
Fiqi menatap wajah tua pria yang selama ini baik padanya. Ada rasa tidak tega dalam hatinya tapi ia juga tidak bisa membohongi hati sendiri. Dia tidak mencintai Khatijah, putri dari Abah. Gadis yang dicintainya adalah Dewi hanya Dewi tidak ada yang lain. Hatinya sudah tertambat lama dan dalam dengan nama Dewi hingga sulit untuk mengganti dengan yang lain.
“Apa yang membuat gadis itu begitu istimewa di hatimu sampai menolak lamaran Abah?” pertanyaan itu keluar dari mulut Abah setelah mendengar alasan kenapa Fiqi menolak lamarannya.
Fiqi tersenyum kecil, “Saya sudah melaksanakan salat istikharah di depan Ka’bah saat menunaikan haji kemarin. Setiap waktu selama berada di sana saya melakukan salat memohon petunjuk dari Allah ditempat terdekat dengan-Nya. Allah mendengar doa saya, Abah. Hati dan pikiran saya serta petunjuk-petunjuk yang hadir di dalam mimpi maupun semau hal-hal yang menurut saya tidak masuk akal terjadi semenjak di sana. Bukankah di sana tempat yang suci dan tidak dimasuki oleh setan maupun iblis? Jadi, saya yakin semua petunjuk yang Allah berikan itu merujuk pada satu nama yaitu Dewi.”
Abah tersenyum lalu mengangguk, “Baiklah kamu berhasil meyakinkan Abah dengan caramu dan Abah tidak berhak memaksa karena Abah juga yakin kalau jodoh Khatijah pasti akan datang suatu saat nanti.”
“Amin. Sekali lagi Fiqi mohon maaf sama Abah. Fiqi tidak bermaksud menyinggung perasaan Abah tapi kalau seandainya di hati Fiqi tidak ada Dewi mungkin lain cerita. Bukankah rasa itu bisa tumbuh seiring perjalanan waktu tapi saat ini bagaimana Fiqi menerima Khatijah sementara di hati Fiqi ada Dewi. Fiqi tidak mau menjadi pria dzalim dengan menyakiti hati Khatijah, Abah.” Pria tua itu manut-manut lalu menepuk pundak Fiqi beberapa kali.
“Abah mengerti dan Abah bahagia karena kamu telah berubah menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab.”
“Terima kasih, Abah.” Lalu Fiqi mencium punggung tangan pria sepuh itu sebelum akhirnya keluar dari sana.
Fiqi begitu bahagia lalu pria itu segera mengirim pesan pada sang kekasih hati di negeri jiran sana. Namun sayang, saat itu Dewi sedang mengikuti mata kuliah hingga tidak bisa membalas pesannya. Tapi Fiqi tetap mengerti karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu. Dulu dia juga mengalami hal yang sama, saat dirinya sibuk sampai telat membalas pesan Dewi tapi kekasih hatinya tidak protes sama sekali. Mereka saling mengerti dan memaklumi satu sama lain. Hal yang receh tapi mampu membuat hubungan keduanya langgeng sampai saat ini.
Sementara di rumahnya, orang tua Fiqi sedang bersdiskusi dengan keluarga besar tanpa sepengetahuan Fiqi. Mereka menceritakan semua kejadian persis seperti yang Eva katakan. Keluarga besar marah terutama nenek dan kakek dari Fiqi.
“Kenapa anak itu jadi bodoh begitu? Jauh-jauh kuliah ke Kairo tapi pulangnya masih saja bodoh. Bagaimana kalau kita lamar saja putri dari Abah ke rumahnya?” usul sang kakek.
“Tapi kalau Fiqi menolak gimana, Pak?” tanya Ayah dari Fiqi.
“Sekarang aku tahu dari mana bodoh Fiqi berasal. Itu semua dari kamu! Kalian ini kan orang tuanya masak mengatur perjodohan anak saja tidak bisa. Kamu juga ibunya, kalau dia mengerti agama pasti tidak akan menolak permintaanmu.” Ucap sang kakek pada menantunya.
