Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
Bertemu Lagi...


__ADS_3

Orang tua Dewi terpaku di tempat saat melihat Akbar yang baru pulang sekolah dijemput oleh pengasuhnya. "Assalamualauikum, Mama.” Ucap Akbar seraya tersenyum memeluk ibunya. Sedangkan orang tuanya saling melirik lemah, “Mereka siapa, Ma?” tanya Akbar setelah melepas pelukannya. Mata, hidung dan bibirnya sama persis seperti Fadil. Air mata orang tua Dewi luruh lalu memeluk bocah kecil itu.


Dewi menangis menyaksikan pemandangan di depannya. Sebelumnya ia ragu akan reaksi orang tuanya saat melihat Akbar tapi setelah melihat mereka memeluk putranya, semua kegelisahan Dewi akhirnya sirna.


Pengasuh membawa Akbar ke dalam untuk mengganti pakaian. “Itu alasan Dewi tidak pulang ke rumah menemui Ayah dan Ibu.” Lirih Dewi.


Ibu memeluk putrinya tiba-tiba, hati seorang ibu tidak ada yang mampu mendefenisikan seperti apa. Hati lembut penuh dengan kasih dan sayang. “Pasti berat buatmu menghadapi semua ini sendiri di perantauan ya?” kedua wanita beda usia itu pun menangis sambil berpelukan. Setelah meluapkan rasa di hati mereka masing-masing, akhirnya suasana kembali tenang.


Dewi memperkenalkan orang tuanya sebagai kakek dan nenek pada Akbar. Bocah itu sangat bahagia karena baru sekarang dia bisa memeluk kakek dan neneknya. Akhirnya orang tua Dewi menerima alasan putri mereka dan atas permintaan Akbar, mulai hari ini sampai selanjutnya kakek dan nenek akan tinggal bersama dengan mereka. Dewi sudah bercerita jika dia sudah membangun rumah dan sudah siap ditempati hanya saja dia belum siap harus meninggalkan Akbar berdua dengan pengasuhnya saat ia mengajar.


Sebulan kemudian, Dewi pindah ke rumah baru yang lebih luas bersama pengasuh Akbar dan orang tuanya. Atas permintaan Dewi, orang tuanya menutup mulut rapat-rapat tentang keberadaan Akbar termasuk alamat rumah Dewi saat ini. Tindakan Dewi membuat keluarga besarnya mencibir termasuk orang tua Fadil.


“Kalau sudah sukses dan kaya pasti ujungnya sombong. Sudah kebaca itu.” Cibir ibu dari Fadil.


Jangankan keluarga besar, Rani dan Ayi yang masih bersahabat dengannya saja tidak ia beritahukan alamatnya. Dewi menutup segala akses dengan siapa pun. Mereka beberapa kali bertemu di luar walaupun Dewi kerap diundang ke rumah mereka tapi Dewi tidak sekalipun mengundang mereka. Selain itu, Dewi juga tidak pernah membuat acara apa pun di rumahnya termasuk acara ulang tahun Akbar. Dewi merayakan acara ulang tahun Akbar di sekolah. Waktu jam istirahat selalu menjadi pilihan Dewi untuk memberikan kejutan bagi putranya di sekolah dengan membawa banyak makanan dan kue ulang tahun besar yang cukup untuk dibagi-bagi bersama teman-teman sekelasnya.


Begitulah cara Dewi menyenangkan putranya supaya tidak ketinggalan dengan anak-anak yang lain. Waktu terus berlalu sudah dua tahun Dewi menempati rumah barunya bersama orang tua. Hari ini, Dewi bersama beberapa dosen harus menghadiri peresmian cabang kampus mereka di kota sebelah. Mereka juga ditugaskan untuk mengajar di sana. Para dosen dibekali dengan mess yang bisa dipakai saat menginap jika diperlukan. Kampus yang dibangun akan berkolaborasi dengan sebuah pesantren terkenal dan sebagian pengajar mata kuliah agama akan langsung dipegang oleh para ustad dari pesantren.


Akbar sudah kelas tiga SD dan kegiatannya cukup menyita waktu bocah itu. Dari mulai sekolah lalu setelah siang, dia akan ikut latihan taekwondo kemudian malamnya dia akan mengaji di balai pengajian kampung tak jauh dari rumahnya. Kondisi ini juga yang membuat Dewi tidak bisa membawa putranya ke kota sebelah. Mereka akan berada di sana selama seminggu untuk menyesuaikan jadwal dan berdiskusi dengan para pengajar di sana. Kehadiran mereka di sana ibarat ‘Dosen Terbang’ jadi mereka perlu menyesuaikan jadwal mengajar supaya terkejar.


