Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
Ayi Berwujud Eva...


__ADS_3

Orang tua Fiqi tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar, “Pak, Buk, aku sudah mengkhitbah calon sendiri dan setelah dia lulus, aku akan melamarnya.”


Bagai disambar petir… hayalan orang tua Fiqi untuk berbesan dengan sang pemuka agam kondang sirna sudah. Hayalan yang dimimpikan semua orang akan menjadi kenyataan tapi musnah karena kehadiran wanita lain.


Orang tua Fiqi mulai mengintrogasi putranya tentang sosok yang dibanggakan itu. “Qi, kita ini bukan dari keluarga berada tapi Abah dengan kerendahan hatinya mau menerima kamu sebagai menantu. Apa kamu sudah kehilangan akal? Coba tanyakan pada gadis itu, apa orang tuanya merestui hubungan kalian? Ibu tidak yakin mereka mau menerima kamu sebagai menantu. Apalagi putri mereka kuliah S2 sedangkan kamu hanya lulus S1, itupun mengandalkan beasiswa dan ada andil Abah di dalamnya. Kalau tidak, mana mungkin kamu dapat beasiswa ke Kairo.” Fiqi kecewa dengan kata-kata ibunya.


“Buk, Pak, sudah ya. Fiqi capek mau istirahat.” Fiqi meninggalkan mereka menuju kamarnya. Ia kecewa dan sedih di waktu bersamaan. Kecewa karena semua usahanya seperti tidak dihargai oleh orang tuanya sendiri. Untuk mendapatkan beasiswa itu, Fiqi harus bergadang setiap malam untuk menyelesaikan hafalan lalu mempelajari berbagai kitab untuk persiapan tes. Fiqi berjuang seorang diri melawan santri lain dalam jumlah yang tidak sedikit. Fiqi juga mulai bertanya-tanya, apa benar ada andil Abah di dalam sana hingga namanya bisa terpilih? Apakah yang seharusnya berangkat ke Kairo adalah santri lain? Jika itu benar maka semua ilmu yang ia dapat di Kairo menjadi sia-sia karena ada jerih payah usaha santri lain yang lebih berhak selain dirinya.


“Aku harus menanyakan ini sama Abah!” ucapnya menatap langit-langit kamar.


“Assalamualaikum, Akhi sudah tidur?” sebuah pesan dari Dewi memecahkan lamunan Fiqi.


Pria itu tersenyum kemudian bergegas mengetik kata-kata indah untuk sang kekasih. Fiqi belum berniat untuk menceritakan perihal lamaran tadi pada Dewi. Dia tidak mau memberatkan kekasihnya apalagi kuliah Dewi sedang padat-padatnya.


Malam itu mereka saling berbalas pesan hingga tertidur. Dan keesokan harinya, Fiqi memilih menghindar dari topik semalam dengan orang tuanya. Entah kenapa, Fiqi merasa lelah setiap kali memikirkan topik tersebut apalagi kalau harus berdebat dengan orang tuanya. Sesuatu yang sangat ia hindari.


Setelah sarapan, pria berpeci itu pun pergi meninggalkan rumah. “Buk, Pak, aku berangkat dulu ya! Malam ini aku tidak pulang, ada acara di pesantren.”


“Hati-hati dan pikirkan kembali matang-matang sebelum mengambil keputusan! Ibu dan Bapak tidak mau kamu kecewa.”


“Insya Allah.” Setelah menyalami dan mencium punggung tangannya lantas ia pun pergi.


Dua jam kemudian, lebih tepatnya pukul 10 pagi. Kediaman keluarga Fiqi kembali kedatangan tamu. Kali ini bukan Abah melainkan seorang gadis berjilbab.


“Assalamulaikum,” ucapnya pada wanita paruh baya di depan pintu.


“Walaikumsalam, cari siapa Dek?”


“Apa benar ini rumahnya Bang Fiqi?”


Ibu dari Fiqi menatap suaminya yang ikut menghampirinya di depan pintu karena penasaran dengan tamu mereka.


“Be-benar. Adek ini siapa ya?”

__ADS_1


“Saya Ayi, Buk, Pak. Saya sahabat dari calon istri Bang Fiqi.” Ibu dari Fiqi kembali melirik suaminya.


“M-masuk dulu! Kita bicara di dalam.” Eva tersenyum menyeringai. Ia masuk lalu menyerahkan buah tangan yang sempat ia beli sebelum ke rumah Fiqi.


