
Dewi termenung menatap langit malam dari dalam kamarnya. Pertanyaan Akbar tadi siang menyadarkannya jika waktu yang ditakutinya sudah datang. Di usia sekolah seperti ini, Akbar pasti sudah menganalisa keadaan dengan otak kecilnya hingga ia mengeluarkan pertanyaan yang cukup menyayat hati Dewi saat ini. Kesuksesan dan prestasi yang ia raih tidak ada harganya ketika dia tidak punya muka untuk menatap sang putra dan menjawab pertanyaan sederhana yang dilontarkan oleh mulut mungil sang putra.
“Ayahmu sedang bertugas ke negara yang sangat jauh hingga tidak bisa pulang dan mengantarmu ke sekolah seperti teman-teman yang lain. Tidak semua anak memiliki ayah yang selalu berada di dekat mereka. Di sini berbeda dengan di luar negeri yang pernah kita tinggali. Di sana, anak-anak bahkan diantar oleh pengasuh atau langsung dijemput oleh pihak sekolah. Sementara di sini itu kota kecil. Orang-orang tua teman-temanmu banyak yang bekerja di sini jadi mereka punya waktu untuk mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Kalau di Malaysia, para orang tua sibuk bekerja di luar negeri atau perusahaan besar di luar kota jadi tidak selalu berada di rumah. Kamu mengerti kan? Seperti Baba Zayed yang selalu datang kalau libur. Begitu juga dengan ayahmu. Akbar, kamu itu laki-laki. Kamu kuat secara fisik dan mental jadi hal-hal remeh seperti siapa yang mengantarmu sekolah itu bukan perkara besar. Ketahuilah, di Korea, anak-anak langsung dijemput oleh bus sekolah dan para guru. Tidak ada orang tua lagi yang mengantar mereka. Mama ingin kamu begitu, kamu tidak terpengaruh oleh pertanyaan atau keadaan yang mewek begitu. Hidup itu bukan hanya sekedar diantar oleh siapa tapi kamu hidup untuk diri kamu sendiri jadi berhenti memikirkan yang tidak penting, oke?” Akbar mengangguk patuh.
Begitulah Dewi menguatkan putranya walaupun terkesan kejam tapi Dewi tidak mau putranya menjadi lemah mental hanya karena perkara kecil. Dewi akan mendidik anaknya seperti didikan orang tua di luar negeri. Akbar yang masih balita itu pun tumbuh menjadi anak yang mandiri tanpa menyusahkan ibunya.
Sementara Fadil yang penasaran dengan Dewi tapi tidak bisa menemui wanita itu karena statusya masih buronan polisi. Rena sendiri tidak pernah pergi ke mana-mana karena statusnya adalah warga asing yang telah menghilang di Indonesia. Polisi masih melacak keberadaanya sampai saat ini. Jika Rena ditemukan maka pihak kepolisian dan imigrasi akan langsung mendeportasinya ke Malaysia lalu di sana, ia akan ditahan atas keterlibatannya dalam kasus pemerkosaan Dewi. Rena memilih hidup susah bersama Fadil di pedalaman walaupun harus mencari nafkah sendiri dengan menjadi buruh tani dan buruh cuci.
Hari berlalu berganti bulan. Kehidupan Dewi dari segi ekonomi semakin membaik. Uang yang hasil jerih payah yang selama ini ia kumpulkan mulai menunjukkan hasil dengan sertifikat rumah yang baru saja Dewi dapatkan dari notaris. Dewi tidak pernah bergaya sedikitpun dengan uang dan prestasi yang dimiliki selama ini. Penampilannya yang sederhana membuat banyak mahasiswa kagum dan selalu membandingkannya dengan dosen-dosen baru yang berlagak bak dosen senior padahal titelnya masih di bawah Dewi.
“Sudah jadi rahasia umum kalau dosen S2 lebih bergaya dari pada dosen S3 bahkan setingkat profesor.” Ucap salah satu mahasiswa di antara kelompoknya.
Tanah beserta rumah di atasnya sudah ia dapatkan tapi Dewi belum berniat pindah dari komplek perumahan dosen. Tinggal di komplek ini membuat Dewi merasa nyaman dan tenang tapi jika dia pindah ke lingkungan masyarakat maka akan susah baginya beradaptasi karena ada Akbar bersamanya.
