Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
39 ~ Galang Mabuk


__ADS_3

Karena tidak ingin kehilangan jejak, Varo nekat menunggu Galang di rumahnya, meskipun sudah diberitahu oleh penjaga keamanan jika Galang akan pulang malam, tetapi Varo tidak peduli. Dia tetap berteguh hati untuk menunggu Galang pulang.


Rasanya memang sangat membosankan, tetapi Varo harus segera mendapatkan kabar tentang Bunga saat itu juga. Terlalu lama mengulur waktu hanya akan membuat semakin berpikir yang tidak-tidak terhadap Bunga, karena mengingat kondisi Bunga saat pergi tidaklah membaik.


Tetap pukul sebelas malam, mobil yang dibawa oleh Galang baru masuk ke halaman rumahnya. Varo yang sudah lama menunggu pun sempat tertidur. Namun, saat Galang telah pulang, dia segera dibangunkan oleh seorang satpam yang bertugas untuk menjaga keamanan rumah.


Varo mengerjap dengan pelan sambil mengucek matanya. Sebelum memutuskan untuk bangkit, terlebih dahulu Varo mengecek jam menempel di ponselnya. “Jam sebelas malam,” gumam Varo dengan kening yang langsung mengerut. Dia merasa kaget dengan Galang yang pulang larut malam Entah dari mana dan apa yang telah dilakukan oleh Galang membuat Varo hanya bisa menghela napas kasarnya saja.


“Galang!” seru Varo saat Galang ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.


Galang yang merasa namanya dibalik langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok yang sangat dikenali. “Varo,” lirihnya dengan pelan.

__ADS_1


Varo segera berlari kearah Galang. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk menanyakan tentang Bunga padanya. Namun, saat jarak sudah sangat dekat, Varo langsung menautkan kedua alisnya. Dia benar-benar sangat terkejut saat mencium aroma alkohol dari tubuh Galang. Dengan cepat warung bertanya kepada Galang, “Galang, kamu mabuk?”


Dengan kesadaran yang masih dimiliki, Galang merasa heran pada Varo yang berada di rumahnya. Bukannya menjawab, Galang malah bertanya pada Varo. “Varo, kamu ngapain kesini?” tanyanya dengan sedikit sempoyongan karena sudah tidak sanggup untuk menopang dirinya sendiri.


“Aku capek, mau istirahat. Mending kamu pulang sana!”


“Galang, sebenarnya apa yang telah terjadi sama kamu, mengapa kamu seperti ini? Sadar Galang, enggak ada manfaatnya kamu mabuk-mabukan seperti ini! Kamu ini masih pelajar! Mau jadi apa kamu nanti!” Varo merasa sangat geram dengan Galang yang sudah berani untuk mencicipi minuman beralkohol. Sementara dirinya saja sama sekali belum pernah menyentuh yang namanya minum beralkohol, sekalipun tinggal di luar negeri.


“Dasar bocah!” gerutunya, tetapi Varo membantu Galang untuk masuk kedalam rumahnya.


“Varo ... kenapa kamu bantuin aku? Aku udah biasa seperti ini, jadi kamu enggak usah mengkhawatirkanku. Aku baik-baik aja. Pulang sana!” Lagi-lagi Galang mengusir Varo.

__ADS_1


“Kamu pikir aku akan nurut sama kamu? Tidak semudah itu, Galang. Sekarang dimana kamar kamu dimana, biar aku antar kamu!”


“Varo, tolong jangan berlebihan! Aku tidak butuh bantuan orang lain. Aku bisa sendiri untuk ke kamar. Kamu pulang sana!”


“Enggak mau! Jangan paksa aku untuk pulang, karena aku tidak ingin pulang!”


Dua karakter yang sama-sama keras. Namun, meskipun telah berulang kali diusir oleh Galang, tetapi tak membuat Varo menyerah dan pulang begitu saja, setelah penantiannya selama beberapa jam.


“Varo ... jika kamu memiliki satu kesempatan, apa yang ingin kamu lakukan? Mengejar mimpi atau mengejar wanita yang kamu cintai?” tanya Galang dengan tingkat kesadarannya yang hampir habis.


“Galang kamu sedang mabuk, jadi tidak usah bertanya kepadaku karena aku tidak akan memberikan jawabanku.”

__ADS_1


__ADS_2