
Mendengar jika sang anak telah menanam bibit sebelum waktunya, membuat kedua orang tuanya merasa gagal untuk menjadi orang tua. Anak yang selama ini mereka didik dengan dengan baik dan penuh cinta kasih ternyata tak mampu melempar kotoran ke wajahnya.
“Galang ... kamu sungguh keterlaluan! Bisa-bisanya kamu menghamili wanita yang belum kamu nikahi. Dan lebih parahnya lagi kamu enggak mau bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan. Kamu sadar gak sih perbuatan kamu bisa menghancurkan keluarga kita, terutama dengan perusahaan Ayah kamu. Kamu enggak mikir sampai situ?” Asha benar-benar sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh Galang.
Anak yang dianggap penutur dan bertanggung jawab ternyata bisa melakukan hubungan terlarang tanpa ikatan yang sah.
“Bunda ... maafkan Galang. Galang khilafah,” sesal Galang saat berada dihadapan Bundanya.
“Cih, Khilaf! Udah kejadian kayak gini baru ngomong khilaf! Kayak enggak sadar aja pas lagi nanamnya. Enak sih, enak! Tapi ingat konsekuensinya, terlebih kamu ini masih pelajar dan belum nikah. Seenggaknya ingat jika kamu mempunyai kakak perempuan. Bagaimana jika itu terjadi kepada kakak kamu? Apa yang akan kamu lakukan?” geram Kara, yang kini hanya bisa pasrah untuk menghadapi konsekuensi dari perbuatan Galang.
“Tapi Tea enggak keberatan saat diajak untuk melakukannya, Yah. Jadi jangan salahkan sebenarnya kepada Galang!"
“Astaga Galang! Nyebut, Nak! Sekalipun Tea mau diajak untuk melakukan penanaman, tetapi kalian berdua itu belum mempunyai ikatan yang sah. Seharusnya jika kamu benar-benar mencintai Tea, kamu tidak akan merusaknya dan akan menjaga dia hingga kalian mempunyai ikatan yang sah,” sambung Bundanya.
Galang dan Tea yang sudah di mabuk asmara sama-sama tidak berpikir panjang dengan apa yang mereka lakukan. Keduanya hanya mengikuti hawa nafsu yang terus menyulut hatinya untuk terus melakukan hubungan terlarang hingga akhirnya Tea dinyatakan hamil.
“Bunda benar-benar sangat kecewa denganmu, Galang!” Asha yang merasa sangat kecewa memilih untuk meninggalkan Galang yang baru saja pulang, padahal waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
“Selesaikan sendiri masalah yang telah kamu buat! Jangan sampai perusahaan Ayah sampai terkena dampak atas masalahmu ini. Jika perusahaan Ayah kena imbasnya, maka kamu siap-siap keluar dari rumah ini tanpa membawa fasilitas yang telah Ayah berikan untuk kamu!” Kini sang Ayah pun berlalu meninggalkan Galang.
Terdiam tanpa kata, Galang berjalan lesu untuk menuju ke kamarnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika kedua orang tuanya langsung mengetahui masalah yang sedang menimpanya. Bukan Galang tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi dia memang belum siap karena dia masih duduk di bangku sekolah yang sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir.
“Argh ... sial! Kenapa juga Tea harus hamil saat mendekati waktu ujian seperti ini, sih!” gerutu Galang sambil menjambak rambutnya dengan kasar.
...***...
Baru saja menghirup udara kantor, kini Askara sudah harus menghadapi satu persatu masalah yang ada di kantornya. Ternyata tanpa pengawasan darinya banyak masalah yang menimpa perusahaannya yang sengaja disembunyikan oleh asisten pribadinya, karena dia tak ingin membuat menambah beban pikiran bosnya yang sedang menemani anaknya untuk melakukan pengobatannya di luar negeri.
“Kanapa kamu tidak memberitahuku, Jim?”
__ADS_1
Jimin, seorang tangan kanan sekaligus asisten Kara hanya bisa membuang napas kasarnya. Sebelumnya dia berpikir jika bisa menyelesaikan masalah yang ada sebelum bosnya pulang. Namun, ternyata bosnya pulang secara mendadak di saat dirinya belum bisa menyelesaikan masalah yang ada.
“Maaf, Bos. Saya terpaksa menyembunyikan masalah ini karena saya tidak ingin mengganggu pikiran anda yang sedang menemani putri Anda. Saya pikir saya bisa menyelesaikan masalah ini sebelum anda pulang. Sekali lagi saya minta maaf,” sesal Jimin.
“Sudahlah! Percuma saja kamu ingin minta maaf, karena tetap tidak akan menyelesaikan masalah yang ada.”
Baru saja Kara menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya, tiba-tiba suara telepon berdering. Dengan cepat Kara langsung mengangkat.
“Iya, halo.”
