
Malaysia…
Sudah beberapa hari ini Fadil tidak lagi mengirim makanan untuk Dewi. “Awak tak rindu keh sama Chik Fadil tu?” tanya Najla saat hendak berangkat ke kampus.
Dewi tersenyum, “Awak rindu ye? Suruh Your Zayed buat macam Chik Fadil.” Ucap Dewi dengan logat melayu mengikuti Najla.
Mereka tertawa bersama kemudian keluar dari apartment. “Ba’da zuhur, My Zayed ajak saye makan di café Chik Fadil. Awak nak ikut keh?”
Dewi menggeleng, dia selalu menolak jika harus datang ke sana. Dewi akan berusaha semampunya untuk menghindari tempat tersebut.
Siang pun tiba, Najla dan Zayed memasuki café seperti pelanggan yang lain. Cafenya selalu ramai karena makanan yang mereka sajikan memang enak serta kebanyakan pengunjung adalah mahasiswa dari Indo.
Setelah memesan makanan, Najla dan Zayed pun berbincang hingga makanan mereka tiba. Menikmati makanan sampai selesai kemudian mereka dikejutkan dengan seporsi keripik khas Indo yang disajikan di atas meja mereka.
“Sorry,-“
“Spesial from our Bos!” Zayed menatap Najla sementara gadis itu mengedikkan bahunya.
“Silakan dinikmati, saya jamin tak beracun!” ucap Fadil berdiri di dekat meja mereka.
Najla dan Zayed dilanda kebingungan karena kedatangan Fadil. “Boleh saya minta waktu sekejab?” tanya Fadil. Najlan dan Zayed mengangguk lalu Fadil pun mendudukkan dirinya di sana.
“Dewi pasti sudah cerita ke awak tentang saya kan?” Najla mengangguk sementara Zayed hanya menjadi pendengar saja.
“Saya nak minta maaf sama Dewi dan ingin berteman dengannya tapi dia tidak memberikan saya kesempatan untuk bicara. Saya nak minta tolong awak untuk menyampaikan keinginan saya ini pada Dewi, apa awak berkenan? Saya tahu dia marah dan benci sama saya tapi kami juga masih ada hubungan kerabat. Jika kami bisa berteman maka silaturrahmi antara keluarga kami akan kembali membaik. Tolong bantu saya untuk membujuk Dewi, saya ingin bicara dengannya supaya keluarga besar kami tidak lagi bermusuhan.”
“Oke! Saye tak janji tapi saya usahakan untuk bicara sama Dewi.” Ucap Najla.
“Terima kasih!”
“Same-same, kalau begitu kami pergi dulu.” Najla bangkit dari duduknya bersamaan dengan Zayed. Sepanjang jalan menuju kampus, Zayed mulai bersuara, “Najla, tak baik awak ikut campor perkara mereke.”
“Saye tak nak ikot campor. Saye hanya menyampaikan pesan saje, tak salah keh?”
“Tak. Tapi habis itu cukup ye!”
“Iye My Zayed!”
Malam harinya di apartment, Najla dan Dewi duduk bersama sambil menikmati makan malam ala mereka yaitu nasi goreng, ayam goreng serta ikan asin plus sambal terasi. Semua itu Dewi yang masak karena gadis itu pulang lebih cepat dari Najla.
“Dewi,-“ panggil Najla.
“Awak ketemu Fadil?” Tebak Dewi.
Najla mengangguk lalu mengatakan pesan Fadil untuknya, “Macam mana, Dewi?” Dewi menghela nafas. Ia kembali mengingat keluarganya di Indonesia. Bagaimana pun mereka tetaplah keluarga dan tidak seharusnya terlibat perang dingin serta memutuskan tali persaudaraan.
“Baiklah mungkin memang benar kami harus bicara. Nanti aku akan mendatanginya ke café.” Najla tersenyum kemudian kembali berbincang banyak hal.
Sementara di Indonesia, Fiqi sudah berada di rumah kakek-neneknya. Pria itu hanya bisa menunduk di depan para tetua yang menatapnya dengan tatapan marah seperti haramau yang akan menerkam mangsa hidup-hidup.
Tidak ada yang berbicara karena yang memiliki hak bersuara dalam sidang itu adalah kakek dan neneknya.
“Temui Abah lalu minta maaf dan lamar putrinya jika kamu ingin dianggap cucu di keluarga ini!” Fiqi mendongak hendak melayangkan protes tapi sayang, kakeknya sudah lebih dulu bersuara.
