Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
Rebutan...


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Dewi, Bang Reja yang merupakan senior mereka diam-diam menaruh hati sama Dewi tapi sayangnya, Eva sudah mencegat perasaan seniornya dengan mengatakan jika Dewi sudah memiliki kekasih. “Maaf, telat! Tadi makan dulu habis kuis.” Ucap Eva begitu sampai di ruang HMJ yang merupakan ruang tempat berkumpulnya para senior jurusan bahasa inggris.


“Bagaimana kuisnya?”


“Lancar, Bang. Cuma kalah dua poin dari Dewi. Jawaban dia 100 % benar semua.”


“Kok bisa?” Eva mengedikkan bahu.


“Makasih Abang sudah bantuin ngasih kisi-kisi soal ya! Kuis sama Pak Maimun tidak bisa diprediksi.”


“Sama-sama. Kapan-kapan kita jalan, mau?”


“Dalam rangka?”


“Ya jalan aja. Abang pengen kenal kamu lebih jauh.”


Eva tersenyum kemudian mengangguk, “Boleh. Nanti kabari aja. Tapi Abang yakin gak ada rasa lagi sama Dewi?”


“Setelah mendengar  ceritamu, Abang jadi malas. Ternyata benar kalau penampilan tidak mencerminkan kepribadian.”


“Yups!”


Dan di belakang Dewi, Eva pun menjelek-jelekkannya hingga tidak heran di masa lalu, Dewi tidak pernah menjalin hubungan dengan senior yang ia sukai atau menyukainya. Di masa lalu, Dewi tidak merasa janggal dengan itu semua bahkan ketika senior yang semula ramah dengannya tiba-tiba berubah datar seolah tidak kenal.


Dewi seolah merangkai kembali puzzle hidupnya dengan satu per satu kejadian di masa lalu. Tanpa sepengetahuan teman-temannya, Dewi mendatangi Bang Reja di ruang HMJ. Reja merupakan senior yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa bahasa inggris. Tidak hanya pintar, dia juga tampan dan lembut serta memiliki senyum yang manis.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Dewi langsung. Reja menatap satu persatu temannya.


“Ada apa? Kita bicara di sini saja.”


“Baiklah kalau itu mau Abang. Aku hanya ingin tahu apa yang sudah Eva katakan sama Abang tentang aku?”


Gleg… Reja melirik teman-temannya, “Selesaikan di tempat lain, Ja!” ucap Iskandar selaku ketua HMJ.


“Ikut Abang!” Dewi mengikuti Reja keluar dari ruang HMJ menuju kantin bagian belakang. Dua gelas teh dingin datang setelah Reja memesan untuk mereka. “Apa maksudmu tanya begitu?” tanya Reja.


“Aku hanya ingin tahu kenapa Abang berubah belakangan ini? Dulu Abang selalu tersenyum kalau ketemu aku tapi belakangan ini Abang memandang aku seperti gadis menjijikkan. Memangnya aku ada salah apa sama Abang?”


Dewi mulai merasa janggal dengan perubahan sikap seniornya itu setelah beberapa minggu lalu. Awalnya Dewi mengira jika Reja tengah banyak tugas dan lagi capek tapi setelah mengetahui kalau Reja menghubungi Eva maka insting Dewi langsung bekerja. Sebelumnya, hubungan Reja dan Dewi termasuk akrab apalagi setelah Dewi bersama Ayi dan Rani berhasil menjadi pemenang debat tapi lambat laun hubungan keduanya menjadi berjarak.


“Kamu punya pacar jadi Abang tidak mau mengganggumu.”

__ADS_1


“Apa masalahnya? Pacar ya pacar, teman ya teman. Kita berteman dan aku menganggap Abang sebagai teman dan senior lalu di mana masalahnya?”


“Abang suka sama kamu awalnya tapi setelah tahu kamu ternyata punya pacar, Abang jadi ingin menjaga jarak. Itu saja!”


“Itu saja? Atau ada lagi yang Abang dengar?”


“Tidaka ada!”


“Okelah kalau begitu! Berarti Abang ingin menjaga jarak? It’s ok! Aku tidak masalah dengan itu. Semoga keputusan Abang tepat karena penyesalan selalu datang terlambat.”


“Apa maksudmu?”


“Tidak ada! Bye!” Dewi pergi meninggalkan Reja dengan kalimat ambigu yang membuat Reja penasaran.


