
Sepanjang malam Varo belum bisa memejamkan mata. Kini banyak pikiran yang bercabang di kepalanya, terlebih saat pertanyaan Galang yang masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.
Varo merasa Galang sedang dalam masalah, tetapi pria itu tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
“Galang, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Aku yakin jika saat ini kamu sedang mempunyai masalah sehingga kamu mencoba untuk mencari pelarian. Dan satu-satunya pelarianmu adalah mengkonsumsi alkohol berlebihan. Itu bukan cara yang tepat, Galang! Katakan, ada apa?” Varo mencoba bertanya pada Galang yang kini sudah dia bawa ke kamarnya.
Meskipun sedang dalam pengaruh alkohol, tetapi Galang masih bisa merespon ucapan Varo. “Varo ... kini aku tau mengapa kakakku begitu tergila-gila denganmu, itu karena kamu sangat jenius. Ya kamu sangat jenius, bisa menebak apa yang sedang aku alami.”
Varo hanya bisa menghela napas kasarnya. Dia segera menjatuhkan tubuh Galang diatas tempat tidurnya. “Katakan, apa yang sedang kamu alami!”
Galang tertawa pelan. Bola matanya menatap Varo dengan tajam. “Sekalipun aku menceritakan apa yang sedang aku alami kamu tidak akan pernah bisa membantuku untuk menyelesaikannya.”
__ADS_1
“Benarkah? Aku jadi penasaran seberapa berat masalah yang sedang kamu alami. Bukankah kamu tadi sempat mengatakan jika aku sangat jenius? Katakan, aku akan membantumu untuk menyelesaikan masalahmu!”
Galang yang awalnya tertawa pelan kini mendadak menangis. “Varo ... apakah kamu tau apa masalahku? Aku telah membuat anak orang hamil dan saat ini aku dituntut untuk bertanggung jawab sedangkan aku masih sekolah. Apa yang harus aku lakukan jika ayah dan bunda sampai mengetahuinya.”
Seketika Varo langsung membulatkan matanya dengan lebar karena sangat terkejut dengan pengakuan Galang yang ternyata diam-diam dia lebih suhu karena telah menghamili anak orang.
“Aku pastikan jika Ayah kamu sampai mengetahui masalahmu, dia pasti akan memintamu untuk bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan. Kamu sudah berbuat berarti kamu juga sudah harus siap untuk bertanggung jawab. Apakah saat kamu membuat masalah itu kamu tidak pernah memikirkan konsekuensinya? Dasar bocah!”
“Varo ... aku pria normal. Apakah saat kamu berciuman dengan kak Bunga, tak ada getaran yang menjalar di tubuhmu. Jika tidak ada, berarti kamu bukan pria normal. Kak Bunga itu cantik, banyak pria yang mendekatinya, termasuk dengan Candra. Tapi dia selalu menutup pintu hatinya. Ternyata hatinya telah dia simpan untuk kamu.”
Mencintai seseorang, bukan berarti harus membuka segelnya lebih awal, karena cinta yang sesungguhnya adalah menjaga kesuciannya hingga waktu sah telah tiba.
__ADS_1
“Kamu sedang mabuk. Tidurlah! Aku akan disini, karena ada yang ingin aku bahas denganmu.”
Perlahan Galang telah hilang kesadaran dan jatuh ke alam bawah sadarnya. Berbeda dengan Varo yang masih belum bisa memejamkan mata, karena pikirannya belum bisa tenang. Bayangan Bunga terus saja muncul dalam kepalanya, meskipun Varo telah mencoba untuk menepisnya.
Malam yang panjang berlalu begitu saja. Awalnya Varo tidak bisa untuk memejamkan mata, tetapi pada akhirnya terserap juga dengan rasa kantuk yang menyerangnya. Hingga tanpa di sadari kini sang mentari telah bersinar kembali.
Suara alarm dari ponsel Galang telah berbunyi. Itu artinya Galang harus bangun untuk segera berangkat ke sekolah lagi. Meskipun Galang mabuk-mabukan setiap malam, tetapi dia masih ingat dengan sekolahnya. Apapun yang terjadi di malam hari, Galang segera menutupnya agar tidak tak bisa tercium oleh orang tuanya.
Perlahan Galang mulai mengerjap dengan pelan. Saat dirasakan tubuhnya terasa berat, Galang langsung menoleh kesamping. Dilihatnya seseorang sedang tidur dengan pulas. Bahkan saking pulasnya, orang tersebut tidak menyadari dimana tangan dan kakinya berada.
“Astaga ... mengapa dia bisa tidur disini?” tanya dengan heran saat melihat Varo tidur sambil memeluk dirinya. Karena merasa geli, Galang segera menyingkirkan tangan dan kaki Varo yang sedang menimpa tubuhnya. “Argh ... sialan! Mengapa aku bisa tidur satu ranjang dengan Varo?” umpatnya dengan kesal.
__ADS_1
“Varo bangun!” seru Galang sebelum beranjak dari tempat tidurnya.
Varo mencoba membuka matanya saat dia mendengar namanya di panggil. “Galang, apa yang kamu lakukan?”