
Tak butuh waktu lama, wanita yang dihubungi oleh Jimin telah sampai di kantor. Betapa terkejutnya Jimin saat melihat penampilan wanita yang baru saja dihubungi dengan pakaian yang sangat minim dan makeup menornya.
Kedatangan wanita itu tentu saja menghebohkan suasana kantor. Banyak yang bertanya-tanya mengapa wanita seperti itu bisa lolos untuk masuk kedalam kantor. Namun karena ada Jimin di samping wanita itu, tak ada satupun yang berani untuk menegur ataupun mencegahnya.
“Dengarkan aku! Tugasmu hanya memijat saja. Jangan harap kamu bisa meminta yang plus-plus, karena bosku tidak tertarik dengan plus-plusnya!” Sebelum masuk kedalam ruangan Kara, terlebih dahulu Jimin memberikan peringatan agar wanita itu tidak memberikan bonus plus-plusnya.
“Enggak masalah. Tapi aku enggak menjamin kalau bos kamu tidak mau menerima bonusnya. Jangan salahkan aku jika Bos kamu yang minta ya!”
Jimin mengangguk dengan pelan. “Kamu lihat saja nanti!”
Tak lama kemudian keduanya telah masuk ke ruangan Kara. Dilihatnya saat ini sang bos tengah membaringkan tubuhnya diatas sofa. Busa dilihat jika kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas.
__ADS_1
“Bos ... Bos, bangun! Saya sudah membawa tukang pijat yang Anda butuhkan,” ujar Kara sambil menggoyangkan pelan tubuh Bosnya.
Perlahan mata Kara membuka dengan pelan. Samar-samar Kara melihat sosok yang telah berada dibelakang Jimin. Rasanya seperti mimpi. Bahkan Kara sempat mengucek matanya untuk memastikan apakah yang silih itu benar-benar manusia atau bukan.
“Astaga ... Jimin! Mengapa kamu bawa manusia jadi-jadian untuk masuk ke dalam ruangku. Bawa manusia jadi-jadian ini keluar!” Usir Kara yang baru saja terbangun dari tidurnya.
“Bos ... tenang dulu, Bos! Meskipun dia manusia jadi-jadian, tetapi dia bisa membantu Anda untuk meringankan rasa pegal Anda, Bos,” jelas Jimin.
Kara tak habis pikir dengan pemikiran Jimin yang begitu nekad memanggil tukang pijat plus-plus. Bagi Kara dia tak membutuhkan seorang wanita seperti itu, karena miliknya di rumahnya lebih dari segalanya.
“Jadi, dong! Masa enggak jadi. Bukannya aku udah kasih kamu uang DP?” timpal Jimin dengan heran. Namun, Kara yang tidak terima jika dia di pijat oleh wanita itu tetap bersikeras untuk duduk kembali.
__ADS_1
“Sudahlah Bos, Anda pasrah saja. Wanita jadi-jadian ini bisa mengatasi kepala Anda yang sakit. Baik kepala atas maupun kepala yang bawah,” ujar Jimin.
Dengan cepat Kara melemparkan sebuah bantal sofa kearah Jimin, tetapi karena Jimin menghindar, akhirnya terkena kearah wanita yang dikatakan manusia jadi-jadian itu.
“Diana, maaf. Sepertinya aku harus keluar. Tolong kamu atasi Bosku agar dia tidak pusing lagi. Tapi kamu harus ingat apa yang aku katakan tadi. Jika kamu sampai berani untuk melanggar, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa keluar dari perusahaan ini! Mengerti!” ancam Jimin.
“Iya, aku mengerti.”
Dan setelah kepergian Jimin , wanita jadi-jadian yang bernama Diana langsung mendekat kearah Aksara yang masih duduk di sofanya.
“Pak Bos, Anda tak usah khawatir aku hanya akan memijat rasa lelah Anda,” ujar Diana.
__ADS_1
“Enggak ... aku enggak mau dipijat sama wanita jadi-jadian seperti kamu! Mending kamu keluar atau kamu aku paksa keluar!” sentak Kara
...###...