Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
Najla Syihab Binti Muhammad Zubair


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian pertunangan tragis terjadi, wajah orang-orang di sekitar Dewi masih saja suram. Orang tua, keluarga besar yang mulai memihak dan suasana kampus dengan gosip yang tidak berhenti mengalir hingga terdengar kabar bahwa Eva mengambil cuti dari kampus. Gadis itu memilih pergi karena situasi di kampus tidak lagi bersahabat dengannya. Eva pergi membawa kebencian di hatinya. Berbagai hujatan dan cibiran ia terima bahkan melalui pesan di ponselnya.


Sementara Dewi, berbagai dukungan ia dapatkan baik dari sesama teman maupun para dosen yang mengetahui berita tersebut dari mulut ke mulut. Gosip-gosip hangat memang sangat mudah menyebar di lingkungan kampus.


Orang tua Dewi masih mendiamkannya. Tapi ia tidak mau menyerah, ada cita-cita dan impian yang ingin ia capai. Perlahan tap pasti, usaha Dewi mulai menunjukkan hasil. Hari berganti bulan dan dalam setahun, Dewi berhasil menyelesaikan kuliahnya. Dewi sangat bahagia karena dia bisa lulus berbarengan dengan para senior dan dia mendapatkan predikat cumlaude. Ada satu hal yang membuat Dewi semakin bahagia, di tahun yang sama Fiqi juga lulus dan sedang mempersiapkan kepulangannya ke Indonesia.


“Ayah, Ibu, Dewi berangkat ya! Doakan Dewi semoga bisa menyelesaikan pendidikan secepatnya.” Antara rela dan tidak tapi akhirnya orang tua Dewi menyetujui gadis itu untuk melanjutkan S2 ke Malaysia. Ya, Dewi memilih Malaysia sebagai tempat menimba ilmu selanjutnya.


Setelah berpamitan pada orang tua, giliran Fiqi yang dihubungi oleh Dewi melalui sambungan telepon.


“Akhi, Ukhti berangkat dan doakan Ukhti ya!”


“Insya Allah, jaga diri baik-baik di sana ya!”


“Insya Allah. Akhi, maaf karena Ukhti tidak menepati janji untuk menikah setelah Akhi pulang ke Indo.”


“Tidak apa-apa. Kesempatan ini tidak datang berkali-kali. Akhi selalu mendukung Ukhti dan yang penting Ukhti jaga diri di sana ya?”


“Insya Allah, Akhi. Terima kasih ya.”

__ADS_1


Setelah berbincang cukup lama dengan Fiqi, Dewi duduk diam di dekat jendela kamarnya. Ia kembali mengingat masa lalunya terdahulu. Tanpa sadar, ia mengusap perutnya seakan di sana masih ada putranya.


“Dulu aku mencoba menerima kodrat yang diagung-agungkan bahwa tugas seorang istri hanya sekitaran sumur, kasur dan dapur tapi kali ini aku ingin mengembangkan diri dan potensi yang kumiliki. Ya Allah, tolong bimbing hamba supaya tidak kufur aka nikmatmu.” Ucap Dewi pada dirinya sendiri.


Acara pelepasan dari kampus sudah dilaksanakan tadi pagi dan menjelang sore, Dewi sudah berangkat menuju bandara yang terletak lima jam dari rumahnya. Dewi pergi sendiri dengan deraian air mata karena orang tuanya tidak bersedia mengantar. Mereka setengah hati menyetujui keberangkatannya. Bagi mereka, anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, S1 satu saja sudah cukup lalu setelah itu menjadi guru di sekolah kampungnya. Sesederhana itu keinginan orang tuanya tapi Dewi tidak mau berakhir seperti itu. Ia ingin mengembangkan dirinya.


Menginap semalam di hotel sekitar bandara, pagi harinya setelah sarapan, pesawat Dewi terbang menuju Malaysia. Dua jam kemudian Fiqi tiba di Indonesia. Sepasang kekasih itu tidak sempat bertatap muka walau sejenak.


Hari berganti bulan, Dewi sudah mulai beradaptasi di Malaysia. Sementara Rani dan Ayi sudah menjadi guru honor di daerah masing-masing, Dewi justru sedang bergelut dengan buku. Ia mengabaikan para kumbang untuk dapat menyelesaikan kuliahnya secepat  mungkin dari sana. Dewi sangat antusias dengan setiap pelajaran yang didapatnya di sana. Kerajinan dan keuletannya mampu membuat para dosen menoleh padanya.


