Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
Akbar Bertanya...


__ADS_3

Bayi tampan bernama Muhammad Akbar itu terlelap tenang setelah kenyang. Dewi tersenyum bahagia menatap wajah tampan bayi yang sempat hadir di pernikahannya dulu dengan Fadil.


“Ternyata kamu memang ditakdirkan menjadi anak Mama. Tetap sehat dan ceria karena itu adalah senjata untuk Mama selalu kuat di sampingmu. Terima kasih sudah hadir dan mendampingi Mama saat semua orang meninggalkan Mama. Hanya kamu yang Mama miliki jadi tetaplah sehat karena tanpa kamu mungkin Mama tidak akan bertahan.” Gumam Dewi lalu menyeka air matanya.


Hari berlalu berganti bulan. Kehidupan Dewi semakin membaik. Empat tahun ia habiskan menemba ilmu di Malaysia lalu sampailah ia pada tahap akhir. Ia harus pulang karena pihak kampus sudah menghubunginya. Ia harus mengaplikasikan ilmunya di sana. Tak tanggung-tanggung, berkat ilmu dan prestasi serta rekomendasi dari para profesor, Dewi mendapat panggilan dari beberapa kampus terkenal di Indonesia untuk menjadi pengajar di sana.


Hari ini Najla yang tengah hamil besar datang bersama Zayed ke apartement untuk merayakan kelulusan dan salam perpisahan untuk Dewi. Wanita itu bahagia tapi ada hal yang mengganjal di hatinya dan Najla melihat itu. Zayed bermain dengan Akbar yang selama ini sangat dekat dengan bayi itu sementara Najla berbicara dengan Dewi.


“Cerita sama saye, apa yang kacaukan pikiran awak?” Dewi tersenyum.


“Kalau ada S4, aku mau melanjutkan lagi. Aku belum tahu harus pulang kemana setelah sampai di sana.”


“Call sahabat awak! Biarkan mereka membantu!” Dewi menggeleng.


“Namaku sudah buruk di sana. Mereka pasti malu berhubungan lagi denganku.”


“Kenape awak berpikir buruk? Saye yakin teman-teman awak itu baik hati.”

__ADS_1


Dewi mengabaikan saran Najla. Dia menghubungi salah satu dosen wanita di kampus lalu menanykan tentang rumah dinas yang diberikan ke pada para dosen. Dan beruntungnya Dewi karena begitu di sampai, rumah tersebut langsung bisa ditempati.


Hari kepulangan pun tiba. Najla dan Zayed membekali banyak barang untuk Akbar sampai mereka harus mengirim melalui ekspedisi karena kelebih bagasi. Setelah lima tahun lebih berada di sana, ini pertama kalinya Dewi kembali ke tanah air dan kini ia tidak seorang diri melainkan ada balita mungil nan tampan dan selalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Bayi tampan yang sudah terbiasa mandiri itu tidak pernah menangis kecuali saat ia kesakitan seperti digigit semut. Selebihnya ia tidak pernah menangis dan menyusahkan ibunya.


Tidak ada penyambutan karena dia bukan seseorang yang patut disambut. Hanya mobil dari kampus yang ditugaskan menjemputnya lalu mengantar ke rumah dinas siap huni.


“Rumahnya belum ada perabotan, apa Ibu mau membeli setelah ini?” tawar Pak Subur sang sopir dari kampus.


“Boleh, Pak. Itu kebutuhan pokok untuk saat ini.”


Dewi beruntung karena pihak toko mau mengantar semua barang Dewi hari ini juga. Tidak lama setelah Dewi sampai, truk dari toko juga sampai dan langsung memasukkan satu persatu barang baru milik Dewi.


Rumah dua kamar itu sudah cukup luas bagi Dewi apalagi gratis. Setelah ini Dewi hanya perlu memikirkan kepentingan Akbar. Dia butuh orang atau akan menitipkannya di tempat penitipan bayi. Dewi belum sepenuhnya percaya, dia akan bertanya pada dosen-dosen yang tinggal dikomplek yang sama setelah ini.


