Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
Pelipur Lara...


__ADS_3

Jika Dewi dan Fiqi sedang menangis meratapi kisah cinta mereka maka lain halnya dengan Eva. Gadis rasa janda itu tengah berbahagia setelah menerima telepon dari ibu Fiqi. Tidak ada yang paling membahagiakan buatnya kecuali melihat kehancuran Dewi.


“Bang Fiqi pasti sangat mencintai mantan sahabat saya sampai berkata demikian,” ucap Eva pada ibu Fiqi.


“Alah, cinta apa? Ibu tidak percaya sama cinta-cintaan seperti itu. Jangan-jangan di Malaysia sana dia juga cinta-cintaan dengan pria lain. Mana kita tahu.”


Eva tersenyum di ujung telepon. Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan ibu Fiqi, Eva merebahkan diri di atas kasur sambil tertawa bahagia. Sementara Dewi dan Fiqi justru melewati malam dalam deraia air mata tak tertahankan.


Najla berteriak esok paginya saat melihat mata Dewi bengkak. “Ada ape ni dengan mata awak?” Najla tidak tahu tentang kandasnya hubungan Dewi dan Fiqi karena semalam mereka berada di kamar masing-masing.


Ari mata Dewi kembali luruh membuat Najla panik lalu memeluk teman satu apartmentnya. “Kami putus, La.” Ucap Dewi disertai isakan dalam pelukan Najla.


“Rileks, oke! Awak dulu lalu cerite sama saye.” Najla membawa Dewi duduk lalu gadis itu membuat teh hangat untuk temannya.


“Minumlah biar awak sedikit relaks,” Dewi meminum sampai tandas.


Najla duduk memperhatikan temannya yang  tidak pernah ia lihat sebelumnya. Setelah sedikit tenang, Dewi pun menceritakan semuanya pada Najla. Gadis itu hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat itu.


“Wah, saye tak sangke keluarge Bang Fiqi kejam macam tu. Macam mana nak kontrol hati orang? Terus ini bagaimana? Sudah tak ada jalan lagi keh?” Dewi menggeleng.


“Dah cobe call Bang Fiqi lagi?”


“Nomernya tidak aktif.” Najla kembali memeluk Dewi. Gadis itu tidak berhenti menangis.


“Awak istirahat saje di rumah nanti biar saye yang cakap ke Prof, ye!” Dewi mengangguk lemah kemudian kembali ke kamar.


“Saye buat breakfast buat awak di meja, jangan lupa dimakan! Saye berangkat dulu.”


“Ya, makasih.”


“Ingat, zikir banyak-banyak jangan sampai diganggu setan. Call saye kalo butuh apa-apa!”


Dewi mengangguk kemudian menarik selimut sampai ke dada. Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata tetap saja sulit. Bayang-bayang Fiqi selalu melintas dipikirannya. Walaupun mereka belum bertemu tapi posisi Fiqi sudah memeluk hatinya erat hingga sangat sulit bagi Dewi untuk melupakan pria itu.

__ADS_1


Sementara di Indonesia lebih tepatnya di rumah Fiqi, orang tuanya sudah kembali ke rumah. Tidak seperti biasanya, pagi ini Fiqi memilih salat subuh di kamar lalu kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Beberapa kali orang tuanya mengetuk pintu tapi diabaikan. Dari pada berdosa sama orang tua lebih baik tidak melihat mereka, begitulah cara pikir Fiqi saat itu.


“Fiqi, Ibu sudah buatkan nasi goreng di meja ya! Ibu mau belanja keperluan lamaran dulu ke pasar sama bibimu.” Fiqi menutup telinganya dengan bantal.


Dia marah pada orang tuanya, kakek-neneknya dan seluruh keluarga besarnya. Dia ingin membenci tapi takut berdosa. Dia hanya manusia biasa yang memiliki rasa marah dan benci.


Berita lamaran Fiqi dengan putri Abah yang bernama Khatijah mulai terdengar dari mulut ke mulut di kampungnya sampai ke pesantren tempat Fiqi mengajar. Kediaman masing-masing juga sudah terlihat ramai oleh para kerabat yang mulai berdatangan untuk membantu mempersiapkan acara lamaran yang akan dilaksanakan besok. Sementara sang objek utama malah tidak pernah keluar dari kamar bahkan Fiqi juga melakukan puasa sehari semalam karena tidak berselera makan.