Hari-hari berlanjut dan hubungan Dewi dengan Fadil terjalin lancar melalui telepon atau pun pesan tanpa sepengetahuan Eva. Jika Dewi menikung Eva dengan berhubungan diam-diam dengan Fadil dari mulai berbalas pesan hingga bicara melalui saluran telepon. Eva juga melakukan hal yang sama pada tanpa Dewi tahu. Hasutan Eva melalui Reja berhasil menyebar ke sesama senior. Apalagi nilai Dewi terus melonjak di peringkat atas dalam semua mata kuliah. Dewi yang sebelumnya tidak pernah berada di atas Eva kini selalu mendapatkan peringkat tertinggi hingga membuat isi terus merebak di kalangan mahasiswa bahasa inggris.


“Tidak mungkin! Apa kalian percaya gosip murahan begini?” tanya Rani pada Ayi dan beberapa teman yang sedang berkumpul di kos Ayi. Sementara Dewi pergi entah kemana.


“Tidak ada asap kalau tidak ada api, Yi. Aku mendengar ini dari para senior dan anak-anak leting lain.” Sahut Liyanti. Liyanti memang mengenal banyak mahasiswa seangkatan dari berbagai unit sehingga tidak heran jika gosip itu sampai ke telinganya.


“Tapi kita sudah berteman dengannya bukan baru kemarin. Kita juga tahu dia itu punya pacar. Sangat tidak mungkin kalau Dewi jadi selingkuh sama dosen. Aku tidak percaya ini.” Rani masih bersikeras dengan pendapatnya.


“Apa kamu tidak menyadari kalau dia sering sekali hilang saat ini. Dia selalu menghilang tanpa kita tahu.” Sahut Ayi.


“Si Eva ada! Tadi dia lagi jalan sama Bang Reja. Dengar-dengar mereka sudah mulai pendekatan.” Sahut Liyanti membuat semua teman-temannya terkejut.


“Eva sama Bang Reja? Wow, gosip hangat lagi!” celutuk Aida.


Benar yang mereka pikirkan jika saat ini Dewi tengah bersama Fadil di café ReTweet tanpa sepengetahuan siapa pun.


“Wi, mau jadi pacar Abang?” tanya Fadil serius sembari menatap Dewi.


Wanita itu tertawa, “Abang becanda jangan kelewatan. Jangan suka ngeprank!”


“Abang serius! Mau jadi pacar Abang?”


“Memangnya Abang tidak punya pacar?”


“Kalau Abang punya ngapain Abang ngajak kamu pacaran? Mending Abang pergi sama pacar Abang.”


“Aku pikir-pikir dulu, boleh?”

__ADS_1


“Kamu gak suka sama Abang? Atau jangan-jangan kamu sudah punya pacar?”


“Kalau sudah punya pacar ngapain aku ke sini sama Abang?”


“Nah, itu tahu! Jadi bagaimana?”


“Aku takut Abang selingkuh! Kita kan jauh. Kalau jadi pacar Abang berarti kita LDR dong. Terus, Abang bisa setia gak?”


“Abang janji setia!”


“Kalau cuma ngomong, Beo juga bisa. Buktiin dong!”


“Kamu mau bukti apa?”


“Yakin mau menuruti keinginanku?”


“Em, katakan saja!”


“Aku ingin periksa ponsel Abang, boleh?”


Gleg…


Dewi tersenyum, “Benar kan? Ada yang Abang sembunyikan dari aku! Ya sudah, jangan memaksa. Aku hanya bercanda. Aku tidak seposesif itu sampai periksa ponsel pacar.”


Fadil menatap Dewi dengan alist bertaut, “Kalimat terakhir itu apa maksudnya ya?”


“Kira-kira menurut Abang?” Dewi bermain kata dengan Fadil.


“Aku tidak seposesif itu sampai memeriksa ponsel pacar. Itu artinya kamu menganggap Abang pacar kamu?” Dewi tersenyum kemudian mengangguk.


“Makasih ya! Abang pikir kamu bakal nolak.”


“Tapi aku tetap akan memeriksa ponsel Abang lain kali. Kalau sekarang tidak keburu, aku harus pulang!”


“Ya sudah, ayo! abang antar!” keduanya pergi meninggalkan café. Lima menit setelah kepergian mereka, Eva dan Reja datang ke café ReTweet bersama.


“Dek, kamu mau jadi pacar Abang?”


“Abang serius? Terus perasaan Abang ke Dewi gimana? Aku tidak mau dijadikan pelarian.”


“Seperti yang sudah Abang katakan, Abang tidak mau lagi mengenal dia. Abang jijik sama sama dia.”

__ADS_1


Eva tersenyum penuh kemengan, “Semua yang kamu sukai akan kurebut! Bersiaplah, Wi!”


***


__ADS_2