
Varo merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Galang, karena sebelum berangkat ke luar negeri keadaan Bunga terlihat baik-baik saja. Dan untuk membuktikan bahwa Galang tidak sedang berbohong, Varo menyuruh Galang untuk menghubungi Bunga.
Kak Bunga … maafkan aku. Jika kamu ingin marah, marahlah kepada Varo karena dia telah memaksaku dengan sebuah ancaman.
Dengan berat hati, Galang langsung menghubungi nomor ponsel milik kakaknya yang sengaja ganti baru agar tidak bisa dihubungi oleh Varo.
Tanpa menunggu lama, sambungan telepon terhubung dan langsung diangkat oleh Bunga yang berada diseberang jauh sana.
“Halo Galang, ada apa?” tanya Bunga dari seberang teleponnya.
“Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya ingin menelponmu saja karena rindu. Apakah kamu sedang sibuk? Jika tidak, mari kita mengobrol sebentar saja,” pinta Galang.
Bunga yang berada di seberang telepon hanya bisa mengiyakan keinginan Galang, karena Bunga sendiri merasa sangat jenuh dengan keadaan di tempatnya dirawat.
“Mau ngobrol tentang apa? Kebetulan aku juga sedang bosan tak ada teman untuk bercerita, karena Ayah dan Bunda sedang keluar.”
“Kak, bisakah kita video call?”
“Oke. Bentar ya.”
Tak berapa lama, Galang pun bisa melihat wajah sang kakak karena keduanya telah tersambung dengan video call. Galang sedikit terkejut ketika melihat tubuh Sang kakak yang mulai mengurus. Bahkan wajahnya juga terlihat sedikit pucat karena sang kakak tidak menggunakan polesan make up.
Rasanya Galang tidak tega untuk memperlihatkan sang kakak kepada Varo, tetapi karena sebuah ancaman Galang langsung menyerahkan ponselnya kepada Varo yang ada di depannya. Sontak Bunga yang berada di seberang telepon merasa sangat terkejut ketika melihat wajah Varo muncul di layar ponselnya.
“Varo,” gumamnya dengan pelan. Seketika tangan Bunga hendak mematikan sambungan video call tetapi dengan cepat Varo memohon agar Bunga tidak mematikannya.
__ADS_1
“Bunga … tolong jangan dimatikan dulu. Aku ingin berbicara sebentar denganmu.”
“Tidak Varo! Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu!”
“Please Bunga. Sebentar saja. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan di sana. Aku rindu kamu Bunga!”
Sejenak Bunga terdiam sambil menahan air matanya agar tidak tumpah. Bagaimana mungkin Bunga bisa kuat jika dia harus memperlihatkan keadaannya pada Varo. Terlebih saat ini dia sama sekali tidak menggunakan polesan make up.
“Baiklah, aku beri kamu waktu 5 menit,” ujar Bunga dengan datar.
Varo merasa bersyukur ketika bunga masih memberinya waktu, meskipun itu hanya 5 menit. Varo tidak ingin menyia-nyiakan untuk yang telah diberikan untuknya. Apapun alasan Bunga yang ingin menyembunyikan tentang kesehatannya saat ini, Varo tidak ingin membahasnya. Varo hanya ingin memberikan semangat untuk Bunga, karena sebelumnya Galang sudah menceritakan bagaimana kondisi Bunga saat ini.
“Bunga, kapan kamu pulang? Aku sangat merindukanmu.”
“Varo … secepatnya aku akan pulang. Di sini aku sudah merasa sangat bosan. Aku juga sangat merindukanmu. Maaf jika aku sama sekali tidak memberikan kabar kepadamu. Aku hanya tidak ingin mengganggu waktumu.”
Varo masih menahan senyum di bibirnya ketika dia melihat dengan jelas bagaimana perubahan Bunga yang sangat dramatis. Ingin rasanya Varo menitihkan air matanya, tetapi dia mencoba untuk menahannya.
“Bunga … aku sama sekali tidak pernah merasa terganggu dengan kabar darimu. Taukah kamu jika siang dan malam aku terus menerus menunggu kabar darimu? Bunga … tolong jangan putuskan komunis kita agar aku bernapas dengan tenang.”