Tok…tok…


“Bang, ini Furqan! Tolong buka pintunya!” Fiqi menyingkap selimut kemudian membuka pintu untuk sepupunya yang lebih baik dari pada sepupu yang lain. Hanya Furqan yang mengetahui seperti apa perasaan Fiqi saat ini.


Setelah Furqan masuk, Fiqi kembali mengunci pintu kamar. Dia tidak berniat menerima orang lain di kamarnya.


“Di luar riuh banget ya!” ucap Furqan lalu meletakkan kantung kresek di atas ranjang. “Nasi memang bukan pilihan tepat untuk menyembuhkan luka di hati tapi ini bisa!”


Furqan mengeluarkan isi kantung belanjaanya. Di sana ada mie ayam yang baunya mampu membuat Fiqi lapar. “Kamu beli sama mangkoknya?” Furqan tertawa, “Aku ambil di belakang sebelum ke sini. Kuy, makan! Teman-temanku bilang enak, makanya aku beli.” Furqan langsung mengambil sebungkus lalu memasukkan dalam mangkuknya. Entah sengaja atau tidak tapi gaya makan pria itu mampu membuat Fiqi lapar hingga ia juga membuka bungkusan mie ayam tersebut.


Mie ayah habis, minuman dingin juga habis. Keduanya pria itu kekenyangan, mereka merebahkan diri di ranjang yang sama. “Bang, masih ada kesempatan jika kalian berjodoh pasti bersatu tapi apa yang loe buat sekarang justru membuat paman dan bibi sedih. Kalo loe gak bahagia setidaknya loe pura-pura saja supaya mereka bahagia. Belum tentu juga umur mereka panjang sampai loe menikah nanti. Aku percaya jika seorang anak bisa membahagiakan orang tuanya maka Allah juga membahagiakannya."


Fiqi tersadar oleh ucapan sepupunya yang tidak pernah mengenyam pendidikan di Kairo itu. Tiba-tiba Fiqi menjadi malu pada sepupunya karena Furqan yang tidak pernah kuliah ke Kairo bisa lebih dewasa dari dirinya.


“Maaf kalo Abang tersinggung tapi sebelum Abang menyesal lebih baik terima saja dengan hati lapang sembari terus berdoa semoga Allah menunjukkan jalannya pada hubungan kalian.” Furqan bangun dari tidurnya kemudian berjalan menuju pintu sambil menenteng kantung plastik berisi sampah dan mangkuk kotor bekas mie ayam mereka.


“Makasih!” ucap Fiqi kemudian kembali memejamkan mata tanpa mengunci pintu. Malam harinya, semua keluarga heboh sendiri saat membungkus seserahan yang akan mereka bawa ke rumah Abah besok hari. Fiqi keluar membuat semua keluarga terkejut tapi tidak ada yang berani menegur atau menggodanya. Fiqi makan ditemani Furqan tanpa bicara sepatah katapun dan selepas itu dia mengajak Furqan keluar.


“Kamu punya rokok?” Furqan terkejut karena ia tahu jika Fiqi tidak pernah merokok. Furqan mengeluarkan bungkusan rokok kemudian memberikannya pada Fiqi. Kedua pemuda itu pun menghabiskan rokok dalam diam. Sementara di tempat Dewi, gadis itu masih belum menyentuh makanan yang dibuat oleh Najla sejak pagi. Lelah membujuk temannya, Najla bergegas keluar dari apartment menuju ReSweet café.


“Chik, saye mau tanya boleh?” tanyanya pada salah satu pelayan café. Pria itu mengangguk seraya  tersenyum karena pertanyaan Najla sangat menggemaskan seperti orangnya.


“Kalo orang indo patah hati mereka suka makan ape ye?” pelayan itu tampak berpikir, “Biasanya yang berkuah, panas dan pedas.”


“Makanan macam apa tu?” tanya Najla lagi.

__ADS_1


“Bakso, tekwan, soto, sop, bubur ayam, mie ayam.”


Najla terlihat berpikir, “Banyaknye, saye pesan ape ye menurut Chik? Teman saye itu lagi sedih putus cinte. Kira-kira saye kasih ape ye?”