Acara peresmian mulai dilaksanakan, dari sekian banyak orang yang hadir ada satu orang yang mampu mengalihkan perhatian Dewi dalam diam. Ya, dia adalah Fiqi. Dewi baru teringat jika pesantren yang berkolaborasi dengan kampusnya adalah pesantren tempat Fiqi menimba ilmu sebelum ke Kairo. Fiqi ada di barisan paling depan karena dari yang dikatakan oleh pembawa acara. Fiqi adalah menantu pemilik pesantren dan pengelola pesantren tersebut. Bisa dibilang jika Fiqi lah yang menjadi penanggung jawab urusan pesantren menggantikan posisi Abah yang sudah sepuh.


Mata Dewi sedikit basah saat mendengar Fiqi berpidato mewakili pesantren. Ada berbagai rasa di dalam sana hingga membuat dada Dewi sedikit sesak. Dia memilih pergi menuju toilet dan mencari udara segar.

__ADS_1


Setelah mencuci muka, Dewi merasa segar. Ia keluar dari toilet tapi tidak berniat kembali ke tempat acara. Langkahnya membawa Dewi ke sebuh taman di mana banyak bunga yang tumbuh dan cocok untuk menyejukkan hati. Dari jauh, seorang wanita bercadar sedang menyiram bunga dengan perutnya yang sudah besar.


Wanita itu  menoleh ke arah Dewi lalu mengganguk sedikit, “Assalamulaikum,” ucapnya.


“Walaikumsalam, bunga-bunganya sangat cantik, Uztazah.” Ucap Dewi lalu mendekat.


“Benar, Buk. Ibu salah satu dosen yang akan mengajar di sini ya?” tanya wanita itu ramah.


“Iya. Saya tadi ke toilet dan setelah melihat taman ini jadi malas kembali ke sana. Enak di sini, adem.”


Wanita itu tersenyum di balik cadarnya, “Ibu sama seperti suami saya. Kadang-kadang, beliau ke sini hanya untuk memandangi taman ini. Katanya dengan melihat taman ini, hatinya menjadi adem.”


“Oh iya, kita belum berkenalan. Saya, Khatijah. Ibu?” wanita bercadar itu mengulurkan tangannya. Dewi menyambut ramah lalu menyebutkan namanya.


“Sudah delapan, Buk. Anak ke tiga.”


“Alhamdulliah tidak lama lagi berarti ya!”


“Ibu sendiri bagaimana? Sudah punya anak juga?” Dewi tersenyum getir, “Sudah, satu. Saat ini sudah sekolah kelas tiga SD. Waktu masih TK, saya selalu membawanya tapi karena usah sekolah formal jadi tidak bisa lagi saya bawa sembarangan.” Ujar Dewi membuat wanita bernama Khatijah itu tersenyum.


Keduanya berbicara panjang sambil duduk di bangku panjang yang ada di taman tersebut. Pembicaraan mereka terhenti saat seorang pria datang memberi salam.


“Asslamualaikum, Dek.”

__ADS_1


Deg…


Dewi tahu suara itu.


“Walaikumsalam. Gimana sudah selesai?”


“Pidatonya sudah. Sebentar lagi pemotongan pita, ayo!” Dewi masih diam di tempat tanpa menoleh ke arah Fiqi.


“Oh iya, Buk, kenalkan ini suami saya.” Mau tidak mau Dewi harus bangun dan memutar tubuhnya menghadap pria masa lalu.


Deg…


Jika Dewi mencoba menguasai keadaan tapi tidak dengan Fiqi. Pria itu sangat terkejut melihat sang pengisi hatinya berdiri di sana.


“Bang, Ibu Dewi ini salah satu dosen yang akan mengajar di kampus ini.”


“I-iya.”


“Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum,” Dewi pergi tergesa-gesa dari sana. Andai mampu, ia akan menghilang saat ini tapi itu tidak mungkin. Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Fiqi sekaligus istrinya.


“Selamat Akhi, ternyata kamu sudah bahagia.”


***

__ADS_1


__ADS_2