat kotak bekal yang sama dengan miliknya keluar dari dalam tas Varo.
“Ini kan .... ”
“Iya. Ini bekal dari bunda 'kan? Terus kamu mau bilang kalau ini hanya sebuah kebetulan saja? Buka dan lihat apa isinya!”
__ADS_1
Bunga langsung mengambil kotak bekal yang berada di depan Varo karena ingin memastikan apa isinya. Jika bener itu adalah bekal darinya, berarti Sinta telah membohongi dirinya.
“Astaga, Sinta .... ” Bunga langsung membungkam mulutnya. “Ini memang bekal dari Bunda.”
Bunga masih tidak percaya dengan apa maksud Sinta melakukan semua ini. Jika dia ingin memberikan bekal untuk Varo, mengapa harus bekal darinya? Berbagai pernyataan muncul di pikiran Bunga. Bahkan selera makannya pun telah hilang.
“Bunga ... dengarkan aku! Tidak semua orang yang kamu anggap baik itu benar-benar tulus padamu. Kamu jangan mudah untuk mengasihi mereka. Dan orang yang paling berbahaya itu adalah orang yang paling dekat dengan kita. Sebenarnya aku tidak mau memberitahumu tentang masalah ini, tapi aku tidak mau kamu terus-terusan dimanfaatkan oleh Sinta! Sudahlah, jangan kamu pikirkan terlalu mendalam! Aku tidak mau penyakit kamu kambuh karena memikirkan apa alasan Sinta melakukan semua ini!” tegas Varo lagi.
Bunga mengangguk dengan pelan. Namun, saat dia hendak menyiapkan nasi ke dalam mulutnya tiba-tiba mejanya ditabrak oleh seseorang dengan kaut.
BRAKKK !
“Oh, jadi ini alasan kamu menolak pertunangan kita?”
Bunga langsung mendongak untuk menatap wanita yang berdiri di samping Varo. Siapa lagi jika bukan Angel.
“Selama ini Aku berusaha untuk mencaritahu alasan mengapa kamu menolak pertunangan kita, tetapi aku tidak berhasil. Tapi hari .... akhirnya Tuhan memberikanku petunjuk. Dan dia adalah penyebabnya. Iya kan?” teriak Angel sambil menunjuk kearah Bunga.
“Stop Angel! Semua ini enggak ada hubungannya sama Bunga. Aku sudah pernah mengatakan kepadamu jangan pernah memaksakan keinginanmu sendiri. Aku enggak cinta sama kamu, jadi aku berhak untuk menolaknya!” bentak Varo hingga membuat beberapa orang menatap ke arahnya.
“Varo ... udah!” Bunga mencoba untuk menenangkan Varo.
Varo menghela napas panjangnya. Sebisa mungkin dia mencoba untuk meredam emosinya agar tak membuat Bunga ketakutan.
“Oke. Berhubung kamu udah tahu, aku tidak akan menyembunyikan lagi darimu. Aku dan Bunga memang berpacaran. Awas saja jika kamu berniat untuk mencelakainya! Aku akan langsung mengirimmu ke neraka!” ancam Varo dengan sorot mata tajamnya. “Bunga, ayo kita pergi!”
Bunga mengangguk dengan pelan. Dia pun segera mengemasi bekal yang hendak dimakan. Dalam hati Bunga merasa malu karena beberapa pasang mata menatapnya tanpa berkedip. Bunga takut, setelah kejadian ini mereka akan mengatakan jika Bunga adalah orang ketiga.
Hancur. Begitulah hati Angel saat ini. Ternyata diam-diam Varo telah mempunyai seorang pacar. “Varo sialan! Awas kamu Varo!”
__ADS_1