Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
45 ~ Ketahuan


__ADS_3

Terasa sangat sulit untuk menjelaskan bagaimana keadaan Bunga saat ini kepada Varo. Sudah hampir satu Minggu kondisi Bunga kian memburuk dan saat ini Bunga tengah koma. Tak ada harapan, tetapi kedua orang tua Bunga tetap berdoa untuk kesembuhan anaknya. Berharap ada sebuah mukjizat untuk Bunga bisa bangun kembali.


“Varo ... maaf karena selama ini telah menyembunyikan kondisi Bunga yang sebenarnya. Om dan Tante hanya tidak ingin membuat kamu terlalu memikirkan tentang kondisi Bunga sehingga bisa mempengaruhi hari-harimu disini. Dan semua ini juga atas permintaan Bunga,” jelas bundanya Bunga sambil menghela napas panjangnya.


Sebagai seorang ibu, tentu saja hati Asha sangat hancur ketika harus melihat sang anak memperjuangkan hidupnya. Ibu mana yang akan merelakan sang anak harus pergi cepat meninggalkan dirinya. Terlebih diusia yang masih muda. Masih banyak cita-cita dan impian yang belum tersampaikan. Katakanlah Asha adalah seorang ibu yang sangat egois, karena tidak merelakan jika Bunga akan meninggalkannya.


“Apakah salah jika Varo terus mengkhawatirkan keadaan Bunga? Varo adalah kekasihnya Bunga dan Varo juga berhak tahu bagaimana keadaannya. Sekarang Varo tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi pada Bunga? Tolong jawab, Tan!”


“Varo ... lebih baik kamu lupakan Bunga, karena dia tidak akan bisa membahagiakanmu,” timpal Kara dengan tiba-tiba.


Varo dan Daddy-nya langsung memutar bola matanya karena merasa sangaterkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ayah Bunga.


“Maksud kamu apa, Ra?” Kini Daddy-nya Varo angkat bicara. Sejak tadi dia sudah menahan diri untuk tidak menyuarakan isi hatinya, tetapi kali ini dia tidak mengerti dengan maksud Aksara yang menyuruh Varo untuk melupakan Bunga. Lebih tepatnya Askara menyuruh Varo untuk putus dengan Bunga.


“Vid, kamu tahu sendiri jika penyakit Bunga tidak bisa disembuhkan lagi. Tidak ada yang bisa diharapkan darinya, karena cepat atau lambat penyakit Bunga akan membawa Bunga untuk pergi selama. Jadi lebih baik Varo mencari pengganti Bunga yang bisa membahagiakannya. Varo, kamu harus bisa bahagia tanpa Bunga,” ujar Askara dengan helaan napas panjangnya.


Varo tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya Bunga. Bagaimana bisa dia bisa melupakan dan meninggalkan Bunga disaat Bunga sedang membutuhkan dukungan darinya.


“Om Kara ... Varo tahu bagaimana dokter mendiagnosis penyakit Bunga. Jikapun mau, Varo sudah meninggalkan Bunga sejak lama, tetapi Varo tidak mau, karena Varo ingin tetap mendukung Bunga untuk sembuh. Hidup dan mati hanya milik Tuhan, jadi om Kara jangan mendahului takdir Tuhan.”


Asha yang berada dibelakang suaminya hanya bisa menitihkan air matanya. Iya, memang benar jika hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan, akan tetapi jika melihat penyakit yang sedang menggerogoti Bunga, sulit rasanya untuk percaya dengan takdir Tuhan. Terlebih saat ini Bunga yang sedang koma.


“Sampai kapan Varo tidak akan pernah melupakan dan meninggalkan Bunga. Varo tidak peduli dengan larangan Om Kara. Dan Varo akan membuktikan jika Bunga bisa sembuh dari penyakitnya," lanjut Varo yang mencoba untuk menahan amarahnya.

__ADS_1


“Kara ... sebenarnya bagaimana keadaan Bunga saat ini? Tolong katakan yang sebenarnya agar Varo bisa lebih tenang, terlebih nomor Bunga sudah tidak bisa dihubungi," sambung Daddy-nya Varo.


