Kisah Yang Tertinggal

Kisah Yang Tertinggal
35 ~ Sebuah Janji


__ADS_3

Bunga mengerjap dengan pelan. Matanya berusaha untuk mengedar untuk melihat suasana sekitar yang rasanya asing untuknya. Saat ingin bangkit, kepala Bunga masih terasa pusing. “Aduh sakit .... ” Bunga merintih pelan.


Asha yang menunggu Bunga seorang diri langsung tersentak saat mendengar rintihan Bunga. “Bunga, kamu sudah sadar, Nak? Apa yang sakit? Tunggu, Bunda panggil dokter dulu.” Asha langsung memencet tombol Nurse Call untuk memanggil perawat.


“Bunda. Kok Bunda ada disini?” tanya Bunga dengan heran saat melihat Bundanya ada hadapannya. Sejenak Bunga mencoba untuk mengingat apa yang telah terjadi, mengapa saat ini dirinya bisa terbaring di rumah sakit.


Dalam ingatan dia hanya mengingat saat Varo mengajaknya untuk menikah. Dan belum sampai Bunga memberikan jawaban atas pertanyaan Varo, dia sudah tak bisa mengingat apa-apa lagi.


Apakah tadi malam aku pingsan lalu Varo Mama aku ke sini? Jika iya, lalu di mana Varo saat ini? Apakah dia telah memberitahu Bunda tentang penyakitku? Argh ... Varo jahat! Mengapa dia harus memberitahu Bunda secepat ini?


Dada Bunga naik turun dan berdebar sangat kencang saat melihat tatapan Bundanya. Tak perlu ditanya lagi, Bunga sudah bisa memastikan jika Bundanya telah mengetahui penyakit yang saat ini menggerogoti tubuhnya.


“Bunga ... kenapa kamu harus merahasiakan penyakitmu kepada Bunda, Nak? Kamu sungguh tega!”


Bunga langsung tertunduk lemah. Ya, katakan saja jika Bunga terlalu tega karena menyembunyikan penyakitnya. Namun, semua itu Bunga lakukan karena tidak ingin membuat orang tuanya sangat mengkhawatirkan dirinya,


“Bunda ... maaf. ”


Asha mencoba untuk tidak mengeluarkan unek-unek atas rasa kecewanya, karena dia tidak ingin menyudutkan Bunga yang saat ini sedang sakit. Mencoba untuk memahami, agar Bunga tidak merasa bersalah, karena Asha tahu betul bagaimana sifat anaknya yang akan selalu menyalahkan dirinya sendiri ketika dihadapkan dengan sebuah masalah.


Tak berselang lama, para perawat dan seorang dokter masuk ke ruangan Bunga untuk mengecek keadaan Bunga yang baru saja sadar.


“Maaf, Ibu. Kami ingin memeriksa pasien terlebih dahulu, jadi dimohon untuk menunggu di luar,” ujar dokter Mada.


Asha hanya mengangguk dengan pelan dan langsung meningkatkan ruangan. Rasanya sangat kecewa karena Bunga yang tidak terbuka atas penyakit yang saat ini sedang menggerogoti tubuhnya. Bahkan hanya kemungkinan kecil Bunga bisa bertahan untuk hidup.


Diluar telah ada Varo dan juga ayah Bunga yang baru saja menemui dokter Mada untuk meminta penjelasan atas penyakit yang sedang menggerogoti putrinya.

__ADS_1


“Sayang, bagaimana?” tanya Asha yang kini telah duduk di samping suaminya.


Askara menghela napas panjangnya. Sangat sulit untuk dijelaskan, karena terasa menyakitkan.


"Sayang, kamu dengar aku kan? Apa kata dokter?” ulang Asha dengan penuh rasa penasaran.


“Kondisi Bunga memburuk, Sayang. Meskipun dia telah melakukan kemoterapi, tetapi tidak menjamin mengangkat penyakitnya. Penyakit Bunga sudah masuk stadium akhir. Itu adanya tidak akan ada harapan Bunga untuk sembuh.”


Seketika dada Asha terasa sesak, seakan rongga dadanya menyempit. Bahkan rasanya sangat sulit untuk menelan salivanya.


“Apa? Stadium akhir? Itu artinya ... ” Asha tidak bisa untuk melanjutkan ucapannya. Hatinya terasa sakit untuk menerima kenyataan yang akan datang.


“Bunga tidak akan mati. Aku akan berusaha untuk menyelamatkan Bunga. Apapun akan aku lakukan untuk kesembuhan Bunga,” ucap Askara dengan kesungguhan. “Lusa aku akan mengirim Bunga ke luar negeri untuk melakukan pengobatan. Aku yakin, Bunga akan sembuh dari penyakitnya.”


