Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
BAB 51


__ADS_3

Lima tahun kemudian ...


Varo yang baru saja ingin beranjak ke tempat tidur, tiba-tiba harus mengurungkan niatnya karena sebuah panggilan darurat yang mengharuskan dia kembali ke rumah sakit.


Setelah lima tahun berlalu, kini Varo telah menjadi seorang dokter muda di salah satu rumah sakit di Jerman. Setelah lulus sebagai seorang dokter, Varo memutuskan untuk tinggal di Jerman, dengan alasan ingin dekat dengan rumah baru Bunga.


Cintanya untuk Bunga tak akan tergantikan oleh siapapun, karena nama Bunga tetap hidup di hati Varo untuk selamanya.


“Dok ... syukurlah Anda sudah datang. Ada pasien yang harus di operasi malam ini karena sebuah kecelakaan,” ujar seorang perawat yang bertugas malam itu.


“Apakah semua persiapan telah disiapkan?”


“Sudah, Dok. Kami hanya menunggu Anda.”


Setelah mempersiapkan diri, Varo segera meluncur ke ruang dimana pasien berada untuk memeriksa keadaan pasien sebelum meluncur ke ruang operasi.


“Apakah pihak keluarganya sudah setuju dengan operasi ini?”


“Pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada rumah sakit, karena saat ini kedua orang tuanya juga mengalami luka-luka, tetapi tidak parah. Mereka sudah pasrah dengan hasil akhirnya.”


Setelah memastikan tidak ada kendala, Varo segera memberi perintah para perawat untuk mempersiapkan operasi malam ini juga, karena jika tidak dilakukan secepatnya.

__ADS_1


Sebagai seorang dokter sebenarnya bukanlah cita-cita Varo, tetapi karena suatu hal, Varo bertekad untuk menjadi seorang dokter untuk membuat orang-orang yang membutuhkan penyembuhan.


Hampir tiga jam berada di ruangan operasi tak membuat Varo merasa lelah, sekalipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Bagi Varo, keselamatan pasien adalah prioritas utama, sehingga banyak para dokter dan perawat yang merasa kagum dengan semangat Varo.


***


Satu Minggu pun telah berlalu. Pagi ini Varo berangkat lebih awal dari biasanya karena pagi ini ada rapat bersama direktur rumah sakit. Entah ada masalah apa sehingga sang direktur membuat agenda rapat dengan tiba-tiba. Padahal menurut Varo di rumah sakit tidak ada masalah.


“Selamat pagi, Dok,” sapa perawat yang berpapasan dengan Varo.


Pesona dan ketampanan Varo mampu memikat lawan jenis yang menatapnya. Terlebih penampilan Varo saat ini yang terlihat berwibawa dengan jas putih khas seorang dokter. “Pagi juga.”


Tak berapa lama langkah Varo telah sampai di ruang yang digunakan untuk rapat. Terlihat sudah banyak orang yang mengisi tempat duduk. Varo pun tersenyum kepada beberapa yang sudah hadir. “Selamat pagi, semuanya.”


Hening untuk beberapa saat seraya menunggu kedatangan sang direktur. Varo yang merasa penasaran dengan agenda rapat pagi ini memilih untuk bertanya kepada seorang teman ada yang ada disampingnya.


“Hans, mengapa direktur mengadakan rapat? Apakah ada sedang ada masalah di rumah sakit?” bisik Varo dengan pelan.


“Kamu enggak tahu kenapa diadakan rapat pagi ini?”


Varo hanya menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi hari di rumah sakit, karena beberapa hari ini dia sangat sibuk dengan pasien-pasiennya.

__ADS_1


“Menurut info yang ku dengar, kita akan kedatangan dokter spesialis kanker. Dokter ini usianya masih muda, tetapi terkenal bisa menyembuhkan pasien kanker, sekalipun sudah stadium akhir. Entah bagaimana metode, sehingga penyakit yang sangat membunuh itu bisa dihadapi. Dan karena direktur tertarik dengan dokter muda itu, dia sampai memohon kepada dokter itu untuk bekerja sama dengan rumah sakit ini,” jelas Hans, salah satu teman dekat Varo.


“Satu lagi, aku dengar dokter ini juga berasal dari Indonesia yang telah menetap lama di sini,” lanjut Hans lagi.


Varo hanya mengangguk dengan pelan, meski dia tidak tertarik dengan penjelasan Hans.


Tak lama kemudian, seorang pria masuk kedalam ruangan dengan diikuti oleh seorang wanita dengan jas putih sama seperti beberapa orang yang telah menunggu mereka. Untuk menyambut kedua orang itu, semua yang hadir berdiri sebagai bentuk penghormatannya.


“Duduklah!” ( Anggap aja mereka menggunakan bahasa Jerman, ya )


Mata Varo masih terperangah pada sosok yang dibawa oleh direkturnya. Dadanya kembali bergerumuh setelah lima tahun tak pernah bergerumuh lagi. Debaran jantungnya benar-benar sangat kencang. Bahkan berulang kali Varo mengucek matanya untuk memastikan apakah penglihatannya.


“Hans, cubit!”


Hans yang duduk disamping Varo langsung menautkan kedua alisnya. “Cubit?”


Karena Hans disuruh untuk mencubit, dia pun langsung mencubit lengan Varo dengan kuat.


“Auuu ... ” teriak Varo yang bisa merasakan rasa sakit. Berarti saat ini Varo memang sedang tidak bermimpi. Menyadari semua mata tertuju padanya, Varo pun langsung meminta maaf.


Tidak mungkin! Bukankah Bunga sudah pergi. Apakah ini hanyalah wanita yang mirip dengannya saja? Tidak mungkin aku tidak bisa mengenali Bunga. Dia begitu mirip dengan Bunga. Batin Varo dengan degup jantung yang semakin berdebar, terlebih saat wanita itu tersenyum kearah Varo.

__ADS_1


...#BERSAMBUNG#...


__ADS_2