Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
BAB 54


__ADS_3

Sebuah panggilan dari Hans membuat Varo harus bergegas untuk ke rumah sakit. Entah bisa-bisanya dia terlambat bangun, padahal pagi ini ada operasi pagi di rumah sakit. Semua ini karena bayang-bayang masa lalu yang kembali hadir dalam pikirannya.


“Apakah tadi malam kamu begadang?” tanya Hans saat Varo masuk kedalam ruang ganti.


Varo tak menjawab pertanyaan Hans, karena baginya tak penting. Yang paling penting saat ini dia harus segera masuk ke ruang operasi, karena sebentar lagi operasi akan segera di mulai.


“Varo ... aku sedang bertanya padamu! Kamu tadi malam ngapain? Apakah kamu mengunjungi club malam, atau berkencan dengan seorang wanita?”


Varo langsung menghentikan langkahnya dan menatap Hans dengan tatapan tajamnya. “Apakah kamu pikir aku sama dengan kamu yang suka menghabiskan malam di tempat seperti itu? Maaf, aku tidak seburuk itu! Daripada mengunjungi tempat seperti itu, mending aku mengunjungi panti jompo!”


Hans langsung terdiam. Selama bersama dengan Varo, belum sekalipun Hans melihat Varo mengunjungi club malam. Bahkan saat diajak pun Varo selalu menolaknya. Sangat tidak mungkin jika tiba-tiba Varo datang ke club malam seorang diri.


“Iya ... iya, sorry! Abisnya kantong mata kamu terlihat sangat jelas dan kamu kesiangan bangun. Selama aku mengenalmu, kamu adalah pria yang sangat disiplin tentang waktu, tetapi tidak dengan kali ini. Apakah kamu sedang ada masalah?” tanya Hans ingin tahu.


“Apapun masalahku, bukan urusanmu!” Varo pun kini Ben berlalu meninggalkan Hans begitu saja. Berbicara terlalu lama hanya akan membuang waktunya saja.


Hans hanya menghela napas panjang dan mengikuti langkah Varo untuk menuju ke ruang operasi, dimana saat ini pasien telah menunggu kedatangan Varo dan juga dirinya.


***


Terkadang hati tidak bisa dibohongi. Meskipun bibir berkata tidak, tetapi hati tetaplah jujur.


Disaat Bunga ingin menepis tentang perasaannya, tetap saja tidak bisa karena dia adalah Bunga, sekalipun dengan identitas yang baru. Bunga yang sangat mencintai Varo, Bunga yang selalu merindukan Varo dan Bunga yang selalu berharap bisa hidup bahagia bersama dengan Varo. Namun, seketika perasaan itu harus ditepis karena saat ini dia adalah Melati, bukan Bunga.


Berada ditempat baru membuat Bunga merasa sedikit gugup, terlebih dia harus bekerja satu tim dengan Varo. Tentu saja hatinya terus terguncang, apalagi harus menghadapi pasien bersama-sama.


“Dokter Melati, apakah Anda sakit?” tanya Hans saat melihat Melati jalan dengan gontai.

__ADS_1


Melati pun tersentak karena tiba-tiba ada yang bertanya kepada dirinya. “Oh, tidak. Aku tidak sakit.”


“Oh ... syukurlah. Soalnya sejak tadi saya perhatikan Dokter Melati terlihat murung dan lesu. Apakah tadi pagi belum sarapan? Kalau belum, mari kita makan di kantin. Di kantin makanan enak, kok.”


Bukan masalah tentang sarapan, tetapi masalah tentang hati yang tiba-tiba terasa berdenyut saat dia harus berpura-pura tidak mengenali Varo, padahal sudah jelas dia sangat merindukan Varo.


“Kamu duluan aja. Aku masih ada harus mengurus pasien,” tolak Melati.


“Ah, sayang sekali. Tapi tidak apa-apa, next time bisa kan kita makan bersama?”


Melati hanya tersenyum tipis. Rasanya tidak enak jika dia harus memberikan sebuah penolakan. Dengan terpaksa Melati mengangguk dengan pelan.


“Oke, next time kita makan bersama.”


