
Hari-hari berikutnya, Fadil rutin mengirimkan sarapan ke apartment Dewi tapi sayangnya, gadis itu tidak pernah menyentuh pemberian Fadil. Najla sendiri tidak berani menyentuh makanan itu karena mengingat perkataan Dewi waktu itu.
“Di tempat tinggalku masih ada yang mempercayai ilmu belas kasih. Apa bila ayat itu dibacakan pada makanan terus makanannya di makan oleh orang yang dituju makan orang tersebut akan terikat hati dan pikirannya dengan si pembaca ayat tadi.” Dewi mengatakan dengan menggunakan bahasa melayu untuk beberapa kosa kata suapa memudahkan Najla memahami.
Sejak saat itu, jangankan meminta, mengintip saja tidak pernah lagi. Dewi dan Najla kompak memberikan makanan tersebut pada kucing liar di luar apartment.
Di Indonesia…
Ayi sedikit terkejut saat mendapati mantan temannya sudah berdiri di depan rumah setelah memberi salam. Eva tersenyum, “Maaf kalau kedatanganku mengganggumu.” Ayi menghela nafas kemudian meminta Eva masuk. Mereka duduk di ruang tamu, orang tua Ayi ada di belakang bersama adiknya.
“Apa kamu masih marah sama aku?” Ayi menatap Eva kesal.
“Menurutmu? Kita ini sahabat tapi kenapa kamu tega menyakiti Dewi? Apa salah dia sama kamu?”
“Yi, semua kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahanku. Aku mencintai Fadil dan dia juga mendekati Dewi. Salahku di mana? Aku cemburu dan marah karena Dewi, Fadil jadi pergi dariku.”
“Tetap aja yang salah itu kamu. Tahu kenapa? Karena dari pertama kamu menyembunyikan hubungan kalian. Andai Dewi tahu atau kamu mengenalkannya pada kami tentu Dewi tidak akan memberikan celah untuk Fadil mendekatinya. Dan aku juga yakin kalau Fadil tahu bahwa Dewi itu sahabatmu, dia pasti tidak akan mengajak Dewi pacaran. Tidak menutup kemungkinan kalau Fadil justru mendekati cewe lain. Kamu tahu sendiri kalau Fadil itu tidak setia. Kalau Dewi jahat, dia bisa saja selingkuh sama Fadil tanpa sepengetahuanmu.” Ujar Ayi panjang lebr.
“Terus apa kamu juga membenciku?” tanya Eva lirih.
“Entahlah, Va. Aku seoalah mimpi kalau semua ini benar-benar terjadi dalam persahabatan kita.”
“Yi, aku tahu aku salah sama Dewi tapi aku sama kamu apa? Aku salah karena mengkhianati persahabatan kita tapi aku juga tidak sepenuhnya salah dan aku sama kamu sama seperti aku sama Rani. Kita tidak bermasalah tapi kenapa kamu ikut-ikutan membenciku. Aku sudah menemui Rani kemarin dan dia masih menganggapku teman. Dia juga sudah memaafkanku. Apa kamu tidak mau berteman lagi denganku?”
Ibu dari Ayi datang membawa minuman untuk mereka, “Iya, Yi. Tidak baik bermusuhan apalagi kalian pernah bersahabatan.”
__ADS_1
Ayi menghela nafas, “Aku sudah memaafkanmu kok.” Ucap Ayi.
“Tapi kedengarannya tidak ikhlas ya?” sindir sang ibu. Ayi menatap Eva lalu berkata, “Aku memang memaafkanmu tapii tidak untuk menjalin hubungan seperti dulu. Maaf, Va. Aku susah dekat dengan orang yang sudah ku ketahui keburukannya.”
Eva mendesah pelan, “Ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu.” Eva pamit pada ibu dari Ayi lalu pergi meninggalkan rumah tersebut.
Tidak ada foto misterius kali ini karena kedatangan Eva ke sana hanya untuk memastikan sesuatu. Setelah itu, Eva pergi ke terminal bus antar kota. Gadis itu tersenyum menyeringai lalu memejamkan mata selama perjalanan. Ia sudah tidak sabar untuk membuat kejutan.
