
Bayangan wanita yang sangat menyerupai Bunga masih mengganggu pikiran Varo, hingga malam ini Varo kesusahan untuk memejamkan matanya. Padahal dia harus segera tidur karena besok pagi dia harus kembali ke rumah sakit lagi. Namun, hingga pukul satu dini hari, Varo masih gelisah karena bayangan Melati.
“Entah mengapa aku begitu yakin jika Melati itu adalah Bunga. Lalu apa tujuannya menyembunyikan identitas aslinya?”
Semakin larut, bayangan Bunga terus bermunculan di kepalanya sehingga sulit bagi Varo untuk pergi ke alam mimpinya. Rasanya ingin menyelidiki siapa itu Melati, mengapa selama dirinya bekerja di rumah sakit sama sekali tidak pernah mendengar namanya. Atau memang karena Varo hanya sibuk dengan para pasiennya saja sehingga dia tidak tahu lingkungan sekitar.
“Varo, ayo tidur! Besok kamu harus menangani pasien lagi!” Varo berusaha untuk memejamkan mata sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Berada di luar negeri seorang diri bukan berarti lepas dari pantauan kedua orang tuanya. Justru semakin jauh pengawasan yang diberikan kepada Varo semakin ketat, karena dia akan terus di pantau oleh beberapa orang kepercayaan orang tuanya. Dan apapun yang dilakukan oleh Varo akan segera sampai ke telinga Daddy-nya. Oleh sebab itu Varo memilih untuk menghabiskan cutinya tetap di rumah sakit, karena tidak ingin mendapatkan cecaran dari Daddy-nya.
__ADS_1
Dilain sisi ...
Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika dia akan bertemu kembali dengan masa lalunya. Seakan dunia itu terasa sempit ketika dia harus bertemu lagi dengan Varo.
Rasa rindu yang dimilikinya kini bergejolak kembali. Bayang-bayang Varo lima tahun yang lalu masih terekam jelas dalam ingatannya. Dimana pria itu selalu memberikan kekuatan untuk dirinya. Satu-satunya orang yang terus memberikan semangat disaat dia menyembunyikan penyakitnya.
Ya, dia adalah Bunga. Bunga masih hidup dia belum mati. Sebuah keajaiban menghampiri Bunga saat denyut nadinya telah tiada. Bunga memang dinyatakan telah meninggal, tetapi 15 menit kemudian jantungnya kembali berdetak. Dan itu sungguh diluar dugaan para dokter yang saat itu sedang menunggu kedatangan orang tua Bunga.
“Varo ... maafkan aku. Bukan aku ingin menipumu, tapi aku harus bangkit dengan nama baru dan semangat baru. Entah sampai kapan aku harus menyembunyikan identitasku ini, tapi aku tidak mau kembali pada Bunga sosok yang begitu lemah. Varo ... bagiku Bunga telah mati, tapi rasa cintaku padamu tak akan pernah mati, karena selamanya kamu akan tetap menjadi satu-satunya orang yang aku cintai.”
__ADS_1
Sama seperti Varo, Bunga tak bisa memejamkan matanya karena bayangan masa lalu kembali muncul untuk memenuhi pikirannya. Terlebih setelah lima tahun berlalu ternyata Varo tumbuh menjadi seorang pria yang tampan. Pasti selama ini banyak wanita yang terpesona akan ketampanannya.
Rasanya tidak rela jika harus membiarkan Varo mempunyai wanita lain selain dirinya. Namun, untuk saat ini dia belum siap untuk memberitahu kepada Varo tentang jati dirinya yang sebenarnya.
“Kemana saja aku selama ini, mengapa aku tidak tahu jika Varo ada di sini dan menjadi seorang dokter muda di rumah sakit itu. Mengapa Ayah dan Bunda tidak pernah mengatakan jika Varo berada disini? Apakah diam-diam mereka menyembunyikan sesuatu dariku?”
Malam yang sunyi pun berlalu begitu saja. Langit yang gelap perlahan telah kembali terang, karena sang fajar telah menampakkan diri.
Suara alarm telah menyala, tetapi tak membuat pemiliknya terbangun. Dia masih terbuai dalam alam mimpinya, karena bunga tidurnya begitu indah.
__ADS_1
Tidak hanya suara alarm yang terus berbunyi, tetapi suara ponselnya pun juga ikut berdering. Karena samar-samar Varo mendengar suara yang berulang terus menerus memecahkan keheningannya, maka mau tak mau dia pu bangkit dari tempat tidurnya.
...###...