Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
37 ~ Gagal Bertemu Dengan Galang


__ADS_3

Satu Minggu kepergian Bunga, tetapi wanita itu tak kunjung untuk memberikan kabar. Varo semakin cemas, terlebih dia juga tidak memiliki nomor telepon orang tua Bunga yang bisa di hubungi. Satu-satunya jalan adalah menemui Galang untuk meminta nomer telepon orang tuanya yang bisa dihubungi.


“Varo, kamu mau kemana? Bukankah ini hari libur?” tanya Mommy-nya saat melihat Varo telah menggunakan pakaian rapi di pagi buta.


“Varo ada urusan urgent, Bun. Varo pergi dulu ya.”


Mommy Lusi hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Varo terburu-buru meninggalkan rumah. Bahkan Varo sama sekali tidak menyentuh sarapannya.


“Dia mau kemana?” tanya Davide pada istrinya.


“Enggak tahu. Katanya ada urusan urgent. Biarin ajalah, namanya juga anak muda.”


“Ya, kamu benar. Tapi sebagai orang tua juga harus sedikit waspada. Kamu tahu kan bagaimana pergaulan zaman sekarang? Jangan sampai Varo terjerumus pada jalan yang salah,” ujar Davide yang sedikit mengkhawatirkan dengan pergaulan Varo yang saat ini.


“Iya .... iya. Mommy tau itu.”


...**...


Varo sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Galang, karena Galang adalah satu-satunya kunci untuk bisa terhubung dengan Bunga. Entah apa yang telah terjadi kepada Bunga sehingga dia sama sekali tidak memberikan kabar. Padahal sebelum berangkat Bunga mengatakan jika dia akan segera memberi kabar ketika sudah sampai di tempat. Namun, hingga satu minggu telah berlalu Bunga tak kunjung memberikan kabar.


Sesampainya di rumah Bunga, Varo hanya bisa menghela napas panjang ketika Galang sudah tidak ada di rumah. Menurut penjaga keamanan, Galang telah pergi meninggalkan rumah beberapa menit yang lalu.


“Kenapa aku tidak pernah berpikir untuk meminta nomornya Galang, sih? Kalau kayak gini kan makin ribet!” gerutu Varo dengan rasa kecewanya. Namun, karena Varo harus segera mendapatkan kabar tentang keadaan Bunga, dia segera mengejar Galang yang baru beberapa menit meninggalkan rumahnya. Berharap jika Varo bisa mencegat Galang ditengah jalan.


Varo tidak peduli dengan kecepatan mobilnya. Dia melaju dengan kecepatan tinggi. Namun, tiba-tiba Varo harus menginjak rem secara tiba-tiba karena di depan ada sebuah motor yang hendak berputar arah.


Ciiittt ....


Varo menginjak rem depan sangat kuat serta menutup matanya. Pikiran sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada dirinya. Namun, hingga beberapa detik Varo tidak mendengar suara apa-apa lagi dia pun segera membuka matanya kembali. Dilihatnya sebuah motor terhenti tepat di depan mobilnya. Karena merasa takut dan penasaran, Varo segera turun untuk memastikan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


“Kamu gak papa?” tanya Varo pada pengendara motor yang masih berada diatas motornya.


“Iya. Aku baik-baik aja.”


Hanya tinggal satu jengkal mobil milik Varo menyentuh motor yang ada di depannya. Helaan napas panjang terasa sangat lega. Varo bersyukur tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Namun, Varo langsung terkejut saat pengguna motor melepaskan helmnya. “Sinta,” lirihnya dengan pelan.


Sinta tersenyum kecil saat melihat ekspresi wajah Varo sangat terkejut, tetapi belum sempat mengucapkan sepatah kata telinganya mendengar klakson yang terus-menerus berbunyi dari belakang mobil Varo. Karena tak ingin membuat kemacetan, Varo langsung menepikan mobilnya ke pinggiran. Beruntung saja tidak ada orang yang mengerubungi atas kejadian tadi sehingga tidak menimbulkan kemacetan yang parah.


Begitu juga dengan Sinta yang menuntun motornya ketepian di dekat mobil Varo berada. Meskipun tubuhnya bergemetar karena nyaris tertabrak mobil Varo, tetapi Sinta berusaha menguatkan dirinya untuk menghampiri Varo. “Varo, maaf karena aku putar arah tanpa liat jalanan dengan baik.”


