
“Pantas saja pesan-pesannya penuh kata-kata mesra begini ternyata mereka lagi LDR?” cibir Dewi saat melihat foto-foto tangkapan layar yang berhasil ia dapatkan dari ponsel Eva. Butuh usaha ekstra untuk Dewi mendapatkan bukti-bukti tersebut. Di balik usahanya tersebut ada peran Ricki di sana. Sang komisaris yang ternyata diam-diam memendam rasa pada Dewi mau melakukan apa pun untuk sang pujaan hatinya termasuk bermain peran seolah Ricki tidak punya kuota lalu meminjam ponsel Eva.
“Sebenarnya buat apa sih, Wi?” tanya Ricki setelah melakukan aksinya.
Dewi tersenyum, “Kejutan buat Eva. Nanti kamu sama teman-teman yang lain pasti aku undang juga kok.”
“Kejutan apa?”
“Namanya juga kejutan ya tetap rahasia lah. Sabar aja, kamu pasti akan tahu nanti.”
Dewi tidak mau mengambil resiko dan harus menjelaskan banyak hal saat ini jika meminta pada Ayi dan Rani. Mereka pasti curiga lalu mulai mengajukan pertanyaan dari a sampai z. Dewi terlalu lelah untuk menjawab satu persatu pertanyaan mereka.
“Sabar ya! Nanti kalian semua akan tahu.”
Saat Dewi hampir terlelap, getaran ponsel kembali menyadarkannya. “Assalamualaikum, bagaimana hasil tesnya? Maaf Akhi baru hubungin Ukhti karena banyak sekali tugas akhir-akhir ini.” Tulis Fiqi.
Dewi tersenyum senang, “Walaikumsalam, Akhi. Alhamdulillah, lulus. Makasih Akhi atas doa dan dukungannya. Setelah ini, Ukhti akan menghadapi ujian yang lebih berat lagi. Ukhti minta Akhi tetap mendukung Ukhti dari jauh ya!”
“Insya Allah. Baiklah kalau begitu lekas istirahat. Akhi mau lanjut buat tugas lagi. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Mata Dewi terpejam sempurna. Dua minggu bukan waktu yang lama jika kita tidak menunggunya. Buktinya persiapan untuk lamaran sudah mulai digelar di kediaman Dewi. Saat orang tua dan kerabatnya sibuk mengurus lamaran, Dewi justru menghabiskan waktu di kampus untuk mengejar mata kuliah.
“Wi, kamu mau kuliah? Apa tidak bisa libur besok acara pertunanganmu dan hari ini kamu masih wara-wiri di jalan.” Cegah sang ibu.
Dewi tersenyum, “Bu, tidak apa-apa. Allah akan melindungi Dewi.”
Ya, kali ini Dewi memang harus banyak bersyukur karena kesempatan kedua yang Allah berikan telah membuatnya kembali ke masa lalu sekaligus merubah masa lalu terdahulu yang berakhir suram. Dewi memacu motornya ke kampus seperti biasa. Sesampainya di kelas, di depan teman-temannya, Dewi berdiri menatap satu persatu teman kuliahnya yang sudah hadir semua.
“Assalamualaikum semuanya. Tolong perhatiannya sebentar! Aku mau mengundang kalian ke rumah besok jam 10 pagi. Aku harap kalian datang semua karena setelah ini mungkin kita tidak akan bertemu lagi.” Ucap Dewi dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Teman-teman kelasnya terkejut, mereka bertanya-tanya ada apa dengan Dewi. “Ada apa sih, Wi?”
Dewi memaksa tersenyum lalu menjawab, “Datang saja kalau ingin tahu. Aku tidak bisa mengatakannya pada kalian. Jadi, aku harap kalian datang ya!”
Setelah membuat pengumuman di kelasnya, Dewi kembali membuat pengumuman di kelas kakak letingnya. Dewi yang sedang mengejar mata kuliah di kelas para senior kembali membuat heboh kakak-kakak kelasnya karena pengumuman yang ia sampaikan.
“Ada apa, Wi? Kamu bisa cerita sama Abang kalau punya masalah berat.” Ucap Reja.
“Iya, ada apa? Apa kamu dijodohin terus gak dikasih kuliah lagi?” sela Bang Iskandar.
Pertanyaan mereka mengundang rasa penasaran dari semua kakak leting yang berada di kelas tersebut, “Kalau Kakak dan Abang-abang penasaran, datang ya besok. Aku tidak minta banyak, hanya minta kalian datang.”
