
Kara mencoba untuk tidak percaya dengan kabar yang didengarnya. Dia tetap tidak yakin jika Bunga belum meninggal. Bahkan Kara sempat menelpon kembali dokter Frans untuk memastikan lagi tentang kondisi. Namun, kabar duka tetaplah kabar duka, Bunga benar-benar tiada.
Asha yang awalnya berusaha untuk tetap tegar, kini tak berdaya lagi dan beberapa kali sempat tak sadarkan diri.
Pikiran Kara yang semakin kacau langsung menyuruh Jimin untuk menyiapkan tiket untuk penerbangan detik itu juga.
“Ayah ... Bunda ... kalian kenapa? Kalian mau kemana?”
Galang yang baru saja masuk kedalam rumah merasa sangat terkejut dengan sang Bunda yang masih terisak dalam tangisnya, bahkan sebuah koper juga sudah berada di samping Bundanya.
“Galang ... ” Asha langsung menghambur untuk memeluk Galang untuk menumpahkan isak tangis kesedihan. “Galang ... kakak kamu ... ”
“Bunda tenang dulu. Kenapa kak Bunga?”
__ADS_1
“Bunga pergi ... Dia udah pergi meninggalkan kita. Galang .... katakan pada Bunga jika ini hanya mimpi!”
Jantung Galang seakan ingin berhenti untuk berdetak. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bundanya. Tidak mungkin jika sang kakak pergi begitu cepat.
“Bunda ... Bunda ngomong apa? Bukankah Kak Bunga sudah berjanji akan segera pulang? Bunda ... jangan bercanda!”
“Bunda enggak bercanda, Galang! Oleh sebeb itu Ayah dan Bunda akan berangkat kesan” timpal Kara yang kini telah siap untuk berangkat.
Dada Galang kian bergerumuh ketika sang ayah mengiyakan kabar tentang kakaknya yang dikatakan telah tiada. Rasanya memang sulit dipercaya dan seperti hanya mimpi.
Kabar tentang meninggalkannya Bunga telah menyebar keseluruhan karyawan yang ada di kantor. Bahkan meskipun saat ini Kara sedang terbang ke tempat Bunga melakukan pengobatan, rumahnya ramai dengan orang-orang yang bertakziah. Mulai dari para karyawan, rekan kerja dan juga ada beberapa teman kampus Bunga yang turut berdukacita ke rumah Bunga.
Varo yang mendengar pun juga langsung meluncur ke rumah Bunga. Berulang kali dian mencoba untuk menghubungi nomer Galang, tetapi tidak bisa. Mungkin karena saat ini Galang sedang berada di pesawat sehingga nomor teleponnya tidak aktif.
__ADS_1
“Galang benar-benar sangat keterlaluan! Bisa-bisanya dia menyembunyikan berita duka seperti ini. Apakah dia sudah lupa de4 janjinya?” gerutu Varo dengan hati yang terasa sangat sakit. Varo berharap jika kabar duka ini hanyalah sebuah mimpi dan Varo juga berharap jika esok semua akan baik-baik saja.
“Bunga ... jangan bercanda denganku! Kamu sudah berjanji padaku jika kamu akan segera pulang. Apakah kamu tidak mengingat janji kita, Bunga? Apakah kamu sama sekali tidak mencintaiku? Kamu kejam, Bunga!”
Remuk hati ketiga satu-satunya orang yang dicintainya memilih pergi untuk selama-lamanya. Bahkan Varo belum bisa membahagiakan Bunga. Dia belum sempat mewujudkan semua mimpinya Bunga, tetapi Bunga malah pergi begitu saja.
Ternyata tidak hanya teman kampusnya yang datang, tetapi semua teman-temanna Galang jugaa turut hadir untuk berbela sungkawa.
“Varo ... katakan jika ini tidak nyata! Ini hanya sebuah prank. Iya kan, Var!” kata Candra yang baru saja datang. Dia juga tidak percaya dengan kabar duka tentang Bunga. Dia yakin jika Bunga belum pergi, karena Bunga adalah wanita yang sangat kuat.
“Can ... aku tidak tahu apakah berita ini benar atau tidak. Aku juga tidak percaya jika Bunga telah tidak ada,” balas Varo dengan wajah datarnya.
“Semoga saja ini hanya mimpi buruk. Semoga saat kita membuka mata, semua baik-baik saja,” sambung Candra dengan penuh harap.
__ADS_1
“Semoga saja,” timpal Varo.
...###...