“Jangan coba-coba melawan! Kalau kamu tahu agama maka kamu tidak akan membantah permintaan Kakek.” Fiqi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Telepon wanita itu di depan kami semua lalu putuskan dia!”
Kini Fiqi kembali tersudut, “Kek,-“
__ADS_1
“Kakek tidak menerima bantahan! Kamu pilih orang tuamu atau perempuan itu? Semua keputusan ada di tanganmu!”
“Tapi ini tidak adil buat Fiqi, Kek.”
“Ck, tidak adil kamu bilang? Tahu apa kamu tentang keadilan. Telepon dia sekarang dan putuskan hubungan kalian!” air mata Fiqi luruh dengan sendirinya. Di depan keluarga besar serta para sepupunya, ia harus menyerah.
“Tunggu apalagi?” seru sang nenek.
Fiqi mengambil ponsel di saku celana kemudian menekan nomer kontak Dewi. “Hidupkan pengerah suara!” titah kakeknya lagi.
Para sepupu Fiqi mulai berbisik ria, “Seram juga keluarga kita ya?”
“Iya, gue gak habis pikir gimana nasib kita setelah ini.”
“Gila, buat nikah aja pake acara sadis begini. Apa kabar gue yang udah punya cewe.”
“Tidak ada kabar! Putuskan sekarang juga kecuali cewe loe anak alim ulama.” Celutukan dari beberapa sepupu Fiqi akhirnya berhenti saat panggilan Fiqi tersambung.
“Assalamualaikum, Akhi.” Ucap Dewi dengan nada bahagia sementara keluarga Fiqi justru mencibir.
“Walaikumsalam,” jawab Fiqi dengan suara tercekat. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya, baru kali ini ia kecewa terlahir dari keluarganya.
“Ada apa, Akhi? Kenapa diam?”
“Ukhti, Akhi mau minta maaf sama Ukhti karena sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan.”
Deg…
“Katakan yang jelas kalau kamu mau putus dan kamu akan menikah dengan gadis lain.” Seru sang Kakek membuat Dewi bangun dari duduknya.
Fiqi terisak dan Dewi mendengar itu dengan jelas, “Maafkan Akhi, Ukhti. Akhi tidak mampu melawan keinginan orang tua.”
Tuttt….
“Ambil ponselnya!” titah sang kakek pada putranya yang tak lain ayah dari Fiqi.
Kakek tua itu pun kembali menghubungi Dewi, “Hallo, kamu yang namanya Dewi?”
Dewi yang saat itu masih berpikir kalau yang baru saja ia dengar adalah mimpi kini sadar jika ini adalah nyata, “Iya, saya.”
“Ini Kakeknya Fiqi, mulai sekarang jangan pernah menghubungi Fiqi lagi karena dia sudah dijodohkan dengan putri seorang alim ulama yang sama-sama mengerti agama dan lulusan dari Kairo. Kamu pasti punya harga diri sebagai wanita untuk tidak menghubungi laki-laki yang sudah punya tunangan, bukan? Hubungan kalian sudah putus karena kami pun tidak sudi menerimamu di keluarga kami.”
Tutt…
Fiqi keluar dari ruangan tersebut tanpa memperdulikan ponselnya tapi saat langkahnya hampir mencapai pintu, sang kakek kembali memanggil.
“Mau kemana kamu? Kakek belum selesai? Ambil Hpmu ini!” Fiqi berbalik lalu mengambil ponselnya. Fiqi pikir sudah berakhir tapi nyatanya belum. Sang kakek justru memberikan instruksi baru untuknya.
“Telepon Abah sekarang dan katakan jika kamu akan melamar putrinya besok!” dengan berat hati serat amarah yang terpendam, Fiqi menghubungi nomer Abah sesuai permintaan sang kakek.
“Assalamualaikum, Abah.”
“Walaikumsalam, ada apa Fiqi?”
“Maaf Abah jika mengganggu Abah malam-malam. Fiqi ingin mengabari Abah kalau Fiqi berencana melamar putri Abah.”
Abah yang sedang bersama istrinya tentu saja terkejut dengan ucapan Fiqi, “Kenapa tiba-tiba? Ada apa sebenarnya? Lalu bagaimana dengan gadis pilihan hatimu?”
Fiqi tersenyum getir, “Kami sudah putus, Abah.”
__ADS_1
“Kenapa? Apa kalian ada masalah?”