Keesokan harinya, suasan begitu meriah di kediaman Dewi. Wajah Dewi dirias natural dengan gaun brokat peach yang terlihat sangat elegan di tubuhnya. Seperti yang diharapkan, teman-teman dan kakak-kakak letingnya sudah hadir dan mereka juga terkejut mengetahui jika hari ini adalah hari pertunangan Dewi.
Eva terlihat gelisah sejak tadi, diam-diam dia menatap Dewi saat sedang bercengkrama hingga rombongan yang ditunggu akhirnya tiba. Hanya satu orang yang terkejut saat melihat siapa pria yang sedang digandeng dengan pakaian berwarna senada dengan Dewi. Pria tampan yang sangat ia rindukan. Lutut Eva lemah dan hampir jatuh saat berdiri. Fadil berjalan di depan dengan diapit oleh orang tuanya tersenyum bahagia menatap Dewi. Ia belum menyadari jika calon istrinya itu adalah Dewi yang pernah ia temui di café ReTweet. Wajah Dewi dengan polesan make up membuat siapa saja susah mengenalinya.
Fadil tidak menyadari jika di sana ada Eva yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Dewi tersenyum penuh kemenangan. Langkahnya sedikit lagi akan berhasil. Rangkaian demi rangkaian dilakukan hingga sampai pada puncak acara yaitu pertemuan dua sejoli yang akan memasangkan cincin di jari satu sama lain.
Fadil menatap Dewi yang tengah tersenyum, keningnya mulai bertaut karena kini jarak keduanya lumayan dekat.
“Hai Bang! Masih ingat aku?” Sapa Dewi lebih dulu.
Gleg…
Para undangan hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
“Dewi-“
“Ya. Abang kaget karena calon tunangan Abang adalah gadis yang abang ajak pacaran di café ReTweet atau-?” Dewi menjeda ucapannya sesaat. Para keluarga mulai heboh mendengar perbincangan dua anak muda yang hendak bertunangan tersebut.
“Atau Abang kaget karena aku adalah sahabat dari gadis lain yang Abang pacari?” suasana mendadak berubah.
__ADS_1
Dewi mengangkat tangan lalu sebuah video pun muncul di layar yang sudah ia siapkan sebelumnya. Saat ia hendak memasang layar tersebut, keluarganya sempat protes tapi karena alasan, “Ini kan sekali seumur hidup jadi aku ingin membuat hari pertunanganku berbeda.” Dengan alasan itulah, keluarga Dewi menginzinkan.
“Bang, jangan begini, geli.”
“Abang kangen,”
“Kangen gak harus peluk cium begini dong.”
“Apa kamu tidak kangen Abang, heh?”
“Tidak dikit tapi pake banget.”
“Malam ini Abang tidur di sini ya? Abang pengen tidurin kamu tapi sebenarnya Abang pengen tidur sekarang.”
“Tutup pintu dulu!”
Dan selanjutnya yang terdengar adalah suara-suara yang membuat wajah sebagian orang memerah menahan marah. “Dewi, apa ini?” bentak Fadil.
Dewi tersenyum sinis, “Eva kemarilah! Kalau kamu mencinta Bang Fadil seperti yang kamu ucapkan maka jangan biarkan dia menanggung malu seorang diri di sini.” Undangan yang hadir mulai berbisik ria.
Teman-teman sekelas maupun para senior menatap Eva dengan tatapan tidak percaya bahkan merendahkannya.
Dari video satu ke video lain berjalan lalu berganti foto tangkapan layar di ponsel Eva. “Apa maksudnya semua ini?” Ayah dari Dew bangkit dari duduknya.
“Ayah, tidak ada cara lain yang bisa Dewi lakukan untuk membuka mata Ayah bahwa laki-laki ini yang Ayah katakan pria baik, mapan dan berasal dari keluarga baik-baik karena masih ada hubungan darah dengan kita tapi inilah wujud asli pria ini. Ayah, anak seorang alim ulama belum tentu akan menjadi ulama begitu juga sebaliknya. Keluarganya mungkin memang baik tapi belum tentu anaknya juga baik. Dari video ini, Ayah pasti bisa menilai sendiri kan seperti apa dia? Maaf Ayah, bukan seperti ini laki-laki yang akan menjadi imam untuk Dewi.”
“Paman, Bibi, maaf tapi hanya ini caranya agar setiap orang dapat mengetahui seperti apa Bang Fadil di luar rumah. Dia bukan lagi putra tersayang yang patuh pada nasehat orang tuanya. Dia sudah menjadi laki-laki sejati di luar sana termasuk dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita."
Plakkk…
***
__ADS_1