Askara menghela napas beratnya. Sebenarnya terasa berat, tetapi Askara tak punya pilihan lain. Dengan rasa sesak dalam dada, dia pun mengatakan Bagaimana kondisi bunga saat ini, dengan harapan Varo akan menyerah dan tidak mengharapkan Bunga lagi. Askara hanya tidak ingin Varo akan hancur ketika apa yang dia harapkan tidak akan terwujud, karena dokter yang menangani Bunga telah angkat tangan.


“Varo ... Tante juga mau minta maaf karena telah mempermainkanmu. Sebenarnya selama satu minggu terakhir ini yang membalas pesanmu adalah Tante, karena beberapa jam setelah melakukan panggilan video call denganmu Bunga langsung tidak sadarkan diri. Sekali lagi Tante minta maaf , Varo.” Asha pun kini mengakui kesalahannya. Namun, dalam hati dia tidak berniat untuk mempermainkan Varo. Dia hanya tidak ingin membuat Varo terus menerus mengkhawatirkan keadaan Bunga.


“Jadi ternyata yang membalas pesanku itu adalah Tante?”


Asha menganguk dengan pelan. “Iya, Varo.”


Hati Varo semakin hancur. Dadanya terasa semakin sesak. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan orang tua Bunga yang memilih menyembunyikan tentang keadaan Bunga yang sebenarnya. Memang buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya. Antara Bunga dan orang tuanya tak berbeda jauh. Sama-sama suka menyembunyikan kenyataan.


( Biarkan Bunga bobok bentar, ya 😀 Kita selingin dengan Galang sebentar, sebelum kembali pada Bunga yang masih bobok cantik )


Tiinn ... tiiinnn


Suara klakson mobil sebagai isyarat untuk pak security membukakan pintu gerbang. Dengan cepat Pak security langsung membukakan pintu gerbang untuk anak majikannya.


“Lama banget sih, Pak!” teriak Galang setelah mobil melewati Pak security.


“Maaf Mas, saya ketiduran. Saya pikir Mas Galang enggak pulang.”


Galang tak peduli dengan jawaban security-nya. Dia pun segera membawa mobil untuk masuk ke dalam garasi tanpa sedikitpun mempunyai pikiran jika saat ini dia sedang ditunggu oleh ayahnya.

__ADS_1


Dan pada saat Galang masuk ke dalam rumah dia merasa sedikit heran karena semua terasa gelap. Keningnya mengernyit lalu menoleh lagi ke belakang untuk memastikan apakah sedang mati lampu atau tidak.


“Enggak mati lampu, tapi kok gelap semua ya? Apakah bola lampu rumah ini pada kompak mati semua?” pikir Galang yang segera mengambil ponsel untuk menghidupkan cahaya senter. Namun, belum sempat Galang merogoh ponselnya tiba-tiba ruangan telah menjadi terang benderang.


Terlihat sosok pria yang sangat dia kenali tengah berdiri di depannya sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sorot matanya terlihat tajam untuk menatap Galang yang kini tengah membeku.


“Aa ... ayah,” gugup Galang dengan terbata. “Kok Ayah ada disini?”


“Memangnya kenapa kalau Ayah ada di sini? Kamu sendiri mengapa ingat pulang?”


Galang hanya bisa menelan kasar salivanya saat menghadapi pertanyaan dari ayahnya. Mungkin sang ayah telah mengetahui jika selama ini dirinya jarang pulang?


“Ayah ... ayah pasti lelah. Mending sekarang ayah beristirahat dulu. Galang juga ingin beristirahat, Yah.”


Kara tersenyum tersenyum tipis dan tangannya segera menahan lengan Galang, ketika sang anak melewatinya. “Ayah malam selesai berbicara, Galang!”


“Yah ... besok aja ya! Galang udah capek.”


“Capek!” Kara menertawakan ucapan anaknya. “Capek keluyuran enggak jelas. Kamu ini masih pelajar, Galang. Tidak sepantasnya kamu bergaul dengan berandalan di luar sana. Kamu pikir ayah tidak tau dengan apa yang kamu lakukan diluar sana? Kamu pikir ayah bodoh sehingga mudah untuk kamu bohongi? Kamu salah Galang! Sekarang katakan anak sudah berapa lama kamu berhubungan dengan Tea? Mengapa saat ayah berada di luar negeri, Tea bisa dinyatakan hamil?”


“Ayah ... ayah kenapa tahu jika Tea hamil?” tanya Galang dengan gugup.


...###...

__ADS_1


__ADS_2