***


Meskipun berada di dalam satu rumah sakit yang sama dan dalam satu tim yang sama tetapi tak membuat Varo mempunyai banyak waktu untuk melihat sosok Melati yang dianggapnya sebagai Bunga. Dokter baru itu ternyata juga mempunyai pekerjaan yang sibuk, meskipun dia adalah dokter baru di rumah sakit itu. Bukan hanya menangani para pasien yang sedang membutuhkan pertolongannya, tetapi juga melayani konsultasi para pasien yang menderita kanker.


Satu keturunan pintu membuyarkan lamunannya. Setelah mengucapkan kata masuk, tiba-tiba matanya harus terbelalak dengan lebar ketika melihat siapa yang datang ke ruang kerjanya.


Dadanya bergemuruh dengan sangat kencang, bahkan bibirnya menganga karena rasa keterkejutannya.


“Kamu ... ”


Sambil berjalan pelan ke arah Melati, Varo menyungingkan senyumnya. “Selamat siang, Dokter Melati. Maaf jika kedatanganku mengejutkanmu. Kedatanganku ke sini karena ada seseorang yang menitipkan bekal makan siang untuk anda.” Tangan Varo langsung meletakkan sebuah paper bag di atas meja Melati.


“Sungguh romantis pacar Anda ya.”

__ADS_1


“Dia bukan pacarku! Jangan sok tahu!” tepis Melati.


“Oh, benarkah. Sayang sekali padahal Anda berdua itu terlihat sangat cocok. Apakah Anda sama sekali tidak tertarik dengan pria itu? Padahal di luar sana banyak wanita yang mengantri untuk menjadi pacarnya. Atau mungkin .... Anda telah memiliki pacar.” Varo sekilas melirik kearah Melati yang mencoba untuk menahan napas, karena dadanya yang terus bergerumuh.


“Maaf, jika sudah tidak ada kepentingan silakan Anda keluar dari ruangan saya! Saya masih memiliki pasien yang harus saya tangani!” usir Melati.


“Dokter Melati, apakah anda lupa jika ini adalah jam istirahat? Itu artinya Anda sedang bebas dari pasien.”


Melati hanya bisa menelan kasar salivanya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh Varo. Mungkin dia sudah mengetahui sebuah kebenaran jika dirinya adalah Bunga?


“Maaf Dokter Varo, sebenarnya apa yang anda inginkan? Apakah Anda juga ingin mengajakku untuk makan bersama seperti yang ditawarkan oleh teman Anda tadi? Jika iya, maaf saya tidak bisa karena saya akan makan bekal yang telah dikirimkan oleh teman saya.”


Varo langsung menarik sebuah tempat duduk yang berada tepat di hadapan Melati. Matanya terus menatap tajam, seolah sedang ingin memangsa. Cukup lama dua insan saling bersitatap, hingga akhirnya Varo membuang tatapannya.


“Apakah kamu kira, kamu terlalu pandai untuk bermain petak umpet denganku? Sayang sekali, kamu tidak bisa mengalahkanku. Aku tahu jika kumu itu adalah Bunga, benarkan?”


Melati sungguh merasa sangat gugup. Bagaimana bisa Varo begitu cepat mengenali jika dia adalah Bunga.


“Maaf Dokter Varo, Anda sepertinya Anda terlalu percaya diri. Saya bukan Bunga seperti yang anda sebutkan, tetapi saya adalah Melati,” tepis Melati lagi


“Meskipun seribu kali kamu berbohong, aku tetap tidak akan percaya karena jidat kamu telah tertulis nama Bunga. Masih mau mengelak?”


Melati yang tak lain adalah Bunga langsung memegang jidatnya sambil menggosok dengan pelan. “Benarkah? Tapi tidak mungkin! Anda jangan bercanda Dokter Varo! Ini tidak lucu!”


Varo tertawa kecil untuk menertawakan sikap Melati yang masuk ke dalam perangkapnya. “Apakah aku juga harus membelah da*damu untuk membuktikan jika kamu adalah Bunga?”


“Varo! Ini tidak lucu!” sentak Melati.

__ADS_1


Seketika tersenyum smrik. Tidak diragukan lagi jika wanita yang ada di depannya ini benar-benar Bunga.


...###...


__ADS_2