Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
34 ~ Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Tubuh Bunga masih membeku. Dadanya berdegup dengan kencang saat harus mencerna ucapan Varo. Bagaimana mungkin Varo mengucapkan ajakan nikah, sementara Bunga sendiri belum yakin bakan sembuh dari penyakitnya.


“Bunga,” panggil Varo dengan pelan.


Bunga menelan kasar salivanya. Bagaikan mimpi, tetapi Bunga sadar jika ini bukanlah mimpi.


“Varo … apakah kamu sadar dengan ucapanmu? Kamu serius ngajak aku nikah? Varo … umur aku enggak panjang lagi, bagaimana bisa kamu ngajak aku nikah?”


“Apakah salah jika aku mengajakmu nikah? Apakah kamu tidak mau?”


Bunga langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil mengusap air matanya yang mulai membasahi pipinya.


“Bukan seperti itu,Varo. Tapi umur aku itu udah enggak akan lama. Untuk apa kamu menikahiku? Kelak jika aku mati, status kamu akan berubah duda. Varo, pikiran baik-baik sebelum mengambil keputusan!”


Tangan Varo langsung menggenggam tangan Bunga. Sorot matanya terlihat lebih tajam saat menatap Bunga. Varo ingin menjadi orang yang berguna untuk Bunga, mengingat apa yang telah dia lakukan selama ini. Membenci Bunga tanpa alasan hingga bertahun-tahun lamanya.


“Bunga aku serius. Bukankah kita juga sudah mendapatkan lampu merah dari kedua orang tua kita? Kamu jangan berbicara tentang umur! Aku yakin kamu akan sembuh dan kita akan terus bersama hingga tua nanti. Kamu mau kan menikah denganku?”


Tubuh Bunga yang sejak tadi terasa lemas, kini akhirnya ambruk kerah Varo yang yang masih menatapnya dengan lekat. Dengan sigap Varo langsung menangkapnya.


“Bunga … kamu kenapa?” Varo terlihat sangat panik saat Bunga mendadak pingsan. Karena tak ingin terjadi sesuatu pada Bunga, Varo langsung membawa Bunga ke rumah sakit, meskipun waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Dengan terpaksa, Varo pun menghubungi keluarga Bunga.


Mungkin sudah saatnya keluarga Bunga mengetahui keadaan Bunga yang sebenarnya. Namun, berulangkali Varo menghubungi nomer telepon orang tua Bunga tak ada jawaban sama sekali membuatnya tambah frustasi. Tak ada pilihan lain, Varo akhirnya menghubungi Mommy-nya.


“Bunga … maaf aku ingkar. Aku tidak punya lain. Cepat atau lambat orang tuamu juga akan aku beritahu tentang kenyataan ini,” ucap Varo yang kini masih mondar-mandir di depan ruangan icu.


Tak berapa lama, kedua orang tua Varo pun datang dengan napas naik turun karena kerena terkejut dengan kabar dari Varo jika Bunga masuk rumah sakit.

__ADS_1


“Varo, apa yang terjadi pada Bunga?” tanya Mommy Lusi dengan penuh kekhawatiran.


“Varo ada apa dengan Bunga?”


“Daddy … Mommy.” Varo langsung memeluk tubuh dua orang yang selama ini menguatkan dirinya. Dan saat ini Varo sedang membutuhkan kekuatan dari orang tuanya.


Davide dan Lusi hanya saling bersitatap. Keduanya tidak tahu apa yang telah terjadi, mengapa Varo terlihat lemah. Mereka berdua hanya bisa menebak jika saat ini Varo sedang menghadapi sebuah masalah yang tidak bisa dihadapi seorang diri.


“Ayo, duduk!” Mommy Lusi membawa Varo untuk duduk di kursi tunggu.


Sebagai seorang ibu, Lusi berusaha untuk menenangkan hati Varo. Sebuah pelukan hangat adalah cara untuk menenangkan hati Varo. Cukup lama Varo berada dalam pelukan Mommy-nya, hingga akhirnya dia merasa tenang dan melepaskan diri dari pelukan Mommy-nya.


Setelah tenang, Mommy langsung bertanya pada Varo tentang apa yang telah terjadi pada Bunga, mengapa dia bisa masuk ruang icu.