Seketika tubuh Kara membeku dengan bola mata yang membulat dengan lebar mengarah pada Jimin.
“Suruh dia masuk!” titah Kara sebelum menutup teleponnya.
Kara pun menghela napas beratnya. “Jimin, kenapa ujian hidupku begitu berat. Apakah ini adalah hukuman atas masa laluku?”
Jimin terdiam tanpa kata. Dia tidak bisa mengomentari tentang masa lalu bosnya, karena Jimin yakin semua orang mempunyai masa lalu yang tak bisa untuk dipublikasikan.
Suara ketukan pintu membuat Kara harus membuang nafas dalam-dalam karena dia sudah tahu siapa yang akan menemuinya.
“Masuk!”
Pintu pun terbuka dan memperlihatkan pria tengah baya yang kini berjalan mendekat ke arah meja Kara dengan tatapan tajamnya.
Jimin yang awalnya duduk di depan Kara langsung berdiri dan langsung menyilahkan tamu bosnya untuk duduk. “Silahkan duduk, Tuan,” ucapnya pada pria itu.
Tak ada senyum sekalipun telah diberikan sambutan oleh Jimin, karena saat ini pria itu sedang menuntut keadilan untuk putrinya.
“Tuan Askara yang terhormat, saya rasa Anda telah mengetahui alasan saya datang untuk menemui Anda. Dan saya juga yakin jika Anda mengenal saya. Tanpa ingin membuang banyak waktu, saya ingin menuntut Anda jika anak Anda tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan kepada istri saya. Saya sudah bersikeras meminta pertanggungjawaban dari anak Anda tetapi dia lepas tangan. Jadi melalui Anda saya ingin keadilan untuk putri saya,” ujar Max, yang tak lain adalah ayah dari Tea.
__ADS_1
Rasanya semakin sesak saat mengetahui jika anak yang telah dihamili oleh Galang adalah anak dari salah satu rivalnya.
“Anda tenang saja karena memberikan keadilan untuk putri Anda, Tapi tolong jangan sangkut pautkan masalah ini dengan bisnis yang sedang kita jalani. Saya yakin jika Galang, putra saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
“Tapi itu sudah terlambat Tuan Kara! Karena putra Anda yang tidak mau bertanggung jawab atas benih yang dia semai, putri saya depresi dan saat ini sedang sakit. Bahkan dia juga hampir gila. Apakah putra Anda bisa mengembalikan kondisi putri saya seperti semula? Tidak kan?”
Saat ini Kara benar-benar sangat tertekan. Sebagai seorang ayah Kara tak tahu apa yang tengah dirasakan oleh Max, karena saat ini putrinya sendiri juga sedang berjuang untuk melawan penyakitnya.
“Aku tahu. Semua memang salah Galang. Lalu apa yang Anda inginkan Tuan Max?” tanya Kara yang merasa pasrah tidak bisa memberikan pembelaan apa-apa untuk putranya, karena dia memang bersalah.
“Aku mau dia mengambilkan putriku seperti sedia kala. Aku beri waktu tiga bulan untuk memulihkan depresinya. Jika tidak bisa, aku langsung menuntun Anda.”
Dengan berat hati, Kara mengiyakan permintaan Max. Mungkin hanya dengan cara seperti itu dia bisa melindungi perusahaan, karena Kara tahu bagaimana kekuatan seorang Max, yang mempunyai banyak jaringan dimana-mana.
Setelah mendapatkan sebuah kesepakatan, Max langsung meninggalkan ruangan Kara. Namun, sebelum pergi, Max berpesan kepada Kara agar putranya segera bertanggung jawab kepada putrinya secepatnya.
“Bos, Anda tidak apa-apa?” tanya Jimin, saat melihat Bos-nya membuang napas kasar dan memijat pangkal hidungnya.
“Aku tidak apa-apa. Hanya saja kepalaku terasa sakit. Tolong panggilkan tukang pijit, tanpa pakai lama!” titah Kara.
“Baik, Bos. Saya akan segera mencari tukang pijat untuk Anda.” Jimin pun langsung meninggalkan ruangan bosnya.
Dalam langkahnya, Jimin masih memutar otak untuk mencari tukang pijat, karena dia benar-benar tahu harus mencari kemana karena dia sendiri tidak pernah melakukan pijat menijat.
“Kemana aku harus mencari tukang pijat ya?” gumam Jimin sepanjang langkahnya.
Namun, detik kemudian wajah yang sejak tadi ditekuk kini bisa ditarik kembali karena merasa telah menemukan jalan keluarnya.
“Untung aja Mbah Google yang bisa diandalkan.” Jimin merasa lega setelah membaca sebuah artikel di ponselnya tentang tukang pijat.
__ADS_1
“Yang penting tukang pijat. Mau plus-plus mau min-min yang penting tukang pijat,” lanjut Jimin sambil memasukkan ponselnya kedalam sakunya.
...###...