
Setelah gerombolan Asmet pergi, Yejung segera ke rumah Young, untuk mandi. Setelah mandi, ia pun bergegas ke rumahnya, untuk mengambil sertifikat rumahnya.
Sementara di pasar, Hana datang dan tidak menemui kekasihnya disana.
"Young kemana yah" gumamnya sambil mencari kekasihnya itu.
"Apa mungkin dia sudah pulang kali yah"
pikirnya
Hana pun meninggalkan pasar, dan bergegas ke rumah Young. Sesampainya disana, pintu rumah Young terkunci.
"Young, kamu dimana sih" ucapnya sedih.
"Apa dia kesal yah sama aku. Gara gara aku marah dan pulang semalam" Pikirnya.
Karena sudah 1 jam menunggu, akhirnya ia pun pulang ke rumahnya.
DI KOTA
Yejung telah sampai di depan pagar rumahnya. Disana, ia melihat pak Shin sedang membaca koran.
"Permisi pak" ucap Yejung sambil tersenyum
Pak Shin menghentikan kegiatannya, saat mendengar suara itu. Ia pun segera beranjak, dan menemui pemuda itu.
"Ada apa dan ingin bertemu dengan siapa" ucap pak Shin.
"Nama saya Young. Saya supir pribadi tuan Leon"
"Ehm. Ada perlu apa"
"Tuan Leon meminta saya kemari, untuk mengambil selimut buat tuan Yejung. Karena di rumah sakit, sangat dingin"
"Baiklah, silahkan masuk"
Setelah berhasil masuk, Yejung pun bertemu dengan bibi Ina.
"Permisi bibi. Saya di tugaskan oleh tuan Leon, untuk mengambil selimut tuan Yejung"
"Lo, kemarin saya sudah membawakan selimut untuknya" kata Bi Ina heran.
"Oww, selimut itu sudah kotor"
"Kotor"
"Yah. Lebih baik bibi mengambilnya segera, karena saya sedang terburu buru"
"Baiklah"
Yejung pun memukul keningnya "Bodoh"
ia segera berlari mengejar bi Ina.
"Bibi. Biar saya saja yang mencarinya. Sepertinya saya mencium bau gosong. Coba periksalah ke dalam dapur"
Sambil mencium bau gosong tersebut.
"Bau gosongnya nggak ada"
"Sebaiknya bibi segera mengeceknya. Mungkin bibi lupa kali mematikan kompornya"
"Baiklah"
__ADS_1
Bibi Ina pun segera bergegas ke dapur. Sementara Yejung segera berlari naik ke atas kamarnya.
Sampai di kamar, ia segera mengambil sertifikat rumahnya, yang ada di dalam laci. Setelah itu, ia pun mengambil selimut dan memasukkan setrifikat rumahnya, ke dalam selimut itu.
"Aku berhasil" gumamnya.
Ia pun segera keluar dari kamarnya. Pas di depan tangga, ia berpapasan dengan bi Ina. Wajahnya sedikit terkejut.
"Bibi, anda mengagetkan saya saja" ucapnya sambil mengelus elus dadanya dengan tangan di kepal. Bibi Ina yang melihat itu, tampak terkejut.
"PRIA INI TINGKAH LAKUNYA SANGAT MIRIP DENGAN TUAN YEJUNG" katanya di dalam hati, sambil mengingat tingkah laku tuannya.
"Bibi. Kenapa anda melamun"
"Oh nggak kok" ucap bibi tersentak.
"Ya sudah, bibi saya harus pergi segera. Soalnya, saya sudah di tungguin oleh tuan Leon"
"Baiklah"
Yejung pun menunduk memberikan hormat, lalu segera pergi.
"YES, AKU BERHASIL MENGAMBIL SERTIFIKAT RUMAHKU" Gumamnya dengan gembira.
Setelah itu, ia pun bergegas ke kantornya untuk menjemput Leon.
Sesampainya disana, ia pun ke ruangan Leon segera, sambil membawa selimutnya. Namun di tengah perjalanan,i a di cegah oleh seorang satpam.
"Maaf, anda siapa" ucap satpam itu, dengan wajah cuek.
"JADI BEGINI CARA DIA, MEMPERLAKUKAN SEORANG TAMU. BUKANNYA SENYUM, IA MALAH MEMPERLIHATKAN WAJAH CUEKNYA"
"Maaf. Saya Young. Supir dari tuan Leon" katanya.