Varo yang masih berada didalam mobil langsung turun. Sebenarnya dia juga merasa ketakutan, bagaimana jika tadi mobilnya benar-benar menabrak motor Sinta. Akan tambah panjang lagi ceritanya.


“Makanya kalau nyebrang itu lihat kanan kiri. Jangan asal-asalan!”


“Iya, aku minta maaf. Aku tadi sedang buru-buru karena ada sesuatu milikku yang tertinggal di rumah.”


“Aduh ... aduh .... ” Sinta meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


“Kenapa?” tanya Varo panik dan segera mendekat kearah Sinta.


“Enggak tau. Tapi kayaknya kram, deh! Aduh ... sakit banget.”


“Ya udah, kamu duduk aja disini!” Varo menyuruh Sinta untuk duduk di pinggir trotoar. “Nanti kalau udah enggak sakit, kamu lanjut lagi. Aku lagi ada urusan penting, enggak bisa lama-lama.”


Sinta langsung membulatkan matanya dengan lebar. “Tapi aku takut sendirian disini, Varo! Nanti kalau ada orang jahat datang gimana?” Sinta mengiba pada Varo.


Sejenak Varo terdiam. Sebenarnya dia juga takut jika terjadi sesuatu kepada Sinta. Akhirnya Varo memutuskan untuk mengantar Sinta pulang ke rumahnya

__ADS_1


“Ya udah, ayo aku antar ke kampus kamu!”


Senyum di bibir Sinta mengembang lias5. Akhirnya tanpa diminta, Varo berinsiatif sendiri untuk mengantarkan dirinya. Memang itulah yang diinginkan oleh Sinta.


“Apakah aku tidak merepotkan?”


“Sebenarnya merepotkan. Tapi aku tidak mau disalahkan jika nanti terjadi sesuatu kepadamu,” ucap Varo dengan ketus.


Sinta tidak peduli dengan keketusan Varo, karena yang paling penting saat ini dia bisa duduk satu mobil dengan Varo.


Ternyata seperti ini rasanya bisa duduk dalam mobil Varo. Aku tidak pernah menyangka jika baru akan tumbuh menjadi sosok pria yang sangat tampan. Apapun caranya, aku akan berusaha untuk mendapatkan hati kamu, Varo. Sekalipun aku harus mengkhianati Bunga, aku tidak peduli. Asalkan kamu bisa menjadi milikku.


Meskipun berada dalam satu mobil dengan Varo, tetap saja suasana terasa hening dan mencekam karena Varo sama sekali tidak peduli dengan Sinta. Bahkan tak ada sepatah kata dari mulut Varo untuk sekedar tanya jawab tentang kabar mereka.


Rasanya benar-benar dingin dan canggung, sekalipun Sinta sudah berusaha untuk mengajak Varo berbicara. Namun, tetap saja Varo memilih acuh dengan pernyataan Sinta.


Dih ... nyebelin banget sih! Untung dia ganteng. Kalau jelek, aku gak bakalan mau kayak pengemis seperti ini!


Tak terasa hampir lima belas menit mobil yang dikendarai oleh Varo telah sampai di depan rumah Sinta. Dengan cepat, Varo menyuruh Sinta untuk turun.


“Sudah sampai. Sekarang turunlah!”


Sinta mengangguk dengan pelan dan berusaha untuk turun Dalam hati rasanya ingin mengumpat, ketika Varo sama sekali tidak peduli kepada dirinya. Namun, sebisa mungkin Sinta mencoba untuk biasa saja agar gerak-geriknya tak terbaca oleh Varo.


“Varo, terima kasih sudah mengantarku pulang.”


“Iya, sama-sama.”


Sebenarnya Varo ingin marah ketika dia harus kehilangan jejak Galang. Namun, saat ingin mengabaikan Sinta, tiba-tiba Varo teringat pada Bunga. Varo sudah pernah berjanji kepada Bunga jika dia akan menggunakan hidupnya untuk menolong orang yang memang sedang membutuhkan pertolongannya.

__ADS_1


Setelah kehilangan jejak Galang, Varo sudah tidak punya pilihan lain selain kembali pulang ke rumah. Dadanya terasa sesak ketika dia gagal untuk bertemu dengan Galang.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Bunga sehingga dia tidak menghubungiku? Apakah keadaan semakin memburuk?”


__ADS_2