
Rasanya sangat berat saat harus melepaskan orang yang dicintai. Namun, demi kesembuhan, Varo mencoba untuk berlapang dada melepaskan Bunga untuk menjalani pengobatannya di luar negri sana. Berharap Bunga bisa menepati janjinya untuk segera pulang.
“Varo ... meskipun sebenarnya Om masih kecewa dengan kebohonganmu, tetapi Om berterima kasih karena kamu sudah membantu Bunga untuk melakukan kemoterapi sehingga. Doakan Bunga agar bisa melewati masa pengobatan dengan baik dan bisa segera pulang. Om berjanji, setelah Bunga sembuh, Om akan kabulkan keinginanmu untuk langsung menikahi Bunga,” ucap Askara sebelum pergi.
Varo tersenyum tipis dengan mata yang masih menatap lekat pada Bunga yang kini duduk di kursi rodanya.
“Om Kara, terima kasih atas kepercayaan Om Kara untuk Varo. Varo berjanji akan tetap menunggu Bunga pulang.”
Varo melangkah pelan untuk mendekati Bunga. Setelah sampai, Varo berjongkok agar bisa menatap wajah Bunga dengan lekat. Dengan cepat Varo mengambil sesuatu dari kantong celananya.
Sebuah kotak beludru berwarna marun telah berada tetap di depan mata Bunga.
“Varo, kamu mau apa?” tanya Bunga saat Varo memegang tangannya.
Tak ada jawaban. Hanya seuntai senyum yang mengembang lebar. Tanpa kata, Varo langsung membuka kota beludru yang ada ditangannya.
Sebuah cincin berlian yang sangat berkilau membuat Bunga sangat terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Varo, ini apa?”
“Sebelum kamu pergi, aku ingin mengikatmu dengan cincin ini agar disana kamu selalu mengingatku.” Tanpa membuang waktu Varo langsung memasangkan sebuah cincin ke jari Bunga.
“Ya ampun, Varo ... ini bagus banget.” Bunga merasa sangat shock saat mengetahui jika cincin yang telah menyemat di jarinya adalah cincin berlian.
“Dengan cincin ini, aku harap kamu akan selalu mengingatku, karena disini aku menunggumu.”
__ADS_1
Kedua orang tua Bunga merasa sangat terharu dengan ucapan Varo yang sangat tulus. Tidak salah jika sejak kecil Askara sangat mengharapkan Varo untuk menjadi pendamping Bunga, karena Varo adalah pria yang tulus dan bertanggung jawab.
“Aku berjanji akan terus mengingatkanmu dan aku akan tetap berjuang untuk kesembuhanku.”
Karena sudah hampir tiba waktunya pesawat akan take off, Askara pun meminta maaf karena harus segera membawa Bunga pergi. Namun, sebelum pergi Bunga meminta satu permintaan. Bunga ingin memeluk tubuh Varo untuk beberapa detik saja.
”Ayah, bisakah Bunga memeluk Varo untuk sebentar saja?”
Askara mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa dia memberikan izin. Dia juga memberikan waktu sejenak untuk dua insan yang sebentar lagi akan berpisah. “Oke, tapi jangan lama-lama!”
Rasanya sangat nyaman saat berada didalam pelukan Varo. Entah kapan lagi Bunga bisa merasakan pelukan hangat dari pria yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya itu.
“Varo, aku pasti akan selalu merindukanmu. Jika kelak aku tidak kembali, tolong hiduplah dengan bahagia. Aku tidak mau melihat kamu terus-menerus meratapi kepergianku. Dan aku juga meminta agar kamu bisa menjaga orang tuaku, termasuk Galang. Dia adalah anak yang paling ceroboh. Tolong kamu bimbing dia agar menjadi pria yang berguna di masa depannya.” Air mata Bunga jatuh begitu saja. Sungguh terasa berat, tetapi Bunga tidak punya pilihan lain.
Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi kepada dirinya. Jika tidak kembali berarti Bunga gagal dalam pengobatannya, karena saat ini penyakit yang sedang bersarang di dalam tubuhnya sudah memasuki stadium paling akhir. Dimana sudah tidak ada kemungkinan hidup lebih lama. Namun, kembali lagi, hidup dan mati hanya ada di tangan Tuhan. Itu artinya ada sepercik harapan untuk sembuh dengan jalur langit.
“Varo, bisakah aku minta sesuatu kepadamu?”
“Kamu mau minta apa?”
Bunga langsung melepaskan pelukannya dan menatap Varo dengan bibir yang tersenyum lebar. “Bisakah aku menciummu untuk yang terakhir kalinya?”
Varo langsung terbelalak dengan lebar ketika mendengar permintaan Bunga, padahal jelas-jelas di sampingnya ada orang tuanya. Namun, karena Varo tidak ingin memberikan rasa kecewa kepada Bunga, dia langsung mengangguk dengan lebar.
__ADS_1
Bunga yang mendapatkan jawaban persetujuan merasa sangat bahagia. Satu kecu*pan mendarat di pipi Varo. Meskipun singkat, tetapi Bunga merasa sangat lega bisa mencium Varo.
Seketika tubuh Varo memegang. Meskipun bukan ciuman bibir, tetapi mampu memporak-porandakan jantungnya.
“Varo, terima kasih.”
Entah mengapa rasanya tidak terima saat Bunga mengatakan itu adalah ciuman yang terakhir kalinya. Apakah itu artinya Bunga tidak akan kembali lagi. Namun, Varo langsung menepis prasangkanya, karena dia harus yakin jika Bunga akan sembuh dan segera pulang.
“Ayah, Bunga sudah selesai. Ayo kita berangkat.”
Askara diam-diam mengeluarkan air matanya dan saat dipanggil oleh Bunga dia pun langsung segera mengusap jejak air matanya. Begitu juga dengan Asha yang sejak tadi tidak bisa membendung air matanya.
Sebuah lambaian tangan mengarah pada Varo yang masih membeku. Dengan rasa dada yang sesak, Varo memilih diam hingga bayangan Bunga tak terlihat lagi. Bahkan Varo juga berniat untuk melihat pesawat yang dinaiki oleh Bunga naik lepas landas.
“Bunga, aku berharap kamu bisa melewati pengobatanmu dengan baik. Disini aku pasti akan sangat merindukanmu. Tuhan ... tolong jaga Bunga dimanapun kamu berada.”
Sepeninggal Bunga ke luar negeri, Varo kembali pada pengaturan awal. Dimana dia tidak ingin peduli dengan orang-orang disekitarnya dan juga menutup rapat kembali hatinya. Semua itu dia lakukan untuk menunggu sang pemilik hati kembali pulang.
“Varo, Mommy perhatikan beberapa hari ini kamu sangat lesu dan tidak bersemangat untuk berkuliah. Apakah kamu sedang ada masalah dengan seniormu?” tanya Mommy Lusi saat masuk ke dalam kamar Varo.
“Tidak Momm. Varo baik-baik aja, kok. Hanya saja saat ini Varo sedang malas untuk keluar.”
“Benarkah? Apakah semua ini tidak ada hubungannya dengan Bunga? Mommy sih liatnya saat ini kamu sedang memikirkan Bunga,” tebak Mommy Lusi.
__ADS_1
Ya Bagaimana mungkin Varo tidak memikirkan Bunga yang sampai sekarang belum memberinya kabar. Tentu saja Varo merasa tidak tenang.
...###...