
Acara makan malam yang awalnya terasa membosankan kini berubah menjadi makan malam yang menyenangkan, karena orang tua Bunga dan Varo sama-sama mendukung hubungan anak mereka. Terlihat Askara yang semakin kuat untuk menjodohkan Bunga dengan Varo.
Harapan untuk bisa sembuh total kini semakin kuat, meskipun rasanya tidak mungkin. Namun, Bunga percaya akan kuasa Tuhan. Jika Dia sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya bisa terjadi atas kuasa Tuhan.
Melihat senyum Bunga yang tak pernah pudar, membuat dada Galang terasa nyeri. Meskipun dia terlahir sebagai adik, tetapi Galang adalah orang yang akan menjadi gardan terdepan untuk Bunga.
Kak, bagaimana bisa kamu menyembunyikan luka kebalik senyummu? Aku tidak tau bagaimana perasaan ayah dan bunda saat mengetahui jika kamu sedang sakit? Kak, maaf jika suatu saat aku ingkar. Jujur aku tidak akan sanggup membiarkan kamu menanggung semua rasa sakit itu sendirian. Kita adalah keluarga. Ayah dan bunda pasti akan sangat bersedih jika sampai terjadi sesuatu denganmu. Aku juga yakin ayah dan bunda akan menyalahkan diri mereka karena tidak bisa menyelamatkan kamu, kak.
Lamunan Galang tiba-tiba harus buyar ketika ayahnya mengajak untuk pulang. Waktu dua jam rasanya terlalu begitu cepat.
“Galang, apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo pulang!” seru ayahnya.
Galang celingukan karena tak menemukan Bunga dan juga Varo yang tadi duduk di sana ya. “Mereka kemana, Yah?”
Askara malah menertawakan pertanyaan Galang. Entah apa yang dipikirkan oleh anak bungsunya itu mengapa dia tidak tahu jika semua orang telah membubarkan diri.
“Ya ampun, Galang! Kamu dari tadi ngapain aja sampai enggak tahu kalau semua orang udah pergi. Kamu enggak lagi ketiduran kan?” tanya ayahnya.
Galang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi. “Galang enggak tidur, Yah. Galang cuma .... ”
__ADS_1
“Ah, sudahlah. Ayo pulang!” Tak ingin menunggu jawaban dari Galang, ayahnya langsung menarik tangan Galang untuk meninggalkan tempat duduknya.
Galang hanya bisa pasrah. Namun, sesampainya di parkiran, kedua alisnya langsung menaut. “Kak Bunga mana?” tanyanya saat tidak melihat sang kakak.
“Bunga udah pulang diantar sama Varo. Lagian kamu ngapain sih pakai acara tidur saja!” protes bundanya.
“Galang enggak tidur, Bun! Galang cuma sedang memikirkan kak Bunga.”
“Sok-sokan mikirin kakaknya! Mikirin diri sendiri aja belum bisa!” cibir ayahnya.
“Sudahlah, enggak usah pakai acara berdebat lagi. Mending sekarang kita pulang! Bunda takut kalau Bunga sama Varo nyampe terlebih dahulu di rumah tetapi bunga enggak bisa masuk ke rumah karena kunci rumah Bunda yang bawa,” ujar Asha, Bundanya Galang.
Dua pria itu langsung masuk ke dalam mobil, mengikuti permintaan sang Bunda tercintanya. Jika sang bunda sudah berbicara, maka tak akan ada yang berani untuk membantahnya.
“Maksud Bunda?”
“Bunda nggak tahu apakah itu hanya perasaan Bunda aja atau gimana, tapi Bunda tuh liatnya wajah Bunga kadang-kadang pucat kayak orang sakit. Pas ditanya katanya enggak apa-apa. Bunda juga merasa kalau Bunga itu makin kurusan,” ungkap bundanya.
Seketika tubuh Galang langsung membeku saat mendengar penjelasan dari Bundanya. Ingin sekali Galang menceritakan tentang penyakit yang saat ini sedang menggerogoti tubuh sang kakak. Namun, rasanya Galang belum sanggup.
__ADS_1
“Ah, itu mungkin hanya perasaan Bunda aja. Galang liatnya kak Bunga bisa aja.” Galang berkilah.
“Mungkin kamu terlalu menghentikan keadaan Bunga, sehingga kamu melihatnya seperti itu. Aku sih liatnya biasa aja,” timpal Askara yang fokus dengan setir kemudinya.
“Memangnya kamu pernah memperhatikan Bunga? Enggak kan?”
Askara yang menyadari jika dia memang tidak pernah memperhatikan Bunga langsung terdiam tanpa kata. Bukan tidak peduli kepada anaknya, tetapi Askara memang tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan perubahan yang dialami oleh anak-anaknya. Baginya selagi sama anak terlihat sehat, Askara tidak mengkhawatirkannya.
Suasana mobil terasa hening, manakala tak ada satu kata yang terucap. Bahkan tak ada lagu untuk memecahkan keheningan. Galang memilih diam sambil memainkan ponselnya, sementara Asha masih berpikir keras dengan apa yang dia rasakan. Biasanya naluri seorang ibu itu sangat kuat dan tidak akan pernah meleset.
Disini lain, bukannya langsung mengantar Bunga pulang, Varo malah mengajak untuk singgah ke sebuah tempat terlebih dahulu. Varo merasa jika waktunya bersama Bunga terlalu singkat sehingga masih butuh waktu untuk menikmati malam Minggunya.
“Varo ... mengapa kita tidak langsung pulang ke rumah?” tanya Bunga dengan heran saat. Varo mengajaknya singgah ke taman kota.
“Aku masih belum puas bersamamu, Bunga. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu.”
“Tapi ini sudah malam, Varo. Bagaimana kalau ayah marah?”
“Tenang saja, aku sudah memberitahunya jika aku sedang membawamu singgah kesini.”
__ADS_1
Bunga tidak habis pikir dengan Varo yang masih ingin menghabiskan waktu pada bersama. Padahal hampir satu hari keduanya sudah menghabiskan waktu mereka di kampus, tetapi tak pernah membuat Varo merasa puas.
“Bunga ... aku tidak pernah menyangka jika orang tua kita telah berteman dan mereka berdua telah memberikan lampu hijau pada hubungan kita. Aku merasa itu adalah pertanda yang bagus untuk hubungan kita. Bunga, maukah kamu menikah denganku?”