
Satu Minggu telah berlalu...
Hampir setiap hari Varo dan Bunga saling berbalas pesan. Namun, saat Varo meminta untuk melakukan panggilan video call, Bunga selalu menolak keinginan Varo, dengan alasan tidak percaya diri untuk menunjukkan wajahnya yang dianggap sudah tidak cantik lagi. Bahkan Bunga memilih untuk mengabaikan panggilan video call dari Varo, tanpa ingin mengangkatnya.
“Varo!” panggil seseorang dari belakang. Varo langsung menoleh dan mendapati Candra berada di belakangnya.
“Apa?” tanya Varo dengan dengan ketus.
“Sadis sekali, sih!” geretu Candra yang sebenarnya malas untuk Varo, karena Candra menganggap jika Varo itu sangat arogan. “Var ... bagaimana keadaan Bunga? Apakah dia baik-baik aja?”
Varo langsung menautkan kedua alisnya. “Untuk apa kamu bertanya tentang keadaan Bunga. Apakah kurang jelas jika saat ini aku dan Bunga sudah pacaran? Aku harap kamu segera sadar jika Bunga itu pacar aku!”
Candra yang memang sudah mengetahui jika saat ini Varo dan Bunga telah menjalin sebuah hubungan hanya bisa menghela napas panjangnya. “Iya, aku tahu itu. Tapi kamu jangan lupa jika aku adalah satu-satunya teman dekat yang dimiliki oleh Bunga sedari bangku SMA. Aku adalah tempat bersandar untuk Bunga dalam suka dan duka sebelum kamu datang. Jadi kamu jangan semena-mena dengan statusmu saat ini karena, aku hanya bertanya saja untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Gitu aja sewot!”
“Oke. Aku kasih tahu sama kamu kalau keadaan Bunga baik-baik saja, tapi sorry, aku enggak bisa kasih kamu nomer Bunga, karena dia tidak ingin ada yang tahu jika saat ini dia sedang sakit dan melakukan pengobatannya di luar negeri,” jelas Varo.
“Syukurlah jika Bunga baik-baik saja. Tolong jika kamu menelepon Bunga, katakan padanya jika aku mengirimkan salam padanya, ya!” pinta Candra dengan penuh harapan.
“Iya ... iya. Nanti aku sampaikan.”
***
Selama bisa berkomunikasi dengan Bunga, ponsel Varo tak pernah lepas dari tangannya. Bahkan saat sedang makan pun Varo hanya terfokus pada layar ponselnya untuk menantikan balasan pesan dari Bunga.
Kedua orang tua Varo pun merasa heran dengan perubahan sikap Varo yang tiba-tiba tak bisa lepas dari ponselnya.
__ADS_1
“Varo sebenarnya apa yang kamu lakukan sehingga tak bisa melepaskan ponsel dari tanganmu?” tanya Mommy Lusi pada Varo saat sedang makan malam bersama.
“Varo sedang menunggu balasan pesan dari Bunga, Mom,” jawab Varo apa adanya.
“Memangnya Bunga belum ikut pulang?” timpal Daddy-nya.
Varo langsung menautkan kedua alisnya. “Maksud Daddy?” tanya Varo dengan bingung, karena tidak tau apa maksud dari ucapan Daddy-nya.
“Tadi sore saat Daddy mau meeting sempat melihat Kara dan juga Asha di sebuah supermarket. Tapi karena Daddy sedang buru-buru jadi Daddy tak bisa menyapanya,” ujar Daddy-nya.
“Jadi Om Kara udah pulang? Tapi Bunga kok enggak bilang apa-apa ya? Ah, mungkin Daddy hanya salah lihat. Barusan Bunga bilang jika dia baru pulang jalan-jalan dengan bundanya,” tepis Varo dengan yakin jika Daddy-nya memang salah lihat.
“Astaga Varo ... mana mungkin Daddy salah lihat. Daddy bisa pastikan jika itu benar-benar Kara. Kalau kamu masih tak percaya bagaimana kalau kita lihat ke rumahnya, apakah Kara sudah pulang atau belum,” tantang Daddy-nya, karena dia benar-benar yakin dengan penglihatannya.