Jantung Varo seakan ingin berhenti berdetak ketika ayah bunga mengatakan ingin membawa Bunga ke luar negeri untuk melakukan pengobatannya. Jika Bunga bener-bener sampai pergi, apa yang akan Varo lakukan untuk Bunga? Dia tidak akan bisa melindungi Bunga lagi. Namun, Varo juga tidak bisa egois. Bagaimanapun orang tua Bunga adalah orang yang berhak sepenuhnya pada Bunga.


...***...


Kini di dalam sebuah ruangan hanya terasa hening, karena tak ada yang ingin bersuara. Ayah dan Bundanya memilih bungkam, begitu juga dengan Varo, yang tidak ingin berbicara apa-apa pada Bunga.


“Kalian semua kenapa diam seperti patung? Apakah ada yang aneh pada diriku?” tanya Bunga yang mencoba untuk mencairkan suasana. Namun, tak membuat ayah dan bundanya langsung membuka mulut mereka.


Bunga merasa jika saat ini kedua orang tuanya merasa marah karena Bunga tak memberitahu penyakitnya. “Ayah dan bunda marah karena penyakit Bunga? Maaf jika Bunga tidak bisa menjadi anak bisa membahagiakan kalian,” ucap Bunga dengan lemah.


Asha yang sejak tadi menahan air matanya agar tidak tumpah, kini telah lolos begitu saja. “Kamu ngomong apa sih, Bunga? Kami tidak marah. Hanya kami sedikit kecewa denganmu yang menyembunyikan penyakit sebesar ini! Mengapa kamu lakukan ini, Bunga? Kamu pikir kamu bisa mengatasi masalah ini dengan baik? Tidak Bunga! Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, ayah dan bunda adalah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kamu. Bunga ... bunda sayang sama kamu.” Dengan sisa air mata, Asha langsung memeluk tubuh Bunga dengan isak tangisnya.


“Bunga juga sayang Bunda.”

__ADS_1


“Bunga, mengapa kamu tidak bercerita pada ayah dan bunda jika kamu sakit? Apakah kamu tidak menganggap ayah dan bunda sebagai keluarga? Ayah akan lakukan apapun untuk kesembuhanmu, Nak. Lusa, ayah akan membawamu ke luar negeri untuk melakukan pengobatan. Ayah yakin kamu akan sembuh,” ujar ayahnya.


Seketika Bunga langsung melepaskan pelukan bundanya. “Apa? Keluar negeri? Tapi Bunga sudah kemoterapi, Yah.”


“Ayah tahu, tapi ayah ingin kamu sembuh total. Kemoterapi hanya memperlambat siklus dan tidak akan menjamin kesembuhanmu. Ayah sudah meminta bantuan teman Ayah untuk mencarikan tempat pengobatan yang terbaik. Jadi kamu jangan khawatir, kamu akan sembuh.”


Bola mata Bunga langsung menatap kearah Varo. Bagaimana bisa dia meninggalkan Varo, sementara Varo adalah vitaminnya. Bagaimana saat menjalani pengobatan Bunga tidak bisa bertahan dan dia akan pergi tanpa melihat Varo terlebih dahulu. Tentu tidak bisa dibayangkan bagaimana rasanya sakitnya.


Sadar dengan tatapan Bunga, Varo langsung tersenyum kecil. Mencoba memberikan isyarat jika Bunga harus setuju dengan keinginan ayahnya, karena Varo tahu jika ayah Bunga akan memberikan yang tebaik untuk anaknya.


Varo ... bagaimana bisa kamu setuju dengan keinginan ayah? Apakah kamu tidak memikirkan bagaimana nasibku disana tanpa kamu? Aku pasti tidak akan sanggup Varo! Lalu bagaimana jika aku mati disana?


“Bunga, percayalah kamu akan sembuh dan kita akan menua bersama sesuai dengan keinginanmu. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh. Pergilah! Disini aku akan menunggumu. Dan pada saat kamu kembali, aku akan langsung menikahimu,” janji Varo pada Bunga. Seolah Varo tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bunga.


“Tapi Varo .... ”


“Bunga, jika kamu mencintaiku, kamu harus sembuh! Aku tetap akan memantaumu dari sini.”


Memang sebuah keputusan yang paling berat. Bunga terpaksa harus pergi untuk kesembuhannya. Dia pun berjanji akan segera pulang tanpa penyakitnya lagi.


“Baiklah. Aku akan pergi, tetapi saat aku kembali nanti, kamu harus langsung menikahiku. Bagaimana?”


“Iya. Aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji padaku, kamu harus segera kembali tanpa penyakitmu. Bagaimana?”


Bunga mengangguk dengan pelan sebagai tanda setujunya. “Aku pasti akan pulang untuk kamu, Varo.”


...###...

__ADS_1


__ADS_2