
Dewi tidak bisa larut dalam kesedihan tak berkesudahan. Dia punya tanggung jawab dan target untuk menyelesaikan kuliahnya. Hari kedua, gadis itu sudah kembali ke kampus seperti biasa walaupun harus memakai kacamata untuk menutupi mata bengkaknya.
Hal tidak terduga terjadi saat ia pulang ke apartment, Fadil sudah berdiri di sana sambil menenteng sebuah kantung belanjaan. “Ada apa kemari? Aku capek, mau tidur!”
“Wi, terlepas dari urusan pertunangan yang batal tapi antara kita masih ada hubungan kerabat jadi jangan begini. Kalau dengan berbaikannya kita bisa membuat tali silaturrahmi yang terputus antara keluarga kita membaik apa salahnya. Aku tidak memaksamu menerimaku sebagai kekasih, kita bisa berteman dan tanpa bisa kita pungkiri, kita tetap kerabat.”
“Sudah? Kalau begitu pulanglah!”
“Aku tahu apa yang kamu alami, aku ke sini ingin memasak makanan Indo, mau ya?”
“Bang, tolong! Aku lagi gak ingin bicara.”
“Kamu gak usah bicara. Biar Abang yang masak. Kamu gak perlu pedulikan Abang. Please!”
Dewi menyerah, ia terlalu lelah berdebat. Pintu terbuka, Dewi masuk lebih dulu. “Itu dapurnya!” tunjuk Dewi lalu pergi ke kamar kemudian mengunci pintu kamarnya lalu tidur. Dewi lelah lahir batin menghadapi mata kuliahnya lalu mengingat hubungannya yang gagal dengan Fiqi. Dia ingin berteriak kencang tapi tidak mungkin dilakukan di dalam apartment.
Satu jam kemudian…
Tok…tok…
__ADS_1
Fadil mengetuk kamar Dewi, “Wi, bangun kita makan dulu.” dengan malas Dewi bangun lalu mencuci muka kemudian keluar dari kamarnya. Berbagai menu makanan sudah tersaji di atas meja. Asap dan wangi makanan tersebut tidak bisa membohongi indra penciuman wanita galau sehabis putus cinta. Perutnya meronta meminta jatah hingga tanpa kata, Dewi langsung mengambil piring dan melahab semua makanan buatan Fadil.
Pria di depannya tersenyum samar saat melirik sang mantan yang sangat lahap menyantap makanan buatannya. Setelah kenyang, “Makasih, tapi aku rasa Abang tidak perlu melakukan ini padaku karena apa pun tujuan Abang tidak akan terjadi. Aku sudah tidak berminat dengan hubungan apa pun saat ini. Jadi lebih baik Abang pergi karena aku mau tidur lagi.”
Dewi pergi meninggalkan Fadil begitu saja. Dia tidak mau memberikan harapan kosong pada pria itu. Fadil tidak berkata-kata, ia membersihkan meja, mencuci semua piring kotor hingga menyapu sampai suara pintu terdengar.
“Chik Fadil!” ucap Najla begitu melihat Fadil ada di dalam apartment mereka.
“Hai, saya masak ini tadi buat kalian. Dewi sudah makan, untuk kamu sudah saya sisakan. Kalau begitu saya pulang dulu.”
Najla mengangguk pelan lalu setelah kepergian Fadil, Najla langsung menuju kamar Dewi. Gadis itu terkejut karena pintu kamar dikunci dari dalam.
“Wi, are you oke?”
“Mana dia?”
“Sudah pulang. Ade ape ni?” Dewi menjelaskan pada Najla dan gadis itu pun paham.
Sementara di Indonesia, Fiqi sudah mendapat ponsel dan nomer baru dari kakeknya. Pria itu tidak bersemangat melihat ponsel yang lebih canggih dari miliknya terletak di meja. Apa pun yang diberian oleh keluarganya tidak akan mampu menghapus kesedihan hatinya.
__ADS_1
“Ambil itu lalu hubingi tunanganmu supaya dia yakin kalau kamu serius dengannya!” titah sang ayah!”
Fiqi malas berdebat, dia mengambil ponsel lalu memasuki kamarnya. Dia ingin tidur tanpa berniat menghubungi Khatijah. Dia sudah memasrahkan masa depan di tangan keluarganya. Percuma saja menentang mereka, ia kalah sebelum berperang.
