Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
38 ~ Waktu Yang Tidak Akan Lama Lagi


__ADS_3

Jangan pernah memberi harapan jika pada akhirnya hanya akan kamu patahkan. Jangan memberi janji, jika tak bisa kamu tepati. ~Varo~


Setiap detik, setiap menit, setiap waktu hanya digunakan untuk memikirkan satu nama yang hingga saat ini tak kunjung memberikan sedikitpun kabar. Rasanya terlalu sakit saat Varo tak kunjung mendapatkan kabar tentang Bunga. Bahkan hampir setiap hari Varo mengunjungi rumah Bunga, tetapi dia tak pernah bisa bertemu dengan Galang. Entah kemana perginya anak itu sehingga sangat susah untuk ditemukan.


“Varo, kamu kenapa? Sakit?” tanya Mommy-nya saat Varo terlihat pucat.


“Kamu sakit?” sambung Daddy-nya.


Varo hanya membuang napas kasarnya serta menarik kursinya. “Varo baik-baik aja,” jawabnya dengan lemas.


“Benarkah? Tapi Mommy melihat kamu tidak seperti biasanya. Apakah ini masih ada hubungannya dengan Bunga? Apakah sampai saat ini dia belum mengirimkan kabar?”


Kepala Varo mengangguk dengan pelan. “Iya, Mom. Sampai saat ini Bunga tidak memberi kabar bahwa nomor teleponnya pun tidak bisa untuk dihubungi. Varo takut telah terjadi sesuatu Bunga.”


“Benarkah?”


Varo langsung menatap kearah Mommy dengan wajah lesunya. “Mom, bantu Varo, dong! Mommy dan Daddy kan berteman dengan orang tua Bunga. Bisa tidur jika Mommy dan Daddy menghubungi Om Kara untuk menanyakan kabar tentang Bunga. Varo sudah tidak punya cara lagi bagaimana caranya untuk menghubungi mereka,” pinta Varo.


Mommy Lusi langsung menatap sang suami. Bukan karena tidak mau untuk membantu, tetapi mereka saja juga tidak bisa menghubungi nomor Askara maupun nomor Asha. Lalu bagaimana mereka bisa membatu Varo?


“Maaf, Sayang tapi Daddy dan Mommy tidak bisa membantumu karena, kami berdua juga tidak bisa menghubungi nomor Askara maupun nomor Asha. Daddy juga sudah berusaha untuk mencari tahu tentang masalah itu, tetapi sampai saat ini Daddy belum mendapatkan titik terangnya,” jelas Mommy Lusi pada Varo.


Mereka berdua sudah mencoba untuk menghubungi Askara yang saat ini sedang membawa Bunga untuk melakukan pengobatan di luar negeri, tetapi nomor mereka tidaklah aktif.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang telah terjadi kepada mereka?” gumam Askara setelah mendengar penjelasan dari Mommy-nya.


“Mungkin Askara ingin fokus kepada kesembuhan Bunga, sehingga dia mematikan teleponnya. Namun, apa salahnya jika dia memberikan kabar tentang keadaannya agar tidak membuat kita khawatir,” sambung Daddy-nya Varo yang juga merasa kecewa dengan sikap Aksara.


“Apakah kamu belum bertemu dengan Galang?” tanya Mommy-nya.


Varo menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Belum, Mom.”


Mommy Lusi tau betul bagaimana perasaan Varo yang sangat mengkhawatirkan keadaan Bunga. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya cara hanyalah menemui Galang untuk mencaritahu mengapa tak ada satupun nomor milik orang tuanya yang bisa dihubungi.


“Sudahlah, Mommy yakin jika saat ini Bunga baik-baik aja. Bukankah dia adalah wanita yang kuat. Mommy yakin Bunga bisa melewati semuanya dengan baik.”


“Daddy setuju dengan Mommy kamu, Varo. Daddy yakin jika Bunga baik-baik aja. Berdoa saja, semoga Bunga selalu dalam lindungan Tuhan,” timpal Daddy-nya.


“Iya, Dadd. Varo selalu berdoa untuk kesembuhan Bunga.”


Jauh diseberang sana ...


Askara dan juga Asha memang sengaja mematikan nomer ponselnya, karena merasa tidak tau akan menyampaikan kabar yang seperti apa pada keluarga Varo. Jika Askara berbohong, dia takut akan Varo dan keluarganya kecewa. Namun, jika dia mengatakan jujur, Askara tidak tau bagaimana Varo akan menerimanya, karena saat ini kondisi Bunga sudah sangat memburuk. Bahkan dokter spesialis yang dipilihnya saja sudah mengatakan jika Bunga tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.