“Baiklah. Setelah makan malam kita ke rumah om Kara,” sambung Varo.
“Bunga kok enggak balas pesanku ya? Apakah dia sedang sibuk? Mungkin saja begitu, karena beberapa menit yang lalu Bunga mengatakan jika dia baru saja pulang jalan-jalan bersama dengan bundanya. Tidak mungkin hanya dalam hitungan menit mereka telah sampai di Indonesia.” Varo mencoba terus prasangkanya. Dia benar-benar yakin jika saat ini Bunga masih berada di Paris.
Tak ingin membuat kepalanya berdenyut lebih nyeri lagi, Varo langsung mendesak Daddy-nya untuk segera meluncur ke rumah Bunga. Padahal Daddy-nya baru saja menghabiskan makan malamnya.
“Dadd, ayo segera pergi ke rumah Om Kara. Varo sudah tidak sabar untuk melihat apakah Om Kara dan Tante Asha memang sudah pulang atau belum,” ujar Varo dengan rasa tidak sabarnya.
“Astaga Varo ... Daddy kamu baru saja selesai makan.. Tunggu sekitar sepuluh menit dulu kenapa? Kan kasihan Daddy!” saran Mommy Lusi dengan gelengan kepala, karena merasa heran dengan sikap Varo yang dianggapnya telah berubah 180 derajat.
“Tapi Varo harus segera membuktikannya Momm! Mana sekarang pesan Varo belum belum dibalas sama Bunga. Kan Varo jadi ikut kepikiran, apakah sebenarnya Bunga memeng telah pulang bersama dengan ayahnya, atau Daddy hanya salah lihat saja.”
__ADS_1
“Ya sudah, ayo berangkat daripada kamu nanti mati penasaran,” seloroh Daddy-nya.
Keduanya pun segera menuju ke rumah Askara untuk membuktikan apakah benar jika dia telah pulang atau Daddy Davide hanya salah lihat saja.
Sepanjang perjalanan Varo terus merasa gelisah saat tak kunjung mendapatkan pesan balasan dari Bunga. Bahkan saat ditelepon tiba-tiba nomernya sedang diluar jangkauan. Itu artinya Bunga sengaja mematikan ponselnya.
“Dadd, lebih cepat sedikit!”
Daddy Davide langsung menoleh kesamping, dimana Varo duduk. “Varo ... apakah kamu tidak bisa melihat jika ada perbaikan jalan? Daddy masih ingin bernapas, jadi kita jalan santai aja!”
Dengan berat hati Varo hanya pasrah saat mobil berjalan dengan santai, sehingga waktu sepuluh menit rasanya sudah seperti satu tahun lamanya.
Dan tanpa disadari kini mobil yang dikendarai oleh Daddy Davide telah berhenti di depan sebuah rumah yang besar nan megah. Namun, karena pintu gerbang telah dikunci, maka Varo memutuskan untuk turun dan bertanya pada sang scurity apakah kedua orang tuanya Bunga telah sampai di rumahnya atau belum.
“Pak Galangnya ada?” tanya Varo dari celah yang telah disediakan.
“Mas Galangnya belum pulang. Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan, atau Mas Varo mau nginep lagi disini kayak kemarin?”
“Tidak Pak, tidak ada! Aku hanya sekedar bertanya saja. Oh iya, Pak. Apakah om Kara dan juga tante Asha sudah pulang?”
Sang scurity langsung mengiyakan ucapan Varo. “Iya, Mas. Tuan sama Nyonya besar memang sudah pulang, makanya pintu gerbang bapak tutup,” jelas pak scurity.
“Apakah Bunga juga ikut pulang?”
“Tidak, Mas! Neng Bunga masih ditinggal disana untuk melakukan pengobatannya,” ucap pak scurity dengan santai.
__ADS_1
Apa? Jadi sebenarnya om Kara dan juga tante Asha udah pulang ke Indonesia tanpa Bunga. Argh ... kenapa bisa seperti itu? Lalu bagaimana keadaan Bunga sekarang?
...###...