"ASTAGA, AKU LUPA KALAU SEKARANG AKU SEDANG MEMAKAI TUBUH KK INI. YAH, MANA MUNGKIN IA MENGENALIKU"
"Maafkan saya pak. Kalau boleh saya tanya, ruangan tuan Leon, dimana yah"
"Anda naik ke tingkat 2. Kemudian, anda lurus lurus saja. Anda boleh bertanya dengan pegawai yang ada disitu" ucap satpam itu, lalu bergegas pergi.
Yejung pun segera ke ruangan Leon. Tapi sebelum ke ruangan Leon, ia diam diam masuk ke ruangannya. Di sana ia duduk di kursi kerjanya.
"Aku kangen banget dengan ruanganku. Aku juga kangen dengan kamu sayang" ucapnya sambil melihat fotonya, bersama dengan Ara.
Sesaat kemudian, sekretarisnya tiba tiba datang. Dan mengagetkannya.
"Hei anda siapa. Mengapa anda bisa masuk ke ruangan bos kami"
Yejung yang mendengar itu, segera berdiri.
"Maafkan saya, saya kira ini adalah ruangan tuan Leon. Soalnya, ada fothonya disana" sambil menunjuk fhoto Leon, bersama dengan dirinya.
"Nggak masalah. Tapi anda sudah lancang duduk di kursi bos kami" ucap sekretarisnya lagi.
"Maafkan saya"
Sesaat kemudian, seorang pegawai yang bernama Yiyin datang.
"Lo kenapa Friss" ucapnya kepada Friska.
"Pria asing ini telah berani duduk di kursi bos kita" ujarnya.
"Maaf .Saya cuma ingin merasakan bagai mana duduk di kursi ini. Begitu saja" sahutnya dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Ya sudahlah Friss. Jangan terlalu memasukkannya di dalam hati. Yang pentingkan dia nggak mencuri. Dan dia hanya duduk saja" ucap Yiyin.
"Nggak bisa. Lihat penampilan dia. Sangat kumuh. Bisa bisa, semua virusnya menempel di kursi bos Yejung"
"TERNYATA, FRISS CUMA BERMUKA BAIK DI DEPANKU SAJA. AKU TELAH SALAH MENGANGKATNYA SEBAGAI SEKRETARISKU"
"Sekali lagi, maafkan saya" katanya sambil menunduk.
"Lebih baik, anda segera keluar dari ruangan ini" ucap Friss.
"Baiklah. Kalau boleh saya tanya, ruangan tuan Leon dimana yah"
"Disana. Biar saya antarkan" ucap Yiyin tersenyum ramah.
Yejung dan Yiyin pun segera keluar dari ruangan, dan berjalan ke ruangan Leon.
Tok..tok..tok..
"Permisi pak. Ini ada supir tuan" ucap Yiyin pada Leon.
"Silahkan masuk"
Yiyin pun mempersilahkan Yejung masuk kemudian meminta permisi untuk pergi.
"Makasih nona"
"Sama sama"
Yejung pun segera menghampiri sahabatnya itu.
"Tuan" ucapnya sambil menunduk.
Leon pun melihat dan menandai selimut yang dibawah oleh Young "Kenapa kamu membawa selimut datang kemari" ujar Leon
"Maaf tuan. Ini adalah selimut tuan Yejung. Tolong bawa selimut ini ke rumah sakit"
"Ya. Saya tahu. Karena selimut itu adalah pemberian saya kepadanya, saat dia berulang tahun. Terus, kenapa selimut ini bisa ada di kamu"
"Saya baru saja mengambilnya, di rumah tuan Yejung. Karena saya takut, jika malam hari, ia kedinginan"
"Itu tidak perlu. Karena kemarin bi Ina sudah membawakannya selimut"
"Oh. Maaf tuan, saya tidak tahu. Saya cuma takut tuan Yejung kenapa napa" ucapnya sedih.
"Ya sudah, mari selimut itu"
"Baiklah"
Yejung segera memberikan selimut itu kepada Leon.
"YES, AKU BERHASIL" gumamnya di dalam hati.
"Ya sudah. Antar saya pulang segera"
"Baik tuan"
Yejung pun mengikuti Leon dari belakang. Sampai di mobil, ia segera membukakan pintu buat Leon. Lalu segera menyetir mobilnya.
Di perjalanan, Leon tak henti hentinya memeluk selimut itu. Sekilas, ia memperhatikan cara Young menyetir mobil.
"KOK CARA MENYETIRNYA, HAMPIR SAMA YA, DENGAN YEJUNG. MENYETIR SAMBIL BERSIUL" Gumamnya di dalam hati.
BERSAMBUNG..🌹🌹
__ADS_1