“Bakso saja, Kak. Tidak ada yang tidak suka makanan itu di Indo.”


Najla mengangguk kemudian memesan dua porsi bakso untuk dibawa pulang. Selepas kepergian Najla, Fadil menghampiri pelayannya.


“Dia ngomong apa tadi sama kamu?”


Pelayan itu pun menceritakan pada Fadil. Pria itu tersenyum puas. “Jadi kamu putus sama pacarmu? Baguslah karena setelah ini aku akan membuatmu jadi milikku.” Fadil menyeringai penuh kelicikan.


Hari lamaran akhirnya tiba. Fiqi memakai kemeja batik lengan panjang, celana bahan dan peci. Diapit oleh orang tuanya, Fiqi memasuki kediaman Abah yang sudah disulap layaknya sebuah hajatan mewah. Beberapa wartawan dari harian daerah ikut mengabadikan momen itu dan tentu saja orang tua serta keluarga Fiqi sangat antusias karena mereka bakal masuk koran.


Walaupun Khatijah tidak ada di sana tapi sebuah layar menampakkan seorang gadis yang tengah duduk di depan laptopnya. Gadis bercadar itu mengucapkan salam kemudian saat Fiqi melamarnya, Khatijah langsung diminta menjawab langsung oleh Abah. Lamaran sekaligus pertunangan itu terjadi secara virtual karena Khatijah masih harus menyelesaikan tugas akhirnya.


Fiqi melirik orang tuanya yang tidak lepas dari senyum bahagia. Ia kembali teringat akan ucapan Furqan bahwa kesempatannya untuk membahagiakan mereka belum tentu bisa dilakukan di masa depan.


Fuqan mengangguk kecil seraya tersenyum saat Fiqi menoleh padanya. Setetes air mata mengalir di sudut matanya. “Maaf, Ukhti. Akhi menyerah pada keluarga tapi Akhi tidak menyerah pada Allah. Kita masih punya Allah yang maha kuasa. Di mata manusia, hubungan kita memang tidak mungkin tapi di tangan Allah semuanya mungkin. Semoga keajaiban itu terjadi pada hubungan kita, Ukhti.” Batin Fiqi melihat ke arah layar di mana sang tunangan masih duduk di balik cadarnya.


Sementara di kamarnya, Dewi kembali merenungi kenyataan yang ia hadapi saat ini. “Di masa lalu sebelumnya aku tidak mendapatkan beasiswa dan aku berakhir dengan Fadil tapi sekarang? Ini kesempatan ke dua tapi hubunganku dengan Bang Fiqi kembali gagal. Apakah aku dan dia memang tidak berjodoh? Di masa lalu tidak banyak yang aku alami sama Bang Fiqi karena sudah lebih dulu menikah. Apakah ini ujian cinta untukku dan Bang Fiqi? Kalau, Iya. Kenapa rasanya sakit sekali bahkan lebih sakit saat melihat Bang Fadil selingkuh dengan Eva? Di masa lalu, aku tidak pernah berbicara atau mengenal keluarga Bang Fiqi dan sekarang juga tidak pernah tapi saat pertama kali bicara dengan mereka, aku justru disuruh putus dari Bang Fiqi. Apakah ini kesalahanku karena mengabaikan keberadaan mereka? Aku ataupun Bang Fiqi tidak pernah saling mengenalkan keluarga masing-masing. Kami terlalu yakin akan direstui tapi lihatlah sekaranga! Hubungan kami kandas oleh keputusan orang tua. Kenapa sesakit ini?” Dewi kembali menangis sambil memegang dadanya yang terasa sesak sampai Najla muncul membuka pintu kamar.


“Wi, saye beli bakso. Awak mau tak? Baunya sedap sangat, saye jadi lapar lagi. Kalau awak tak nak, biar saye yang makan. Awak temani saye makan ya!”


Dewi bangun dari tidurnya lalu keluar kamar. Melihat betapa lahapnya Najla menyantap kuah bakso yang wanginya sangat menggiurkan membuat Dewi lapar.


“Makasih sudah menemaniku yang lagi patah hati.” Ucap Dewi.


“Tak apa patah hati yang penting jangan patah kaki. Berat!”


***


menghela nafas melihatnya...

__ADS_1


__ADS_2