Ibu dari Fiqi mengagguk patuh, “Berkunjunglah ke rumah Abah lalu biacarakan tentang kelanjutan perjodohan itu dan ceritakan juga tentang perempuan yang sudah membuat Fiqi buta itu!”
“Baik, Ayah!”
“Lakukan secepatnya sebelum Abah mencari calon lain untuk putrinya. Kalian tahu sendiri kalau banyak orang yang ingin berbesanan dengan Abah. Jangan tunggu lagi, besok langsung saja pergi ke kediaman Abah jangan lupa bawa buah tangan!”
“Baik Ayah!”
“Bang, apa jangan-jangan Fiqi dipelet ya?” celutukan adik dari ayah Fiqi.
“Bisa jadi.” Bukan ayah dari Fiqi yang menjawab melainkan nenek dari Fiqi.
__ADS_1
“Jaman sekarang semua bisa dihalalkan untuk mendapatkan keinginan termasuk berbuat syirik dengan pergi ke dukun.”
Mereka mengangguk patuh. Setelah diskusi selesai, orang tua Fiqi langsung pulang ke rumahnya. Sementara Fiqi justru sibuk berbalas pesan dengan sang kekasih hingga keduanya terlelap. Eva tertawa bahagia setelah menerima telepon dari ibu Fiqi. Ia tidak menduga hasutannya akan diterima dengan mudah oleh keluarga besar Fiqi.
Keesokan harinya, keluarga Abah terkejut mendengar lamaran yang ditujukan untuk putrinya oleh orang tua Fiqi. “Apa Fiqi tahu soal ini, Pak?” tanya Abah.
Lantas orang tua Fiqi pun menceritakan perihal kegundahan hati mereka. Kening Abah berkerut, “Apa ini benar, Pak, Buk?” Abah terlihat gelisah. Sebagai orang yang mengerti agama, beliau pasti paham dan tidak mudah terpengaruh dengan perkataan orang apalagi setelah mendengar penuturan Fiqi.
“Buk, Pak, saya sudah bicara dengan Fiqi dan bertanya tentang alasannya. Dia sudah memberikan alasan yang menurut saya sangat masuk akal sehingga saya minta maaf karena tidak bisa menerima lamaran Bapak dan Ibuk.” Hati orang tua Fiqi tercabik-cabik. Pupus sudah harapan mereka berbesan dengan alim ulama yang sangat dihormati di daerah mereka.
Orang tua Fiqi pulang dalam keadaan lesu. Mereka merasa kecewa terhadap sang putra yang sudah menolak perjodohan itu langsung pada Abah. Mereka tidak menyangka jika Fiqi akan mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat atau membicarakannya terlebih dahulu dengan mereka.
Selepas isya, Fiqi pulang ke rumah dan tentu saja dengan perasaan bahagia. Apalagi dia baru selesai berbicara dengan Dewi melalui panggilan video. Fiqi dan Dewi bahagia dapat melihat satu sama lain walaupun jarak mereka cukup jauh.
“Assalamualaikum,” ucapnya begitu membuka pintu.
“Jadi begini balasanmu terhadap kami? Kamu menolak lamaran Abah tanpa membicarakan dulu sama kami. Apa kamu sudah tidak menganggap kami lagi? Bapak dan Ibu kecewa sama kamu!”
“Pak, Buk, dengarin dulu penjelasan Fiqi.”
“Buat apa kami mendengarmu, kamu saja tidak mendengarkan kami. Lebih baik kamu anggap kami sudah mati. Tidak ada gunanya juga kami ada di rumah ini. Air susu dibalas air tuba, beginilah kalau anak terlalu disayang dan dibangga-banggakan. Akhirnya dia juga yang melempar kotoran ke wajah orang tuanya.”
Hati mereka sakit, kecewa dan sedih. Fiqi telah mengambil keputusan sendiri dalam menentukan kehidupannya hingga melupakan sosok orang tua yang selama ini mendoakan dan mendukungnya. Untuk hal tersebut, Fiqi mengaku jika ia salah tapi soal pendamping hidup. Dia tidak mau mengikuti keinginan orang tuanya. Dia ingin menikah dengan gadis yang ia cintai bukan yang dijodohkan dengannya.
