KOMA 34 HARI

KOMA 34 HARI
IBU WIWI


__ADS_3

PUKUL 09.00.


Ruh Yejung yang sudah sampai di rumah sakit, duduk di koridor, sambil menunggu seseorang yang akan membuka pintu ruangan kamarnya. Sedangkan Leon masih ada di dalam sana.


Sesaat kemudian, Ara datang dan segera masuk ke dalam ruangannya. Ruh Yejung yang melihat itu, lebih dulu masuk mendahului kekasihnya.


"Leon, ini gue membawakan bubur ayam untukmu"


"Lo beli dimana Ra'?"


"Tadi pelayan gue yang buat. Karena dia bikinnya terlalu banyak, makanya gue membawakanmu" ucap Ara.


"Wah lo tau banget, kalau sekarang itu gue lagi lapar banget. Lihat tuh, semua buah buahan di keranjang itu sudah habis gue makan"


Ara tertawa melihat keranjang kosong itu.


"Ya sudah, lebih baik lo makan bubur itu. Mumpung masih panas"


"Ya iyalah, kalau makan jangan di suruh lagi. Gue pasti akan langsung menyantapnya" katanya lalu membuka penutup kotak itu.


Ruh Yejung yang melihat itu, tampak tersenyum melihat kekasih dan sahabatnya.


"Ara, sebenarnya ada yang mau gue ngmongin sama lo, tapi nanti saja, gue mau makan dulu"


"Ngomongin apaan" ucap Ara penasaran.


"Nanti saja. Selesai gue makan, barulah kita ngobrol"


"Baiklah"


10 menit berlalu, bubur ayam Leon tak kunjung habis. Sementara Ara sudah penasaran ingin mendengar omongan Leon.


"Leon, lo makannya lama banget sih" gerutu Ara.


"Sabar dong Ra.., bentar juga ni bubur habis" ucap Leon membuat Ara semakin kesal.


2 menit kemudian, akhirnya bubur itu pun habis. Selesai minum, Leon lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Leon, cepat katakan! lo mau ngomong apa ke gue"


"Bentar dong Ra', perut gue sangat kenyang. Kalau kenyang, gue nggak bisa ngomong"


Ruh Yejung yang melihatnya, tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


Sesaat kemudian, seorang ibu paru baya mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam ruangan.


"IBU ITU.. AKU SEPERTI PERNAH BERTEMU DENGANNYA, TAPI DIMANA YAH ?" gumam Yejung ketika melihat ibu paru baya itu.


"Tuan, nona. Saya adalah bu Wiwi. Saya datang kemari, untuk melihat keadaan tuan Yejung. Apa saya boleh melihatnya ?"


"Ya, silahkan bu" ucap Ara mempersilahkan bu Wiwi.


Bu Wiwi pun menghampiri dan melihat keadaan Yejung yang terbaring koma.


"Maaf bu, kalau boleh saya tahu, ibu siapa yah ?" ucap Ara.


"Saya adalah orang yang pernah ditolong oleh tuan Yejung. Pada waktu itu, 3 perampok datang ke rumah saya dan ingin merampok uang dan perhiasan kami. Tapi suami saya melakukan perlawanan, hingga akhirnya, perampok itu berhasil membunuh suami saya. Setelah suami saya tewas, tuan Yejung tiba tiba datang dan melawan perampok itu. Dan alhasil, tuan Yejung berhasil mengalahkan perampok itu. Waktu itu, Saya dan anak anakku sangat senang sekaligus sedih. Kami senang karena akhirnya tuan Yejung datang menolong kami. Dan sedihnya, karena suami saya sudah terbunuh, sebelum tuan Yejung datang.


Yejung pun mengingat kembali kejadian itu.


"OH DIA ADALAH IBU DARI 2 ANAK ITU" pikirnya.


"Sebenarnya, saya tidak tahu bahwa tuan Yejung mengalami kecelakaan, hingga ia bisa seperti saat ini. Saya ikut bersedih melihat kondisi yang menimpanya. Mudah mudahan saja tuan Yejung segera sadar" ucap bu Wiwi.


"Makasih ya bu" balas Ara.


