Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
32 ~ Ternyata Varo


__ADS_3

Rasanya terlalu berat untuk ikut pergi, tetapi Bunga tidak ingin mengecewakan ayah dan bundanya, terlebih yang ingin ditemui adalah teman lama ayahnya.


“Udah siap?” tanya Askara saat Bunga telah muncul disampingnya.


“Udah yah,” jawab Bunga mengangguk dengan pelan. Namun, seketika matanya langsung mengalih pada sang adik yang duduk disamping ayahnya. “Kamu ikut juga?” tanya Bunga pada Galang.


“Ikutlah. Sekalian cuci mata,” jawab Galang dengan santai.


“Bunda mana?” tanya Bunga saat tak melihat bundanya.


“Bundamu masih dandan. Tunggu aja bentar lagi juga keluar. Kamu enggak dandan?”


“Kak Bunga enggak dandan udah cantik kok, Yah. Jadi enggak usah dandan. Iya kan kan, Kak?”


“Namanya perempuan ya cantik, Lang.”


Malam ini Askara memboyong semua anggota keluarga untuk melakukan makan malam bersama teman lamanya. Sebenarnya dia sudah lama Askara merencanakan, tetapi keduanya sama-sama masih sibuk dan belum mempunyai waktu yang tepat. Jadi malam ini saat teman lama Askara ada waktu, mereka pun langsung membuat janji untuk makan malam bersama.


“Kayaknya spesial banget temen Ayah. Sampai-sampai satu keluarga di bawah semua,” komentar Galang untuk memecah suasana hening didalam mobil.


“Tentu saja! Ayah dan temen ayah sudah lama tidak bertemu. Kami berdua ingin memperkenalkan keluarga kita agar saling mengenal,” jelas ayahnya.


Hanya memakan waktu kurang lebih sepuluh menit membelah jalanan, kini mobil yang dikendarai oleh Askara telah memasuki sebuah restoran yang tak asing untuk Bunga. Mendadak dadanya bergemuruh dengan sangat kencang ketika menyadari jika restoran itu adalah restoran yang sering dia kunjungi saat bersama dengan Varo.


“Bunga ... ayok! Kok malah bengong!” kata Bundanya saat melihat Bunga masih masih terpaku ditempatnya.


“Kak Bunga pasti lagi ingat sama Varo, ya? Secara inikah restoran favoritnya dia,” celetuk Galang.


“Benarkah?” sahut ayahnya.

__ADS_1


“Iya, Yah. Galang sering ngintilin mereka berdua.”


“Jadi selama ini diam-diam kamu ngintilin aku? Kamu keterlaluan, Galang!” Bunga terkejut dengan pengakuan sang adik. Jadi selama diam-diam Galang mengikutinya?


“Ya ... gimana lagi? Aku hanya ingin memastikan aja, Kak. Aku enggak mau Kakak disakiti sama Varo. Apalagi kakak itu terlalu polos. Nanti kalau kakak diapa-apain sama Varo gimana?”


Bunga tak bisa berkata-kata apa-apa lagi saat Galang terlalu over protective pada dirinya.


“Tapi aku itu bukan anak kecil, Galang! Aku bisa jaga diri aku sendiri! Terlebih aku ini kakak kamu!”


Askara dan Asha hanya melihat perdebatan kecil yang terjadi pada kedua anak mereka. Meskipun Galang adalah anak Bungsu, tetapi jiwanya bak anak sulung yang terus ingin melindungi. Mungkin karena Galang adalah anak laki-laki, jadi dia ingin melindungi saudara perempuannya.


“Tapi bagi aku, kak Bunga itu belum bisa menjaga diri kakak. Titik enggak pakai koma!” Galang pun akhirnya memilih untuk mengakhiri perdebatannya dengan sang kakak dan segera menyusul ayah dan bundanya yang telah menunggu di depan.


Kesal karena ditinggal, Bunga pun akhirnya menyusul langkah ayah dan bundanya dengan bibir yang masih mengerucut karena kalah berdebat dengan Galang.


“Udah, gak usah kamu pikirkan ucapan Galang! Bukankah selama ini sifat Galang memang seperti itu?” hibur Bundanya dengan tangan yang telah menggandeng tangan Bunga untuk masuk ke dalam restoran.


Dengan perasaan kesal, Bunga mengikuti langkah Bunda yang kini sedang menuju kesebuah meja. Namun, sebelumnya sang Bunda berpesan pada Bunga untuk tidak menunjukkan wajah kesalnya didepan teman ayahnya.


