
Mimpi buruk yang benar-benar menjadi nyata. Rasanya masih tidak percaya akan takdir Tuhan yang begitu cepat mengambil Bunga. Ya, meskipun semua akan kembali kepada sang pencipta, tetapi rasanya belum siap jika harus secepatnya ini.
Kesedihan pun juga dialami oleh orang tua Varo yang juga tidak menyangka jika Bunga akan pernah secepat ini. Karena mereka saat ini sedang berada di Australia, mereka tidak bisa terbang menyusul Kara ke tempat Bunga di tempat pengobatan. Ingin pulang untuk menghibur Varo pun juga tidak bisa karena Daddy-nya masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Terdiam dalam kesunyian malam, Varo hanya bisa menatap gelapnya langit malam. Biasanya akan ada banyak bintang yang bertaburan, kini hanya beberapa bintang yang terlihat bersinar. Seolah alam pun ikut merasakan apa yang sedang Varo rasakan.
“Bunga ... kenapa kita harus dipertemukan lagi jika pada akhirnya kamu hanya akan pergi untuk meninggalkanku. Lebih baik saat itu itu kita tak bertemu lagi agar aku tak perlu merasakan sakit seperti ini. Aku benci kamu Bunga! Kamu pembohong! Kamu bilang kamu akan segera kembali pulang, tapi nyatanya kamu malah pergi untuk selamanya.”
Tak ada satupun teman yang bisa diajak bercerita untuk mengeluarkan rasa sesak di dalam hatinya. Jika tidak mengingat akan kuliahnya, Varo pasti akan menyusul ke tempat Bunga berada untuk melihat kali terakhirnya.
Cukup lama Varo berdiam diri di balkon sambil menatap gelapnya langit malam. Tiba-tiba suara ponsel membuyarkan lamunan Varo.
“Galang.”
__ADS_1
Nama Galang muncul dilayar ponsel. Dengan cepat Varo langsung mengangkat panggilan dari Galang.
“Halo Galang. Galang, katakan kabar ini tidak benar kan?” tanya Varo dengan rasa tidak sabar.
Dari seberang, Galang masih membisu. Rasanya sangat berat untuk menjawab pertanyaan Varo, karena pada kenyataannya Bunga memang telah tidak ada.
“Varo, berita ini benar. Tapi aku sendiri belum bisa untuk melihat langsung keadaan Kak Bunga. Penerbang kami mengalami kendala sehingga pesawat melakukan pendaratan darurat. Varo ... aku hanya ingin memberitahumu jika Kak Bunga tidak akan dimakamkan di Indonesia. Ini semua permintaan terakhir kak Bunga. Aku harap kamu mengikhlaskan kak Bunga agar dia bisa damai di alamnya.”
Varo yang mendengar ucapan Galang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya terlalu sakit untuk menerima takdir yang sedang tidak berpihak kepada dirinya.
Karena tidak ada yang ingin di bahas lagi, akhirnya panggil telpon pun terputus. Meskipun tidak rela, tetapi Varo tetap mengikhlaskan Bunga agar Bunga tenang di alam barunya.
“Bunga .... tanpa kamu minta untuk ikhlas, aku sudah mengikhlaskanmu. Bahagialah kamu sekarang Bunga agar kamu merasa puas!”
__ADS_1
***
Tidak selamanya langit malam akan terlihat gelap, karena akan ada bintang malam yang akan memberikan penerangan dalam kegelapan. Begitu juga sang bulan yang akan ikut andil untuk memerangi gelapnya malam. Tidak sampai disitu, bahkan sang Fajar adalah satu-satunya yang mengubah gelapnya malam menjadi terang benderang.
Hati ku yang semula gelap karena kepergian Bunga, kini perlahan mulai menghilang. Varo yang pernah merasakan hancur, kini sudah kembali bangkit. Dia sadar, larut dalam kesedihannya tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, sehingga Varo meyakinkan diri untuk tetap kuat.
Tsk terasa waktu begitu cepat berlalu. Hari terus berjalan begitu cepat, hingga tak terasa kini telah dua tahun berlalu. Kesedihan yang dimiliki oleh Varo telah tergantikan dengan sebuah cita-cita mulia, dimana Varo memilih untuk melanjutkan kembali kuliahnya ke luar negeri karena dia ingin mengambil jurusan kedokteran.
Varo sudah meyakinkan diri untuk menjadi manusia yang berguna untuk sesama. Dengan menjadi seorang dokter, Varo bisa membantu orang-orang yang membutuhkan orang tangannya. Tujuan utama Varo ialah melanjutkan cita-cita Bunga ia ingin menjadi seorang dokter.
“Varo ... apakah kamu yakin dengan keputusanmu, Sayang? Daddy dan Mommy pasti akan sangat merindukanmu.” Lusi merasa sangat berat untuk melepaskan Varo untuk pergi ke luar negeri demi sebuah cita-cita mulia.
“Varo sangat yakin dengan keputusan ini, Momm. Doakan Varo bisa menjadi manusia yang berguna sehingga bisa membantu banyak orang yang membutuhkan. Tanpa doa Daddy dan Mommy, Varo tidak akan merasa tenang disana, jadi hari ini izinkan Varo untuk menggapai sebuah mimpi besar, Momm,” balas Varo.
__ADS_1
“Jika kamu pergi, lalu bagaimana dengan perasaan Mommy. Mommy tidak pasti akan sangat merindukanmu, Varo.”
“Sama, Momm. Varo pasti akan sangat merindukan Mommy. Tapi demi sebuah cita-cita, Varo harus bisa menahan rasa rindu. Mommy doakan Varo bisa menjadi seorang dokter seperti apa yang diharapkan oleh Bunga. Varo berharap jika Bunga merasa bahagia ketika cita-citanya ada yang meneruskan.”