“Dewi, awak nak makan keh?” tanya Najla Syihab Binti Muhammad Zubair, teman satu kamar Dewi di Apartment Jepun Universiti Malaya.


Dewi menyimpan buku-bukunya kemudian bergegas menuju dapur. Memasak mie instan sesekali palagi cuaca di luar sedang hujan sungguh nikmat.


Dewi menyukai Najla begitu juga sebaliknya. Mereka juga mengikuti kelas yang sama sehingga mereka sering dipanggil upin dan ipin versi perempuan. Mereka sering berbagi kisah termasuk soal kekasih. Tapi satu yang tidak Dewi ceritakan pada Najla. Pengkhianatan Eva si sahabat palsu membuat Dewi enggan mengungkit kisah yang sudah lama ia kubur. Satu hal lagi yang tidak bisa Dewi sanggah adalah rasa percayanya pada seorang teman seakan menguar ke udara. Dewi berteman dengan Najla tapi dia tidak sepenuhnya percaya pada gadis itu termasuk dalam hal pelajaran dan semua yang menyangkut masa depannya. Dewi enggan berbagi tapi Najla sangat berbeda. Gadis itu sangat tulus bahkan ia tanpa segan memberitahukan Dewi tentang info apa saja di kampus.


Awal-awal bulan berada di negeri orang, Dewi sering merasa kesepian dan sedih tapi dukungan dari Fiqi, Rani dan Ayi mampu menguatkannya hingga ia bertahan sampai saat ini. Kehadiran Najla juga sangat membantunya selain menyibukkan diri dengan buku supaya bisa lulus dalam waktu singkat dan merajut mimpi indah bersama Fiqi yang saat ini menjadi guru di sebuah pesantren dan dosen di salah satu kampus swasta.


“Doakan Akhi supaya mendapat rezeki lebih untuk bekal melamar Ukhti nanti.”

__ADS_1


“Amin. Ukhti selalu berdoa untuk Akhi. Berarti perpisahan kita kali ini ada hikmahnya juga ya. Akhi cari modal, Ukhti cari gelar.” Keduanya terkekah bersama. Dewi bersadar di dinding balkon sambil memandangi langit gelap tanpa bintang karena masih tertutup awan.


Hanya satu yang tidak Dewi dapatkan selama berada di negeri orang, perhatian orang tuanya seakan hilang setelah ia meninggalkan rumah. Beberapa kali Dewi menelepon ke rumah tapi ayah dan ibunya sama sekali tidak menjawab. Bahkan Dewi sampai menghubungi tetangga untuk menanyakan tentang orang tuanya.


“Mereka lagi di teras itu mungkin Hpnya tertinggal di dalam.” Ujar salah satu tentangga.


Setelah berulang kali mencoba akhirnya Dewi menyerah, ia memilih meleburkan dirinya ke dalam buku. Jiwa raga Dewi terlalu lelah untuk memikirkan tentang perhatian orang tuanya. Saat ini, dia hanya memerlukan perhatian diri sendiri terhadap pelajaran sehingga bisa lulus dengan cepat.


Sementara di Indonesia, orang tua Dewi sedang berada di salah satu acara pesta pernikahan anak kerabatnya. Di saat yang sama keluarga Fadil juga berada di sana tapi tidak dengan Fadil. Setelah kejadian hari itu, Fadil diusir oleh ayahnya karena telah berzina dengan Eva. Video yang beredar telah membuktikan jika putra mereka tidak sempurna seperti yang selama ini mereka agung-agungkan. Cibiran dari warga yang mengetahui tentang perilaku Fadil ikut membuat orang tuanya harus menahan malu yang teramat sangat.


"Kak, Bang.” Panggil ayah dari Dewi pada orang tua Fadil.


“Cih, kami tidak sudi jadi saudaramu.” Ucap Ibu dari Fadil.


“Gara-gara anakmu, kami harus menjual rumah dan pindah dari kampung sendiri. Kami harus menahan malu gara ulah putrimu. Sekarang dia ke Malaysia? Mau ngapain? Alasan saja mau S2 di samping itu ngapain? Apa kamu yakin dia tidak melakukan yang sama seperti yang dituduhkan ke Fadil? Kamu yakin anak perempuan kalian tetap menjaga diri di negeri orang?”


“Aku harap saat dia pulang nanti dalam keadaan bunting atau kalau tidak dia sudah punya anak tanpa ayah di luar sana.”


 

__ADS_1


***


__ADS_2