“Jarak dan perbedaan cukup menjadi alasan untuk memutuskan suatu hubungan, Abah.”
“Apakah tidak bisa diperbaiki?”
“Tidak, Abah.” Bahkan orang lain seperti Abah saja masih berharap dirinya mendapatkan Dewi tapi keluarganya sendiri menginginkan mereka putus.
“Baiklah kalau begitu, kapan kamu ke rumah?”
“Insya Allah lusa, Abah.” Jawab Fiqi membuat semua mata keluarganya melotot.
“Baik kalau begitu. Tapi kamu tidak keberatankan jika melamar tanpa kehadiran calonmu. Karena putri Abah masih di Kairo sedang menyelesaikan tugas akhir.”
“Tidak masalah, Abah.”
“Baiklah kalau begitu, Abah tunggu kehadiranmu lusa. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Fiqi pikir sudah selesai tapi nyatanya belum, “Kenapa tidak besok saja?” protes sang kakek.
“Kekek mau melamar anak Abah dengan tangan kosong?” pertanyaan Fiqi membuat si kakek tua tersenyum senang, “Kakek lupa maklum faktor usia.”
Fiqi keluar dari ruangan besar itu. Ia butuh udara segar tapi belum sempat kakinya melangkah, sang kakek kembali memanggil.
“Berikan ponselmu! Nanti Kakek belikan yang baru sekaligus nomer baru! Kakek tidak mau kamu menghubungi wanita itu diam-diam.” Habis sudah kesabaran Fiqi. Hidupnya sudah disetir oleh keluarga sepenuhnya.
Fiqi menyerahkan ponselnya ke tangan sang kakek, “Ada lagi yang mau Kakek ambil dariku? Kenapa tidak sekalian saja Kakek ambil nyawaku? Biar Bapak dan Ibu tidak kecewa karena telah melahirkanku.”
Plakkk….
Tangan si kakek tua melayang keras ke wajah Fiqi. Pemuda itu tersenyum getir kemudia keluar dari sana dengan amarah yang membuncah.
Seorang sepupu Fiqi mengikuti dari belakang dalam jarak aman. Ia tahu bagaimana perasaan sepupunya itu saat ini. Fiqi mengambil motor kemudian memacu dalam kecepatan tinggi memecah malam sambil menahan tangis.
Motor Fiqi berhenti di pinggir laut, pemuda itu berteriak kencang seakan berlomba dengan suara deru ombak di lautan.
Hampir satu jam Fiqi menangis memeluk lutut, ia tidak mampu melawan orang tuanya. Dia gagal mempertahankan wanita yang dicintai, dia dipaksa harus memilih. Semua perasaan marah, kesal, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu membuatnya ingin muntah.
Tepukan bahu dari Furqan yang sejak tadi memperhatikannya dari jauh membuat Fiqi menoleh. “Minum!” Furqan memberikan sebotol air mineral ke tangan sepupunya.
Pria itu duduk di samping Fiqi dalam diam. “Tragis banget nasibku, bukan?” tanya Fiqi lirih.
“Hem, nasib terlahir dari keluarga yang luar biasa mencengangkan.” Jawan Furqan diiringi senyuman kecil.
“Kenapa tidak kau beli racun tikus saja?”
“Aku tidak mau masuk penjara gara-gara dituduh membunuh sepupu yang sedang patah hati.”
Mereka kembali diam seraya menatap lautan dalam gelapnya malam. Hanya lampu kecil dari kapal nelayan yang terlihat seperti bintang di langit malam.
Furqan menyodorkan ponselnya ke hadapan Fiqi, pria itu tersenyum getir. “Aku tidak sanggup lagi bicara dengannya. Semakin aku bicara semakin menyakiti perasaannya. Kakek sudah memberinya luka yang teramat sangat dan aku yakin saat ini dia juga sedang menangis. Dan besok harus kembali ceria dengan semua kegiatan dan kenyataan yang sering menyakitkan hati.”
“Jangan pesimis, semua ini ujian. Bahkan saat janur kuning terbentang pun semua masih bisa terjadi atas kehendak sang pencipta. Jadi, jangan putus asa. Kita punya Allah yang mampu melakukan segalanya, kenapa kamu merasa sendiri jika penciptamu ada di dekatmu. Mintalah padanya! Allah tidak akan mengecewakan hambanya.”
“Amin!”
__ADS_1
***
LIKE...KOMEN...tinggalkan jejak supaya aku tahu kalian masih di sini....makasih...