Ibu dari Fiqi datang membawakan secangkir teh dan selama itu, ayah dari Fiqi hanya diam sambil sesekali melirik sang tamu dan istrinya.


“Ayi tinggal dimana?” tanya Ibu setelah menghidangkan teh untuk Eva.


Eva yang berpura-pura sebagai Ayi pun menceritakan asal-usul dirinya kemudian dari mana dia menganal Fiqi sampai sejauh mana hubungann Fiqi dengan Dewi. Tentu saja cerita Eva dilebih-lebihkan untuk melancarkan aksinya.


“Saya kasihan sama Bang Fiqi, Pak, Buk. Bang Fiqi terlalu baik untuk Dewi, beliau juga terlalu percaya pada mantan sahabat saya itu. Cukup kami yang merasakan sakitnya dikhianati jangan sampai Bang Fiqi juga ikut mengalami seperti kami. Bang Fiqi pasti tidak percaya dengan apa yang saya katakan karena baginya ucapan Dewi adalah kebenaran sedangkan ucapan orang lain semuanya dusta. Namanya juga cinta buta, Buk, Pak.”


Orang tua Fiqi terlihat syok mendengar penuturan Eva yang mengganti namanya menjadi Ayi. Eva mengambil ponsel kemudian memperlihatkan foto saat Dewi dan Fadil saat hari pertunangan serta saat Dewi bersama Reja. Di sana juga ada foto Dewi yang sedang dibonceng Ricki. Mata orang tua Fadil seketika terbelalak dengan mulut menganga.


“Tuh kan, Pak. Ibuk sudah yakin kalau pilihan Fiqi itu pasti salah. Kalau begini caranya, kita harus segera menyelamatkannya dari pengaruh perempuan itu, Pak. Ibuk akan memaksanya menerima lamaran Abah.” Kening Eva mengernyit.


“Bang Fiqi dilamar?” orang tua Fiqi seketika terdiam lalu tersenyum bahagia.


“Iya, Nak. Sama putri pemilik pesantren tempat Fiqi belajar dulu. Putri beliau akan lulus dari Kairo juga.” Eva tersenyum bahagia.


“Ibu juga berpikir begitu, Nak. Alhamdulillah sekali karena kehadiran kamu sudah membuka mata hati kami dan memberikan informasi penting sebelum Fiqi jatuh ke dalam jurang dosa.”


“Mengingatkan orang lain tentang kebaikan akan membuat hidup kita tenang, Buk. Saya senang jika dapat membantu. Oh iya, ini nomer ponsel saya, siapa tahu Ibu dan Bapak mau mengundang saya ke acara lamaran nanti. Saya pasti akan datang.” Eva menyerahkan selembar kertas bertuliskan nomer ponselnya. Ibu dari Fiqi masih penasaran dengan sosok Dewi dan keluarga. Eva mengatakan semua tentang latar belakang keluarga Dewi tentu saja menambahkan bumbu yang sudah diramu terlebih dahulu.


“Tuh benar kan Pak yang Ibu takutkan. Keluarga Dewi pasti tidak akan setuju dengan hubungan ini. Yang mereka lihat pertama kali saat kita datang adalah apa yang kita kenakan. Bapak tahu sendiri kita ini bukan orang kaya. Apa yang kita pakai itu yang kita punya. Ibu kasihan sama Fiqi, Pak. Seperti apa nasibnya jika menjadi menantu keluarga mereka? Pasti setiap saat, dia dihina dan harga dirinya diinjak-injak. Ibu tidak rela, Pak.”


“Iya, Buk. Bapak juga sama. Bapak tidak mau memiliki besan angkuh seperti itu. Lebih baik kita berbesan dengan Abah saja.” Sahut sang ayah.


Yang Eva katakan tentang keluarga Dewi memang tidak semuanya salah karena di kehidupan sebelumnya, ayah dari Dewi menolak Fiqi karena pria itu bukan berasal dari keluarga berada. Ayah dari Dewi lebih memilih Fadil karena dari segi finansial, Fadil sudah mapan dan tidak perlu diragukan lagi.