“Ayah ... tolong jangan beritahu yang sebenarnya kepada Varo. Bunga tidak ingin Varo tahu jika Bunga tidak bisa bertahan lebih lama lagi,” ujar Bunga pada ayahnya.


Sebagai seorang pria dan ayah, Askara mencoba untuk menguatkan hatinya. Orang tua mana yang sanggup saat melihat keadaan putrinya yang dinyatakan tak akan bisa bertahan lebih lama lagi.

__ADS_1


“Kamu tenang saja, Ayah tidak akan memberitahu kepada Varo tentang kesehatanmu. Kamu jangan pikirin ucapan dokter, karena itu hanya sebuah prediksi aja. Ayah, yakin kamu bisa melewati semua ini dengan baik, karena kamu adalah anak kuat.”


Asha yang berada di samping Bunga mencoba untuk tidak meneteskan air matanya. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan Bunga. Sebisa mungkin Asha mencoba untuk kuat, meskipun rasanya sangat sakit. Yang dia sesali mengapa selama ini tidak mengetahui jika sang anak sedang sakit, meskipun seringkali melihat wajah Bunga yang terkadang terlihat pucat.


Andaikan saja Bunga segera mendapatkan pengobatan, mungkin penyakitnya tidak akan separah ini. Namun, semua sudah terlambat. Penyakit Bunga sudah menyebar luas hingga tak ada lagi sebuah harapan untuk tetap bertahan.


Senyum kecil terukir lebar di bibir Bunga. Sejenak awal dia sudah tidak yakin jika hidupnya bisa bertahan lebih lama. Namun, demi Varo, dia berusaha untuk melakukan kemoterapi dengan harapan bisa sembuh. Namun, nyatanya penyakit Bunga malah kian memburuk.


“Ayah, andaikan Bunga tidak bisa bertahan, tolong sampaikan permintaan maafan Bunga untuk tante Gina. Katanya padanya jika pria yang pernah Bunga singgah ke rumahnya saat itu adalah Varo. Bunga juga minta tolong kepada ayah untuk menyatukan Varo dengan Tante Gina. Tante Gina telah menyadari semua kesalahan yang diperbuatnya dan saat ini sedang menerima karmanya. Kasihan dia, Yah. Hidup sebatang kara dengan keadaan yang memperihatinkan,” ucap Bunga panjang lebar.


Askara mengangguk dengan pelan sebagai tanda menyetujui keinginan Bunga. “Iya. Ayah akan menyatukan mereka berdua. Semoga saja Varo bisa memaafkan apa yang telah diperbuatnya oleh Gina.”


Jauh dari sumber penyemangatnya, membuat kondisi kesehatan Bunga semakin drop. Rasanya dia sudah lelah untuk berjuang, karena pada akhirnya dia akan pergi. Rasanya hanya sia-sia saja saat dia berusaha untuk melakukan berbagai macam pengobatan, karena semua itu tidak akan mengubah kenyataan yang ada.


Varo ... maafkan aku yang tidak memberikan kabar padamu. Aku takut jika setelah mendengar suaramu aku semakin takut dan tidak rela jika sewaktu-waktu malaikat menjemputku. Aku takut semakin egois pada diriku sendiri. Taukah Varo, dokter disini mengatakan jika waktuku hanya tersisa sekitar satu bulan lagi. Jika tau akan seperti ini, aku tidak akan mau untuk terbang kesini, Varo. Varo ... aku lelah ....


Mendadak Bunga terisak dalam tangisnya. Sungguh dia tidak sanggup jika harus pergi dalam waktu yang sesingkat itu. Padahal masih banyak tugas yang belum tercapai. Salah satunya menemukan Ghea, saudara tirinya Varo yang telah lama menghilang.


“Ayah ... Bunda. Bunga ingin beristirahat,” ucap Bunga pada dua orang yang berada disampingnya.


Seketika Ayah dan Bunda mengerti dengan ucapan Bunga dan langsung meninggalkan kamar rawat Bunga. "Ya udah, Bunda keluar ya. Nanti jika butuh apa-apa panggil ayah dan bunda. Kita berdua ada di depan pintu,” ujar bundanya.


Kepala Bunga hanya mengangguk pelan serta senyum yang tak pernah luntur, sekalipun saat ini hatinya sedang hancur.

__ADS_1


“Terima kasih ayah, terima kasih Bunda atas pengertianya.”


...###...


__ADS_2