Hari ini Akbar memasuki tahun ajaran baru di sekolah dasar tidak jauh dari kampus. Seperti biasa, dia akan mengantar sang putra dengan pengasuhnya. Akbar tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat penyayang dan baik.
Setelah itu Dewi pergi menuju kampus karena hari ini ada jadwal mengajal. Saat ia tengah mengajar, pengasuh Akbar menghubunginya. “Buk, ada tamu katanya orang tua Ibuk.”
Deg…
“Baiklah! Saya pulang sekarang.”
__ADS_1
Dewi meminta maaf karena ada urusan mendesak. Ia memberikan beberapa bahan dan tugas sampai habis jam mata kuliah. Dewi bergegas menuju rumah, sepasang suami istri paruh baya berdiri di depan rumahnya. Dewi hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Setelah sekian tahun mereka tidak bertemu kini orang tuanya justru datang ke rumah.
Dewi berjalan pelan menuju teras, matanya sudah berkaca-kaca. Ia meraih tangan ibu dan bapaknya. mencium punggung tangan orang tua yang selama ini sangat ia rindukan.
“Silakan masuk, Buk, Ayah,” lirihnya.
Lidah kedua orang tuanya kelu menatap sang putri yang selama ini pergi tak pernah kembali. ada rasa marah dan kecewa melihat Dewi yang memilih melupakan mereka.
“Sudah merasa pintar dan kaya makanya kamu tidak pulang menemui kami. Jadi begini sifatmu saat sudah sukses, lupa sama orang tua yang melahirkan dan membesarkanmu. Semua yang kamu dapat selama ini berasal dari mana jika tidak dari kami. Kamu tidak mengenal huruf kalau kami tidak menyekolahkanmu dulu. Sekarang saat kamu kaya, kamu lupa sama kami. Apa kamu mau jadi anak durhaka? Melupakan orang tua. Apa kamu takut kami akan merepotkanmu karena sudah tua dan tidak berguna?”
“Ayah, Ibu, ayo masuk! Kita bicara di dalam.” Dewi mendorong lembut orang tuanya untuk masuk. Dia tidak ingin menjadi tontonan penghuni komplek.
Orang tua Dewi masuk dan raut wajah mereka langsung berubah. Di sana tidak ada kemewahan yang sejak tadi orang tuanya maksudkan. Hanya selembar tikar bahkan meja makan saja tidak ada. Hanya meja kecil untuk menyimpan makanan. Selebihnya rumah itu terlihat begitu sederhana. Minim perabotan membuat orang tua Dewi seakan tertampar oleh ucapannya sendiri.
“Kak Ayu. Dia asisten sekaligus teman Dewi. Dia yang bantu Dewi di rumah kalau lagi banyak pekerjaan dan harus pergi ke luar kota.”
“Ck, angkuh sekali kata-katamu.” Sindir ayah dari Dewi.
“Ayah, Ibu, aku minta maaf tapi aku sudah memutuskan untuk menggapai impianku dan sekarang aku berhasil. Kalau kalian marah karena aku tidak pulang maka aku minta maaf tapi aku punya alasan sendiri kenapa tidak pulang ke rumah. Aku tahu, orang-orang kampung pasti tahu tentang kejadian buruk yang menimpaku di Malaysia, bukan? Aku tidak mau mereka melihatku dengan tatapan kasihan seolah aku adalah wanita yang sekarat karena telah diperkosa. Aku baik-baik saja, Ayah, Ibu.”
“Kalau begitu pulanglah! Perlihatkan pada mereka kalau kamu tidak pantas dikasihani.” Ucap Ayah tegas.
__ADS_1
“Aku aka pulang tapi tidak sekarang! Suatu hari, aku pasti pulang.”
“Kapan? Tunggu kami mati baru kamu pulang?”
“Ayah,”
“Pulanglah! Tidak perlu takut sama bajingan itu. Polisi masih memburunya sampai saat ini.”
“Ayah!” Dewi menangis memeluk ayahnya.
“Maafkan Dewi, Ayah.”
“Pulanglah kalau kamu ingin dimaafkan.” Tegas penuh perintah.
“Maaf, Ayah, Ibu. Aku belum bisa pulang sekarang.”
“Kenapa? Beri kami alasan yang jelas.”
__ADS_1
***