Sedangkan di sebuah pesantren, Fiqi sedang sibuk mengajar tanpa mengetahui jika di rumahnya sedang ada pertemuan penting.
Orang tuanya menerima tamu yang merupakan sosok penting dan sangat mereka hormati. Tamu penting itu adalah sepasang suami istri pemilik pesantren tempat Fiqi menimba ilmu sebelum lulus dan melanjutkan pendidikan S1 ke Kairo.
“Abah, sebuah kehormatan untuk kami karena Abah sudi berkunjung ke rumah sederhana kami.” Ucap Ayah dari Fiqi.
Pria sepuh itu tersenyum bersama istrinya, “Bapak, Ibu, kedatangan kami ke sini sebenarnya ada tujuan mulia. Kami ingin melamar Fiqi untuk putri kami yang akan lulus di Kairo dalam waktu dekat.”
“Masya Allah, kami tidak menduga akan mendengar kabar baik ini dari Abah. Kami sangat senang dan setuju saja tapi Abah harus bertanya langsung pada Fiqi karena semua keputusan kami serahkan kepadanya. Jujur saja kalau menurut pendapat kami selaku orang tua, kami tentu sangat setuju dan menerima tapi itu semua kembali ke Fiqi.”
“Baiklah kalau begitu, saya akan menyampaikan langsung pada Fiqi tentang lamaran saya. Sebetulnya saya sudah berniat untuk menyampaikan langsung pada Fiqi tapi mengingat dia masih memiliki orang tua maka saya memilih berkunjung terlebih dahulu pada Bapak dan Ibu.” Ujar Abah sopan.
Perbincangan seputar lamaran itu pun usai dan sepasang suami-istri itu pun pamit pulang. Orang tua Fiqi mengurut dada hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Pak, Ibu senang sekali kalau kita berbesan dengan Abah. Kita ikutan dihormati sama orang setelah tahu kalau kita besan Abah.”
“Iya, Buk. Bapak juga berpikir demikian. Belum lagi nanti saat resepsi. Pasti banyak tamu-tamu penting termasuk pejabat yang datang. Kita harus membujuk Fiqi mau menerima lamaran tersebut.” Sepasang suami istri itu mengangguk menatap pintu menunggu Fiqi pulang.
__ADS_1
Sementara yang ditunggu justru sedang berbalas pesan dengan sang kekasih di negeri jiran. Fiqi langsung mengirim pesan seperti biasa kepada Dewi setelah selesai mengajar. Kegiatan rutin yang tidak pernah ia abaikan karena hanya ini satu-satunya cara untuk mempertahankan hubungan jarak jauh mereka.
“Bagaimana kuliah, Ukhti?”
“Alhmdulillah lancar, Akhi. Hanya saja Ukhti mulai bosan lama-lama di sini. Ukhti rindu kampung halaman.”
“Sabar, Ukhti. Apa yang Ukhti rasakan saat ini adalah bentuk perjuangan dan akan berbuah manis setelah berhasil kelak. Sama seperti Akhi dulu. Apa ada yang membuat Ukhti gelisah atau tidak nyaman di sana?”
Deg…
“Haruskah aku jujur lalu menceritakan tentang Fadil padanya? Tapi bagaimana kalau nanti Akhi terbebani dengan masalah ini?” batin Dewi.
“Ukhti, kok gak dibalas? Sibuk ya?” Dewi terkejut kemudian kembali membalas pesan Akhi dan tentu saja tetap merahasiakan tentang Fadil padanya. Dewi tidak mau memecah konsentrasi Fiqi di sana.
Setelah puas berbalas pesan, Fiqi pulang ke rumahnya. Ada yang berbeda dari tatapan orang tuanya kali ini. Fiqi langsung duduk di depan mereka, “Ada apa ini?”
Pasangan suami istri yang tidak lagi muda itu tersenyum sumringah. “Nak, tadi Abah dan Ummi datang ke rumah kita.” Fiqi terkejut tidak percaya.
Pimpinan pondok pesantren terbesar di daerahnya datang berkunjung tanpa angin dan hujan tentu saja sangat mengejutka Fiqi.
“Mereka melamarmu!”
“INNALILLAHI!!!”
__ADS_1
***