
Keributan pun terjadi karena Kara benar-benar tidak mau dipijat oleh wanita yang dibawa oleh Jimin. Dengan terpaksa Kara menghubungi security untuk mengusir wanita yang hendak memijatnya. Tidak hanya itu saja, Kara yang benar-benar naik darah langsung memotong gaji Jimin dan 50 persen.
“Bos ... tunggu, Bos! Tolong jangan potong gaji saya. Saya minta maaf karena telah membawa orang yang salah. Boss .... !” teriak Jimin saat Kara telah meninggalkan kantor.
Kara yang terlanjur kesal dengan Jimin memilih untuk mengabaikan panggilan Jimin. Bisa-bisanya Jimin memanggil tukang pijat plus-plus untuk memijat kepala yang sedang berdenyut. Bukannya sembuh yang ada kepala bawahnya juga ikut berdenyut karena pijatan dari wanita itu.
“Hei kamu!” teriak Diana yang sengaja menunggu Jimin di luar, karena tak diberitakan izin untuk ke dalam kantor lagi. Diana pun langsung berlari kearah Jimin yang sedang mengantar kepergian bosnya. “Bayaranku mana?”
Jimin menautkan kedua alisnya. “Bayaran? Bayaran apa? Kamu kan enggak jadi kerja, jadi enggak ada bayaran untukmu!”
“Hei ... gak bisa gitu! Kamu udah booking aku jadi kamu harus membayarnya. Kalau kamu enggak mau membayar, aku akan laporkan kamu ke polisi atas tuduhan penipuan!” ancam wanita yang bernama Diana.
Jimin menelan kasar salivanya. Baru saja gajinya di potong 50 persen, kini dia mendapatkan sebuah ancaman. Seharusnya yang bertanggung jawab itu adalah Bosnya, karena bosnya yang tidak mau memakai jasanya.
“Tapi kamu kan belum dipakai. Untuk apa dibayar? Jangan coba-coba meme*ras ya! Aku juga bisa melaporkan kamu dengan tuduhan peme*rasan!”
“Silahkan laporkan! Aku enggak takut, karena polisi pasti akan memeriksa kamu dan bos kamu karena telah terbukti memanggilku. Abis itu masuk berita dan langsung viral kantor ini. Yang rugi siapa? Bos kamu.”
Jimin kalah telak. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan terpaksa dia mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. “Nah ... puas kamu!”
Diana yang melihat selembar uang seratus ribuan langsung menertawakan uang pemberian Jimin. “Kamu pikir aku tukang pijat keliling? Ini buat beli minyak pelumas mana cukup. Tambah 400 ribu aja sebagai ganti rugi waktuku yang terbuang! Biasanya tarif jasaku itu satu juga!”
__ADS_1
Jimin langsung membulatkan bola matanya dengan lebar. Seumur-umur baru kali ini dia mendengar tarif pijat mampu mencapai satu juta. Padahal yang dia tahu biasanya tarif pijat hanya berkisaran 50 ribu sampai 100 ribu.
“Gila! Pijat apaan itu satu juta? Kamu benar-benar mau meme*ras ku ya!”
Lagi-lagi Dia menertawakan ucapan Jimin. Seharusnya Jimin berpikir dua kali lipat dahulu sebelum menyuruhnya untuk datang.
“Apakah kamu tidak membaca bio di profilku? Padahal sudah dicantumkan tarif jasaku. Yaitu satu juta per satu jam. Apakah kamu tidak membacanya terlebih dahulu? Jadi bagaimana apakah mau kita selesaikan secara pribadi atau kita selesaikan di kantor polisi?” tawar Diana dengan penuh kemenangan.
Tak ada pilihan lain, Jimin pun pasrah dan memilih untuk membayar Diana sesuai dengan keinginannya, agar masalah tak berlarut-larut dan wanita itu segera menghilang dari pandangan matanya. Gara-gara wanita itu, Jimin mengalami kesialan yang cukup parah dalam sejarah hidupnya.
“Oke, aku tambah. Puas kamu!” Setelah memberikan empat lembar uang seratus ribuan, Jimin pun langsung kembali untuk masuk ke dalam kantor dengan perasaan yang teramat kesal.
“Arhg ...sial!” umpatnya, dengan keras.
...***...
Sesampainya di rumah, Kara langsung mencari keberadaan istrinya. Tidak ada yang bisa diandalkan, kecuali istrinya, karena Asha adalah wanita multitalenta. Bisa menjadi teman, pacar, istri, bahagia bisa juga menjadi seorang ibu untuk Kara.
“Sayang ... ” panggil Kara setelah membuka pintu kamarnya.
Asha yang sedang menelepon seseorang langsung mematikan teleponnya, karena sang suami yang mendadak pulang tanpa kabar. “Kok udah pulang? Tumben cepat banget?”
__ADS_1
Kata langsung menautkan kedua alisnya. Dia merasa heran dengan Asha yang tiba-tiba mengakhiri panggilan telepon saat dia masuk kedalam kamar. “Sha, kamu baru teleponan sama siapa?”
Asha langsung gelapkan. Dia segera menyembunyikan ponsel kebelakang tubuhnya. “Aku ... ” Asha tak berani untuk langsung berterus terang dengan siapa dia berteleponan.
Tentu saja Kara yang sedang pusing langsung berpikir jika istrinya baru saja menelepon pria lain, dengan kata lain sang istri diam-diam bermain api dibelakangnya.
“Asha, katakan dengan jelas, kamu baru saja berteleponan dengan siapa? Apakah kamu bermain api dibelakangku?”
“Kara, kamu ngomong apa? Aku tidak bermain api dibelakangmu.”
“Jika memang benar kamu tidak bermain api dibelakangku, mengapa kamu langsung mematikan teleponnya saat aku datang, dan kamu juga langsung menyembunyikan ponsel kamu di belakang?”
Pikiran Kara yang sedang kacau segera merampas ponsel yang sedang di sembunyikan sang istri di belakang tubuhnya. Dengan cepat Kara langsung mengecek panggilan terakhir. Betapa terkejutnya saat nama Dokter Frans adalah yang menjadi panggilan terakhir di ponsel sang istri.
“Asha ... ini apa? Jelaskan mengapa dokter Frans meneleponmu? Apakah ada hubungannya dengan Bunga atau diam-diam kamu memang mempunyai hubungan gelap dengannya!” tuduh Kara.
“Astaga Kara ... pikiran kamu sempit sekali? Bukankah sebelumnya dokter Frans telah menghubungimu, tetapi tidak kamu jawab? Oleh sebab itu dokter Frans menghubungiku. Dia menghubungi karena ingin memberitahu jika Bunga udah enggak ada.”
Bola mata Kara langsung membulat dengan lebar. “Maksud kamu apa, Sha? Bunga kabur?”
Asha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tiba-tiba saja tangisnya pecah. Bahkan dia sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Frans yang menangani Bunga.
__ADS_1
“Tidak Kara. Bunga udah meninggalkan kita semua. Bunga udah pergi ke Surga.” Tangis Asha malah semakin pecah.
...###...