“Varo … maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk memutuskan komunikasi tentang kita. Apakah kamu tidak percaya denganku?”
Varo hanya bisa menghela pas panjangnya. Dalam hati hanya bisa berkata sampai kapan Bunga akan terus membohonginya. Varo benar-benar sangat takut jika kelak Bunga tidak bisa pulang karena penyakitnya yang semakin parah.
Ingin rasanya Varo mencerca dengan berbagai pertanyaan yang sudah sangat mengejar di hatinya. Namun saat melihat kondisi bumi yang saat ini Varo memilih untuk menyimpan semua pertanyaan itu di dalam hatinya. Sungguh dia tidak tega untuk mencerca Bunga untuk saat ini.
__ADS_1
“Its, oke. Aku percaya denganmu dan aku akan setia menunggumu sampai pulang. Kamu harus segera sembuh Bunga. Aku tidak mau mendengar kamu gagal dalam pengobatanmu.”
Bunga langsung terdiam dengan tubuh yang menegang. Waktu yang dimilikinya sudah tidak lama lagi. Entah hanya tinggal hitungan bulan atau hari, Bunga tidak tahu. Namun, menurut dokter yang menanganinya sisa waktu yang dimiliki Bunga hanya tinggal satu bulan lagi. Itu artinya tak ada sedikitpun harapan untuk Bunga bisa kembali pulang. Mungkinkah ini adalah kali terakhir dia bisa melihat wajah Varo sebelum dia tutup usia? Bunga langsung menyeka jejak air matanya ketika dia merasa tidak siap kita harus tutup usia dalam waktu dekat.
“Bunga … jangan menangis!” Hati Varo pun terasa sangat sakit, ketika melihat air mata Bunga. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Bunga yang tidak rela jika usia Bunga hanya dalam hitungan waktu saja. “Bunga, percayalah setiap penyakit pasti ada penawarnya. Hidup dan mati hanya Tuhan yang tahu. Jangan pernah mendahului takdir Tuhan, karena kita hanyalah manusia biasa.”
“Varo … waktu yang aku berikan telah habis. Aku akan segera mengakhiri video call ini. Di sana kamu harus jaga diri kamu dengan baik. Tolong jangan bersikap dingin dan arogan kepada semua orang. Jadilah orang yang berguna untuk orang lain. Terima kasih kamu telah hadir dalam hidupku dan mau berteman sekaligus berpacaran denganku. Aku sayang sama kamu selamanya.”
Tanpa menunggu balasan dari Varo, Bunga langsung mematikan panggilan video mereka. Hatinya benar-benar sangat sakit, karena harus menanti sebuah kematian yang akan datang kapan saja.
Setelah menutup video call, Bunga hanya bisa terisak di ranjangnya karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Bunga …jangan menangis. Ayah dan Bunda ada disini. Percayalah, hanya Tuhan yang tahu kapan kita akan mati. Meskipun dokter telah memberikan sebuah prediksi tentang usia seseorang tetapi percayalah kuasa Tuhan itu lebih nyata. Disini Ayah dan Bunda terus berdoa memohon kepada Tuhan agar penyakitmu sekarang sembuh dan kamu bisa segera pulang.” Tiba-tiba suara hangat itu menyentuh telinga Bunga.
Siapa yang menyangka jika sejak tadi ayah dan bundanya mendengar pembicaraan Bunga dengan Varo.
“Bunda …. ” Tangis Bunga semakin pecah dan langsung memeluk bundanya.
“Bunda ada di sini, Sayang.” Asha mengelus lembut rambut Bunga. Namun, lagi-lagi Asha harus membungkam mulutnya ketika melihat helaian rambut Bunga yang menempel di tangannya.
Tuhan … bisakah aku meminta kepadaMu berikan umur yang panjang untuk anakku. Angkatlah penyakit yang saat ini sedang menggerogotinya. Jika bisa meminta, biarlah aku yang menggantikan Bunga. Biarlah aku yang menanggung penyakitnya.
“Bunga … jangan menangis.”
...###...
__ADS_1