“Tapi bagaimana ya caranya agar Fiqi mau menuruti keinginan kita?” ucap sang ibu. Eva menyeringai, “Buk, Pak, maaf kalau saya ikut campur. Tapi bukannya surga seorang anak ada di bawah kaki ibunya? Kenapa Ibu takut? Bang Fiqi adalah pria saleh, dia pasti tidak akan mengabaikan keinginan orang tuanya. Para orang tua juga tidak akan menjerumuskan anak-anak mereka ke liang dosa, bukan? Setiap orang tua pasti akan memilih yang terbaik untuk anak mereka.”


Orang tua Fiqi tersenyum mendengar ucapan Eva. Kata-kata itu memang sangat pas di telinga mereka. Eva melihat jam di ponselnya, “Pak, Buk, saya minta izin pamit pulang. Sudah siang.”

__ADS_1


Orang tua Fiqi mencegahnya, “Makan siang di rumah Ibu saja ya! Fiqi juga tidak pulang hari ini karena ada kegiatan di pesantren.” Eva tersenyum lalu mengangguk.


“Buk, Pak, saya minta tolong untuk tidak mengatakan tentang kedatangan saya ke sini pada Bang Fiqi. Saya tidak mau dia mengamuk pada saya. Hubungan persahabatan kami sudah rusak dan bisa jadi Bang Fiqi mengatakan pada Dewi tentang kedatangan saya. Setelah itu, Bapak dan Ibu bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi, bukan?” pinta Eva.


Orang tua Fiqi lagi-lagi mengangguk setuju. Eva tersenyum kemudian menikmati makan siang sederhana di rumah Fiqi dengan wajah sumringah. Setelah makan lalu membantu ibu dari Fiqi mencuci piring, Eva izin pamit. Orang tua Fiqi bahkan memberikan buah tangan berupa kue-kue khas di daerah sana yang khusus dibelikan oleh ayah dari Fiqi.


Eva mencium punggung tangan orang tua Fiqi takzim lalu menaiki bus yang sudah berdiri di pinggir jalan depan rumah Fiqi.


Eva tersenyum bahagia di dalam bus kemudian membuka kota kua lalu memakan dengan nikmat. Sementara di pesantren milik Abah, Fiqi sedang menunggu kepulangan Abah di depan kantor. Fiqi ingin bertanya secara langsung tetang beasiswa yang ia dapatkan apakah itu murni hasil kerja kerasnya atau ada unsur nepotisme di dalamnya.


Setelah salat zuhur, Abah terlihat berjalan kaki bersama beberapa asistennya menuju kantor. “Assalamualaikum, Abah.” Ucapnya lalu menyalami calon mertuanya.


“Ada apa ini sepertinya serius sekali?” Abah menelisik wajah Fiqi. Beliau berpikir jika orang tua Fiqi sudha bercerita tentang lamarannya dan Fiqi hendak memberikan jawabannya saat ini.


“Kita bicara di dalam.” Ucap Abah kemudian meminta asistennya untuk meninggalkan mereka sebentar.


Fiqi masuk lalu ikut duduk setelah Abah duduk terlebih dahulu. “Ada apa, Nak? Apa Ibuk dan Bapak sudah menyampaikan pesan Abah?”


Fiqi mengangguk lemah sementara Abah tersenyum, “Tapi sebelum itu, Fiqi ingin tahu terlebih dahulu soal beasiswa kemarin, Abah.” Pria baruh baya itu pun pengernyit heran.


“Beasiswa kamu?” Fiqi menganguk.


“Sebelumnya Fiqi minta maaf bila kata-kata Fiqi tidak sopan. Fiqi hanya ingin tahu apakah beasiswa itu murni milik Fiqi atau ada bantuan Abah di dalamnya hingga beasiswa itu jatuh ke tangan Fiqi.” Abah tersenyum sedikit lebar dari biasanya.


“Boleh Abah tahu kenapa tiba-tiba kamu menanyakan ini?”


Lalu, Fiqi pun menceritakan kegundahan hatinya dari semalam kepada Abah. “Nak, beasiswa itu murni karena rejeki dari Allah melalui ilmu dan usaha serta doa yang sering kamu panjatkan. Abah tidak berani melakukan perbuatan sekeji itu apalagi mempermainkan nasib santri-santri Abah. Ini terbukti saat kamu lulus dari Kairo lebih cepat dibandingkan dengan beberapa temanmu yang lain.”


“Kamu sudah mendapatkan jawabanmu. Sekarang giliran Abah yang  bertanya, apa kamu menerima lamaran Abah?”


Gleg…


 

__ADS_1


***


__ADS_2