Keesokan hari…
Seperti biasa, Fiqi akan melaksanakan salat subuh di masjid bersama orang tuanya. Mereka hanya perlu berjalan kaki karena letak masjid tidak jauh dari rumahnya.
“Pak, Buk, sudah siap?” tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Fiqi kembali melirik jam di dinding rumahnya, “Pak, Buk ayo!”
Tetap tidak ada sahutan hingga akhirnya Fiqi pergi seorang diri ke masjid. Fiqi tidak langsung pulang, ia biasanya berzikir hingga matahari muncul di ufuk timur. Setelah berbincang sebentar dengan para remaja masjid, Fiqi kembali ke rumah dan suasana rumahnya kelihatan sepi tidak seperti biasanya.
Fiqi memberi salam tapi tidak ada sahutan kemudian ia mengetuk pintu kamar orang tuanya juga tidak ada sahutan. Reflek, Fiqi memutar gagang pintu dan betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi kamar yang rapi tapi orang tuanya justru tidak ada di sana. Fiqi mulai gelisah, ia mencari ke berbagai sudut hingga ke belakang dan kamar mandi dan semuanya kosong. Tidak ada tanda-tanda orang tuanya ada di rumah hingga Fiqi pun mengunjungi rumah tetangga.
__ADS_1
“Oh, tadi Ibuk lihat mereka pergi membawa tas besar. Ibuk tidak sempat bertanya mereka kemana karena keburu mobilnya pergi.”
Fiqi frustasi, ia tidak mau dianggap anak durhaka oleh orang tuanya. Fiqi mencoba menghubungi mereka tapi sayang ponselnya tidak diangkat. Fiqi mencoba menghubungi satu persatu keluarga ibu dan ayahnya tapi hasilnya nihil. Mereka tidak tahu justru mereka bertanya tentang alasannya menolak lamaran Abah. Fiqi menghela nafas karena orang tuanya sudah bercerita pada keluarga besar dan itu artinya kakek dan neneknya juga mengetahui perihal penolakannya.
Fiqi menikmati sarapan ala kadar hasil buatan tangannya sendiri. Berkali-kali ia menghela nafas saat bingung harus mencari kemana sampai menjelang siang, salah satu sepupunya mengirim sebuah foto di mana ayah dan ibunya sedang berada di rumah kakek dan nenek.
“Abang jangan coba-coba kemari kalau tidak mau mati muda. Kakek sama Nenek murka banget karena Abang menolak lamaran Abah.” Tulisnya.
“Abang ingin menjelaskan pada mereka tapi tidak satu pun yang mengerti. Abang punya pilihan sendiri dan sudah berjanji untuk menikah dengannya. Abang tidak mencintai anak Abah bagaimana Abang bisa menikah dengannya. Abang harap kamu mengerti karena kamu masih muda dan berpikiran terbuka.”
“Iya, aku mengerti! Jadi apa tindakan Abang selanjutnya? Jangan lama-lama mendiami orang tua, tidak baik!”
“Abang tahu. Setelah zuhur, Abang akan ke sana.”
“Jangan sekarang! Situasi di sini sedang tidak kondusif. Bukannya menjelaskan malah Abang jadi target serangan. Besok saja Abang kemari, sekarang lagi banyak orang di sini. Semua berkumpul untuk mendengar drama percintaan Abang.”
Fiqi tertawa kecil, “Ya sudah, besok Abang ke sana. Makasih ya!”
“Kalo cuma makasih, beo juga bisa.”
“Terus maumu apa?”
“Bawa makanan lah! Masak pulang ke rumah orang tua tidak bawa apa-apa. Tapi untukku harus istimewa ya!”
“Hem… sampai jumpa besok dan sekali lagi makasih. Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam.”
Fiqi bernafas lega setelah mendapat pesan lalu berlanjut telepon dari sepupunya. Ia tidak menduga jika orang tuanya akan kabur ke rumah kakek dan nenek. Rumah utama yang jadi ajang persidangan hingga ghibahan setiap penghuni saat bertemu.
“Apa yang akan terjadi dengan hubungan kita, Wi? Apakah aku harus menyerah?”
***
__ADS_1
Minta LIKE DAN KOMENNYA YA...
MAKASIH....VOTE JUGA...