Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
BAB 52


__ADS_3

Selama pertemuan baru tidak bisa tenang karena pandangannya terus tertuju pada sosok dokter muda yang baru saja bergabung dalam timnya. Jantungnya yang tahan lama tidak bisa bergetar kini tiba-tiba mulai bergetar lagi, seakan membangunkan rasa yang telah mati.


Menurut perkenalan nama dokter muda itu adalah Melati. Dokter yang baru satu tahun lulus dari universitas kedokteran ternama di kotanya, tetapi sudah mempunyai prestasi yang sangat luar biasa sehingga sang direktur tertarik untuk membawa dokter melati masuk ke dalam rumah sakitnya.


Selama pertemuan itu juga mata dokter Melati sering memperhatikan Varo yang terus menatapnya. Dan setelah acara Usai Varo segera mengajar dokter Melati yang berusaha untuk meninggalkan ruang rapat.


“Dokter Melati, tunggu!” teriak Varo.


Mendengar namanya dipanggil, dokter Melati pun langsung menoleh ke belakang. “Iya, ada apa?”


“Apakah nama anda benar-benar Melati?”


Melati tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan dari Varo. “Iya. Nama saya asli Melatih. Ini tanda pengenal saya. Tapi ngomong-ngomong mengapa kamu bertanya seperti itu?” Melati menyadarkan sebuah kartu nama kepada Varo.


Rasanya tidak percaya jika wanita yang ada di depannya saat ini adalah Melati, karena Varo yakin jika dia adalah Bunga.


“Apakah kamu sama sekali tidak mengenaliku? Jika kamu memang sengaja untuk menyembunyikan identitas aslimu Kamu sungguh keterlaluan. Aku tahu nama asli kamu bukan Melati.”


Melati tertawa kecil. Entah siapa pria yang ada dihadapannya sehingga dia begitu yakin jika dirinya sedang menyembunyikan nama aslinya. “Maaf, kamu ngomong apa? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu. Mungkin kamu salah mengenali orang.” Melati pun memilih untuk meninggalkan Varo.


Entah mengapa Varo begitu yakin jika Melati itu adalah Bunga, memilih untuk mengejarnya Kembali. Namun, sayang langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang mendatangi Melati.

__ADS_1


“Selamat bekerja. Aku bawakan bekal untukmu, karena sebagai seorang dokter kamu tidak boleh mengabaikan kesehatanmu. Kamu tetap harus makan tepat waktu,” ucap pria itu sambil memberikan sebuah kepada m


Melati.


“Ren, kamu berlebihan! Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa makan di kantin.”


“Aku tidak peduli. Oh, ya ... aku tidak bisa berlama-lama di sini karena aku juga mempunyai pasien yang sedang membutuhkanmu. Meskipun kita tidak berada di rumah sakit yang sama tetapi hati kita masih sama. Kamu semangat ya kerjanya,” ucap Reno sebelum meninggalkan Melati.


“Ya udah sana! Aku juga mau bekerja!”


Varo hanya bisa menahan rasa sesak di dalam badannya saat melihat interaksi antara wanita yang dianggap Bunga dengan seorang pria.


“Kenapa? Jangan bilang kamu jatuh cinta pada dokter Melati itu? Dokter Reno yang mempunyai wajah tampan dan rupawan saja belum bisa menaklukkan hatinya, apalagi kamu yang hanya mempunyai ketampanan standar, jangan bermimpi!” ujar Hans dari belakang Varo.


“Hei ... tunggu!” teriak Hans ketika telah ditinggal oleh Varo.


***


Hampir satu harian sibuk dengan pasien yang harus ditangani, membuat Varo merasa sedikit lelah. Ingin rasanya segera pulang dan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, tetapi rasanya itu hanya mimpi, mengingat Varo masih memiliki jadwal operasi pada pasiennya.


Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Satu persatu dokter pembantu sudah bersiap untuk pulang, tetapi tidak dengan Varo yang telah menjadi dokter tetap di rumah sakit itu. Dia harus standby dengan pasien yang membutuhkan penanganannya.

__ADS_1


“Var, lusa adalah waktu cuti. Apakah kamu tidak berencana untuk mengunjungi sebuah tempat atau hanya akan mengunakan waktumu di rumah sakit untuk bersama dengan para pasien?” tanya Hans saat berada di ruangan Varo.


Selama mengabdi di rumah sakit, Varo hampir tidak pernah mengambil liburannya untuk. Dia memilih menggunakan waktu liburannya untuk bertemu dan berbincang pada pasien yang menderita kanker yang tidak hampir tidak mempunyai semangat hidupnya. Dia memberikan kekuatan agar mereka tetap semangat dan optimis jika penyakit mereka akan sembuh.


“Pergi ke sebuah tempat hanya akan membuang uangku saja. Terlebih jika pergi bersama denganmu, pasti kamu akan langsung menguras isi dompetku,” celetuk Varo.


“Itu kan tidak setiap hari, Varo. Libur kita juga cuma satu hari dalam satu pekan. Apakah kamu tidak merasa bosan jika terus berada rumah sakit seperti ini? Aku saja sebenarnya sangat bosan, tetapi aku butuh uang.”


Tak terasa jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan waktu setempat dan sebentar lagi jadwal operasi akan segera dilakukan. Varo pun memilih untuk mempersiapkan diri terlebih dahulu.


Saat Varo hendak menuju ke toilet, tak sengaja dia berbatasan dengan Melati yang masih berada di rumah sakit, padahal jadwalnya sudah habis. Varo memperlambat langkahnya untuk menyapa wanita itu.


“Bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Varo yang masih merasa penasaran dengan sosok Melati.


“Maaf, aku sedang sibuk.”


Varo tersenyum kecut saat melihat ekspresi penolakan yang dilakukan Melati. “Oke, aku tidak akan memaksamu. Aku hanya ingin berpesan padamu jika aku merindukanmu,” ujar Varo yang kemudian memilih terlalu meninggalkan Melati begitu saja.


Tubuh Melati masih dengan pandangan yang masih menatap Varo terlalu tanpa sedikitpun ingin menoleh kepadanya. Helaan napas terdengar begitu berat. Entah mengapa dadanya terasa saat mendengar kata aku merindukanmu. Rasanya kata-kata itu melekat dalam hati dan sulit untuk dilupakan.


“Aku Melati, bukan Bunga! Aku harus kuat karena aku bukan Bunga.”

__ADS_1


...###...


__ADS_2