Hari berganti bulan tak terasa sudah setahun Fadil medekati Dewi dan Fiqi bertunangan dengan Khatijah. Malam ini adalah malam perayaan kelulusan Dewi dan Najla setelah mengikuti sidang magister tadi pagi. Kelas mereka sengaja mengadakan pesta di salah satu café and restoran di pusat KL. Sebenarnya Dewi tidak ingin ikut tapi teman-teman seangkatannya memaksa karena ini sekaligus perpisahan untuk mereka.
Ditemani Zayed, Dewi dan Najla pergi bertiga. Tempat perayaan kelulusan ternyata lumayan mewah di mata Dewi sebagai mahasiswi beasiswa. Lokasinya ada di salah satu tower dan di atasnya adalah hotel mewah.
Suasana riuh dan penuh canda tawa membuat semua berpesta bahagia. Dewi juga sudah terbiasa dengan luka patah hatinya hingga tanpa ia sadari, luka itu sembuh seiring berjalannya waktu. Mereka terus berpesta bahkan ada yang berdansa karena panitia membolehkan membawa pasangan masing-masing.
“Saye turun dulu ye!” Dewi mengangguk.
Setelah Najla turun ke lantai dansa tinggallah Dewi bersama beberapa teman lain. “Dansa?” Dewi menggelang. Satu persatu pelayan datang membawa minuman dan makanan. Tidak ada yang meminum alkohol di sana, mereka hanya memesan soda dan berbagai minuman lain tanpa mengandung alkohol.
Dewi mengambil minuman sejenis minuman soda depan potongan lemon dan stroberry di dalamnya. Ia meneguk sedikit lalu tersenyum karena minuman itu ternyata enak. Dewi meminumnya sampai tandas. Kemudian pelayan datang lagi lalu menyajikan minuman itu lagi di depan Dewi, gadis itu mengernyit heran tapi karena enak, Dewi kembali meminumnya.
Dewi merasa panas, ia perlu ke toilet. Dewi bertanya pada pelayan kemudian mengarahkannya ke toilet. Dewi merasa pusing lalu setelah mencuci muka, dia keluar dari toilet dan saat hendak berjalan mulutnya sudah dibekap dari belakang kemudian ia tak sadarkan diri. satu jam kemudian tepatnya tengah malam, Najla dan Zayed panik karena Dewi tidak ada di sana. Teman-temannya juga ikut panik karena Dewi tidak ketemu sementara ponselnya tidak dapat dihubungi.
Keesokan harinya, Dewi terbangun siang hari. Kepalanya pusing dan –, mata Dewi terbuka sempurna saat merasakan perih di bagian bawah dan kulit bertemu kulit. Dewi tidak pernah tidur tanpa pakaian. Dia bangun dan terkejut dengan pemandangan di sekelilingnya. Pemandangan yang sangat berbeda dengan kamarnya kemudian ia menyibak selimut dan -. Air mata Dewi luruh, ia menjerit melihat tubuhnya polos penuh tanda merah dan bagian bawahnya sangat sakit serta bekas darah sudah mengering di bawah sana. Ia masih meminda ke segala penjuru kamar. Pakaiannya berserakan di lantai lalu netranya menangkap secarik kertas di atas nakas.
__ADS_1
“Malam yang indah! Aku bahagia. Sekarang kita impas! Kamu membuatku dan seluruh keluargaku malu. Ke depan, kamu akan menanggung rasa malu sama sepertiku. Aku sangat menikmati! Sungguh, kamu sangat nikmat. Hanya saja, setelah puas semalam, aku tidak berselera lagi dengan tubuhmu. Tapi kalau kamu datang dan meminta mengulang lagi, akan ku lakukan dengan senang hati. Apa bagian bawahmu terasa sakit? Maaf karena aku memaksanya masuk dan mengulangnya berulang kali. kita, ralat, bukan kita tapi aku. Aku melakukannya sampai pagi denganmu makanya kamu kesakitan di bawah sana. Aku meninggalkan uang dalam tasmu buat ongkos pulang dan anggap saja harga untuk kesucianmu yang aku renggut. Bye!”
***