"Hmmm"


"Tuan, nona kalau begitu saya permisi dulu" katanya lalu bergegas pergi. Ruh Yejung pun mengikuti ibu Wiwi dari belakang


"IBU, APA YANG INGIN IBU SAMPAIKAN TADI. MENGAPA SAYA SANGAT PENASARAN INGIN MENDENGARNYA" ucap Yejung, namun ibu Wiwi tak bisa mendengarnya.


Ruh Yejung pun mengikuti ibu Wiwi sampai di rumahnya.


"Ibu, bagaimana ? Apa ibu sudah ketemu dengan tuan Yejung ?" tanya anak perempuannya, setiba ia di rumah.


"Sudah nak" ucap ibunya sedih.


"Loh ibu kenapa sedih ? Apa tuan Yejung tak mau memberikan kita bantuan ? dia kan sudah janji kepada kita bu, bahwa dia bersedia membayarkan uang kuliahku dan memberikan modal kepada ibu" Tutur Alya.


"YA AMPUN..AKU SAMPAI LUPA" gumam Yejung memukul jidatnya.


"Tidak Alya. Tuan Yejung mengalami kecelakaan, dan sekarang ia sedang koma. Ibu tadi ke rumah sakit untuk melihat kondisinya. Dan disana, ada kekasih dan sahabatnya, ibu malu bilangin soal ini kepada mereka"


"Terus bagaimana bu. Alya harus membayar uang kuliah bulan ini"


"Ibu juga nggak tahu nak, semua perhiasan ibu sudah ibu jual untuk kebutuhan kita sehari hari, dan untuk pembayaran uang spp adikmu. Kamu tenang saja sayang, ibu janji akan bekerja agar kamu bisa membayar uang kuliahmu. Kamu tenang saja yah" ucap ibunya menenangkan.

__ADS_1


"Baiklah bu. Masih ada waktu seminggu untuk mengumpulkan uang. Dan aku juga akan turut membantu ibu"


"Jangan nak. Kamu nggak usah membantu ibu, kamu jagain adik kamu saja yah"


"Tapi bu.., ibu mau kerja apa ?"


"Kerja apa aja nak. Jadi asisten rumah tangga juga tak apa, yang penting bisa menghasilkan uang"


"Ibu.. maafkan Ayla bu. Ayla sudah merepotkan ibu"


"Nggak apa apa kok sayang" ucap ibunya, Lalu keduanya pun berpelukan sambil menangis.


"AKU HARUS MEMBANTU MEREKA" gumam Yejung.


Setelah itu, ruh Yejung pun memutusakn lagi ke rumah sakit. Sampai disana, ia tak bisa masuk ke dalam ruangannya, karena pintunya tertutup. Dan seorang ruh tak bisa menembus benda yang ada di depannya.


Ia pun melihat kekasih dan sahabatnya sedang berbicara. Tapi Yejung sama sekali tidak bisa mendengar percakapan mereka, karena mereka mengecilkan suaranya.


"Leon, jadi kamu mengira bahwa bukan Yejung yang menulis surat wasiat ini, melainkan Woong sendiri" ucap Ara penasaran.


"Ya, seperti yang gue katakan tadi, bahwa Woong lah yang membuat surat wasiat ini. Bukan Yejung. Dan Yejung belum pernah menulis surat wasiat apapun"


"Ya, siapa tahu Yejung menulis suratnya, tanpa sepengetahuan kamu"


"Mana mungkin Ara. Yejung pernah bilang, bahwa gue yang akan jadi saksi, jika suatu saat ia menulis surat wasiat"


"Apakah itu benar, jadi paman Zhun Zan dan Woong sekongkol untuk melakukan itu ?"


"Ya. Dan pastinya, mereka hanya ingin merebut harta lo saja"


"Benarkah begitu ?"


"Ya. Itulah sebabnya, mereka ingin melepaskan alat bantu di tubuh Yejung, agar lo dan Woong segera menikah"


"Jahat sekali mereka" ucap Ara.


"Dan kamu juga belum tahu, bahwa mereka juga ingin menguasai harta Yejung.


"Apa..? (katanya terkejut) dari mana kau tahu soal itu ?"


"Gue nggak sengaja mendengar ucapan mereka, (Leon pun menceritakan soal itu kepada ara)


Maka dari itu, gue pun segera bertindak dan mencari sertifikat rumah Yejung di rumahnya, sebelum Woong datang. Tapi, gue tidak berhasil menemukan sertifikat itu"

__ADS_1


BERSAMBUNG..🌹🌹


__ADS_2