Tanpa banyak yang tahu, saat ini Dewi tengah meneruskan impiannya menjadi seorang profesor. Ia sedang menyiapkan karya ilmiah untuk itu. Dewi kembali ke kehidupan kampus sebagai dosen. Kampusnya tidak banyak yang berubah, hanya beberapa bangunan yang sudah bertambah seiring bertambahnya jumlah mahasiswa.


Cukup dua tahun untuk Dewi menjadi terkenal karena prestasinya berhasil membawa nama kampus semakin melejit dan dalam waktu dua tahun dia berhasil menduduki jabatan sebagai dekan di kampusnya. Prestasi yang tidak tanggung-tanggung untuk seorang alumni. Wajah Dewi semakin sering terpajang di beberapa baliho setiap musim penerimaan mahasiswa baru. Wajahnya juga kerap muncul di koran harian hingga beberapa orang di masa lalu melihat kembali wajah itu. Eva, Fadil, keluarga besar Fadil dan Dewi, Fiqi serta keluarga besarnya. Berbagai rasa muncul di benak mereka saat melihat orang yang di benci, di sayang atau dilupakan kini telah kembali dengan kepala terangkat tegak menatap masa depan.

__ADS_1


Tidak satu pun dari mereka yang berkonflik ingin bertemu Dewi, hanya dua sahabat yang ditinggalkan serta seorang pria yang sudah menjadi suami orang lain kini menunduk lemah menatap lembaran koran di tangannya. Hatinya perih tapi berusaha tegar setelah peperangan batin yang membuatnya kalah karena keluarga lebih berhak atas hidupnya dari pada dirinya sendiri. Kini, Khatijah, istri dari Fiqi sedang mengandung setelah menikah anak ke dua mereka.


“Kamu sudah bahagia, Ukhti! Teruslah tersenyum seperti ini. Kamu harus bahagia.” Batin Fiqi menyeka sebening air yang lolos dari ujung matanya.


Sementara di sebuah warung kopi sederhana, Fadil berusaha mencari info lebih tentang Dewi. Fadil penasaran dengan kondisi Dewi. Lebih tepatnya ia penasaran dengan apa yang sudah dilakukan pada wanita itu. Fadil ingin tahu apakah Dewi hamil dan punya anak dari perbuatannya dulu atau tidak. Sayangnya, tidak ada informasi yang bersifat pribadi dari Dewi. Semua hanya tentang prestasi dan karya-karya ilmiah miliknya.


Tidak ada yang tahu tentang Akbar, Dewi menutup rapat akses informasi tentang putranya ke publik. Hanya segelintir orang di kampus yang tahu tentang itu. Dewi tidak ingin membuat hidupnya susah setelah berita tentang Akbar terendus media.


Dia memang bukan artis tapi akan ada orang di masa lalu yang akan mendatanginya jika mengetahui ada Akbar bersamanya. Hal itu juga yang menjadi alasan bagi Dewi untuk selalu menjadwalkan pertemuan dengan mahasiswanya di kampus. Dia tidak menerima tamu di rumahnya dan dia selalu menghindari pertanyaan tentang kehidupan pribadi tiap melakukan wawancara dengan koran atau stasiun berita.


Bayi yang kini berumur hampir lima tahun itu pun kini mulai bersekolah di PAUD tidak jauh dari kampus. Seorang pengasuh yang selama dua tahun ini menjaganya selalu setia mengantar jemput Akbar. Selama dua tahun di Indonesia, Akbar belum sekalipun bertemu dengan orang dari lingkungan keluarga ibunya. Hanya tentangga dan pengasuh yang ia kenal. Sebisa mungkin Dewi selalu menyempatkan diri mengantar sang putra. Berbekal masker dan kacamata, tidak ada yang mengenalnya di luar sana. Dewi kerab menghabiskan waktu libur dengan mengunjungi tempat-tempat ramah anak bersama pengasuh Akbar. Tidak lupa, masker dan kaca mata menjadi andalan Dewi saat ia keluar. Akbar sangat aktif dan bicaranya juga lumayan membuat Dewi kualahan. Seperti saat ini. Tiba-tiba Akbar berkata,


“Mama, Ayah Abang mana?”


 


***

__ADS_1


__ADS_2