“Dadd … Momm … sebenarnya saat ini Bunga sedang sakit. Dia menyembunyikan penyakitnya pada orang tuanya dan semua orang. Bahkan termasuk dengan Varo. Varo tahu karena Varo mencaritahu sendiri. Momm … Bunga sudah di vonis tidak bisa bertahan lama. Meskipun selama ini Bunga telah mengikuti kemoterapi, tetap saja penyakit Bunga tidak bisa sembuh,” jelas Varo dengan mata yang telah berkaca-kaca.


“Apakah separah itu? Lalu mengapa Bunga tidak memberitahu pada orang tuanya?” tanya Mommy Lusi yang mulai merasa iba dengan keadaan Bunga.


“Bunga tidak ingin membuat orang tuanya bersedih, Momm. Makanya dia menyembunyikan penyakitnya. Tapi semakin lama, Varo merasa bersalah karena ikut bersekongkol dengan Bunga. Varo tidak ingin kelak orang tua Bunga menyalahkan Bunga karena ikut menyembunyikan penyakit Bunga.”


Helaan napas panjang terdengar begitu berat. Mommy Lusi segera menatap suaminya untuk meminta pendapatnya. “Bagaimana ini, Dadd? Mommy takut, jika kelak terjadi sesuatu, Askara akan menyalahkan Varo.”


“Tidak ada pilihan lain, kita harus segera memberitahu orang tua Bunga. Bagaimanapun mereka berhak tahu keadaan Bunga,” ucap Davide.


Malam yang panjang berlalu begitu saja, tetapi hingga pagi menyapa, Bunga tak kunjung membuka matanya. Satu malaman Varo tidur sambil menggenggam tangan Bunga, berharap jika Bunga bangun dia bisa merasakannya pergerakannya. Namun, nyatanya Bunga tak kunjung bangun sampai pagi hari.


Baru saja Varo membuka matanya, samar-samar dia melihat sosok yang telah berdiri di depannya. Dengan cepat, Varo mengucek matanya untuk memastikan siapa orangnya. Dan saat Varo bisa melihat dengan jelas, dia merasa sangat terkejut.

__ADS_1


“Tante,” gumamnya dengan pelan.


Ya, ternyata orang yang berada didepannya saat ini adalah Asha, Bundanya Bunga dan juga ayahnya.


Mereka berdua menatap lekat pada Varo, hingga membuat Varo tak bisa berkata apa-apa. Bahkan untuk menelan ludahnya saja terasa sangat sulit.


Cukup lama bundanya Bunga menatap Varo tanpa kata, hingga akhirnya wanita itu buka suara. “Varo, tante benar-benar kecewa sama kamu!”


Varo semakin sulit untuk menelan salivanya. Tenang Varo, kamu harus tenang. Bukankah kamu sudah sering berada diposisi seperti ini?


“Varo, kenapa kamu menyembunyikan semua ini pada kami? Kenapa Varo?” Kini ayah Bunga ikut bersuara.


“Om… tante … Varo minta maaf karena telah menyembunyikan kenyataan ini dari Om dan Tante. Sekali lagi maafkan Varo.”


“Katakan sudah berapa lama Bunga mengidap penyakit ini?” tanya Asha dengan datar.


“Untuk pastinya kapan Varo tidak tahu, Tan. Varo mengetahuinya sebelum masuk magang.”


“Sebelum magang? Itu artinya enam bulan yang lalu, Varo! Lalu mengapa kamu tidak memberitahu sama Om dan Tante. Kita berdua ini orang tuanya. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, apa yang akan kami lakukan? Varo … kamu keterlaluan!” timpal Askara dengan rasa kecewanya.


“Sekali lagi Varo minta maaf, Om,” sesal Varo.


Suasana mendadak hening, karena kedua orang tua Bunga masih kecewa dengan Varo yang tak memberitahu tentang penyakit Bunga. Bahkan diam-diam Bunga telah menjalani kemoterapi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Rasanya sangat menyakitkan, ketika orang tua tidak bisa menemani anaknya saat sedang dibutuhkan.


“Varo, antarkan Om untuk bertemu dengan dengan dokter yang menangani Bunga!” pinta Askara.


Dengan anggukan pelan, Varo mengiyakan keinginan ayahnya Bunga. “Baik, Om. Ayo, Varo antarkan ke ruangan dokter Mada.”

__ADS_1


...#Bersambung#...


__ADS_2