“Ingat, jangan cemberut!” bisik Bundanya, saat mereka berdua hampir sampai disebuah meja dimana sepasang suami-istri telah menunggunya.


Setelah sampai, Askara langsung memperkenalkan anak-anaknya pada Davide dan juga Lusi, teman lamanya.


Begitu juga Davide ingin sekali untuk memperkuat anak angkat yang telah dianggapnya seperti anak sendiri. Namun, sayangnya anak itu belum sampai.


“Kamu cantik sekali, Bunga. Sesuai dengan nama kamu,” puji Lusi.


Bunga hanya tersenyum kecil. Baginya pujian seperti itu sudah bisa dia dengar, tetapi dia tak ingin bertinggi hati, karena kecantikan tidak akan membuatnya hidup kekal. Lebih baik jelek, tetapi bisa hidup menua bersama dengan orang yang cintanya.

__ADS_1


“Tante juga punya anak seumuran dengan kamu. Dia juga tampan, tapi sayangnya dia udah punya pacar,” lanjut Lusi lagi.


“Jaman sekarang anak SMP sudah sold out, Tan. Apalagi anak kuliahan yang bening-bening,” celetuk Galang dengan spontan.


“Iya, kamu benar,” timpal Davide. “Tapi anak Om meskipun udah kuliah, dia juga baru pertama kali pacaran. Padahal di Australia banyak cewek cantik, tapi anak Om sama sekali enggak tertarik. Eh, ini baru enam bulan tinggal disini udah kecantol sama cewek disini. Padahal dia sempat ingin Om Jodohkan sama temen Om, tapi dia menolak. Om sebenarnya pemasaran dengan wanita yang sudah berhasil memikat hati anak Om yang terkenal dingin,” jelas Davide panjang panjang lebar.


Australia? Kok mendadak aku keringat sama Varo ya. Cerita Om Davide juga hampir serupa dengan ceritanya Varo. Ah, mungkin itu hanya sebuah kebetulan aja. Enggak mungkin anaknya Om Davide itu Varo. Jelas-jelas orang tua Varo udah enggak ada.


Bunga mencoba untuk menepis prasangkanya. Mungkin karena saat ini hatinya terisi oleh Varo sehingga pikirannya pun tak lepas darinya.


“Sama Om. Kak Bunga juga seperti itu. Meskipun dia cantik, tetapi dia baru pacaran beberapa bulan yang lalu. Itupun sama orang yang baru dikenal. Padahal orang lama udah pada ngantri. Mungkin bukan rezeki mereka. Iya kan Kak?” Seolah tanpa rasa bersalah, Galang meminta tanggapan dari kakaknya.


Jangan ditanya lagi bagaimana rasa kesal Bunga pada Galang, tetapi dia ingat pesan bundanya untuk tetap tersenyum agar tak membuat kesan buruk pada pertemuan pertamanya dengan Davide dan Lusi.


Entah sudah berapa lama orang yang ditunggu tak kunjung datang. Bunga sudah merasa bosan akhirnya memilih untuk ke toilet. Namun pada saat Bunga hendak berdiri dari tempat duduknya, seorang pria dengan napas tersengal telah berdiri disamping teman ayahnya.


“Maaf, aku terlambat. Tadi ada sedikit masalah dengan mobilku,” ujarnya.


Mata Bunga langsung membulat dengan lebar saat melihat sosok Varo begitu nyata di depannya. Bahkan Bunga mencoba untuk mempertajam penglihatannya untuk memastikan apakah itu adalah Varo atau bukan. Dan ternyata dia benar-benar Varo.


“Varo,” ucap Bunga.


Varo tak kalah terkejut saat melihat Bunga beserta keluarga besar ada dihadapannya. Tubuhnya masih membeku dengan sejuta rasa penasaran. Namun, seketika Daddy dan Mommy-nya langsung memperkenalkan Varo pada Askara.


“Jadi Varo anakmu?” tanya Askara yang merasa dunia terlalu sempit.


“Iya, dia anak kami. Apakah ada yang salah? Apakah kamu dan Varo sudah pernah bertemu?” Tanya Davide dengan heran pada Askara yang menunjukkan wajah terkejut.


“Wah ... ternyata dunia itu terlalu sempit. Ternyata sejak tadi kita membicarakan orang yang sama, Om!” seru Galang yang semakin tertarik kenyataan jika Varo adalah anak dari teman ayahnya.

__ADS_1


“Benarkah?”


__ADS_2