
PUKUL 09. 00 PAGI
Acara akad nikah akan segera di mulai. Wajah Ara terlihat murung ketika duduk di samping Woong, yang mengenakan kemeja hitam. Sebagian para tamu undangan sudah datang dan duduk memenuhi gedung.
"Saya tak menyangka nona Ara akan menikah dengan tuan Woong. Saya kira tuan Yejung yang akan menikahi nona Ara, tapi ternyata bukan" bisik salah satu tamu.
"Itu namanya menjaga jodoh orang. Kasihan banget yah, si tuan Yejung" balas yang dibisikin
"Langsung saja kita mulai acaranya" ucap pak penghulu.
Di saat pak penghulu ingin mengucapkan ijal kabul, tiba tiba Yejung, Leon dan Anita datang.
"Tunggu pak" ucap Yejung membuat semua tamu undangan melihat ke arahnya. Ara yang juga melihat Yejung tak kuasa menahan air matanya. Ia pun segera berdiri dan berlari memeluk Yejung. Sementara Zhun Zan dan Woong tampak terkejut melihat Yejung.
"Sayang, alhamdulillah. Kau sudah sadar" ucap Ara.
"Sayang apa yang kau lakukan disini ? mengapa kau ingin menikah dengan Woong ?"
Ara hanya terdiam mendengar ucapan Yejung. Kemudian Zhun Zan dan Woong berdiri dan menghampiri Yejung.
"Pernikahan ini harus tetap di lanjutkan. Bagaimana pun kau telah menyepakati perjanjian itu" sahut paman Zhun Zan kepada Ara.
"Bagaimana bisa begitu, Yejung telah sadar. Jadi perjanjian itu di batalkan. Lagian, ayah Ara pasti tidak setuju dengan pernikahan ini. Ia mana mungkin ingin besanan dengan paman. Secarakan paman yang membunuhnya" kata Leon dengan suara yang lantang, membuat semua tamu terkejut dan begitu pula dengan Yejung dan Ara.
"Apa maksud ucapanmu Leon ?" tanya Ara penasaran.
"Kamu jangan asal bicara yah, tiada bukti bahwa saya yang membunuh Yeong Jing. Kalau memang ada, coba buktikan !"
"Buktinya memang sudah tak ada. Karena paman sendiri yang merusak ponsel itu"
"Merusak ? apa maksudmu ?" kata Zhun Zan pura pura tidak tahu.
tengah asyiknya mereka bertikai, tiba tiba 3 orang polisi datang bersama Hana dan Young menghampiri mereka.
"Tuan Zhun Zan, anda kami tahan atas pembunuhan tuan Yeong jing dan pengancaman pembunuhan untuk tuan Yejung" ucap kepala polisi.
Mendengar itu, Yejung dan Ara tampak terkejut.
"Pak, mana buktinya jika saya yang membunuh Yeong Jing. Jelas jelas pak Zam lah yang membunuhnya. Dan soal mencelakai Yejung, mana mungkin saya melakukan itu. Dia kan keponakan saya sendiri" ucapnya dengan wajah yang biasa biasa saja.
"Anda dalam perencanaan pembunuhan tuan Yejung. Pak Shin sudah menceritakan semuanya.
Dan soal bukti, kami sudah melihat rekaman video anda di ponsel nona ini. Ini buktinya" katanya sambil memperlihatkan rekaman itu.
Melihat itu wajah Zhun Zan terlihat sangat pias, begitupula dengan Yejung.
__ADS_1
"Tak kusangka, paman bisa sekeji itu" ucap Yejung menahan amarahnya.
"Sesuai dengan janjiku, siapa yang membunuh ayahku maka ia harus membayarnya dengan balasan yang setimpal. Saya akan menjatuhkan hukuman pancung kepadanya" timpal Ara
Zhun Zan sangat gemetaran mendengar ucapan Ara.
"Ara, tolong maafkan paman. Jangan jatuhkan hukuman itu kepada paman"
"Baiklah, tapi saya akan memenjarakan paman seumur hidup"
Zhun Zan lalu mengangguk.
"Pak, bawa dia !"
2 polisi itupun segera membawa Zhun Zan ke kantor polisi. Sementara Woong hanya berdiam diri disana.
"Makasih atas kerja sama anda. Kami telah melepakan pak Zam dan memenjarakan pak Shin" ucap kepala polisi lalu bergegas pergi.
"Ngapain lo masih disitu. Sana pergi !" ucap Leon kepada Woong.
Woong pun lalu beranjak pergi.
Semua tamu undangan pun juga pulang. Sisa mereka ber enam disana.
"Apa yang terjadi Leon, mengapa kau bisa tahu semuanya. Dan kamu, mengapa rekaman itu bisa ada di kamu ?"
"Apa..? ruh ku masuk ke dalam Young ?" ucapnya kaget.
"Ya, dan gue sudah menduga bahwa itu kamu. Soalnya semua gerak gerik mu sama persis dengan Young"
"Jadi lo tahu Leon, dan kamu tidak cerita ke gue" ucap Ara.
"Maafkan gue Ra' "
"Btw, ini adalah buku catatan lo ( sambil memberikannya kepada Yejung). Lo menulis semua nama nama orang yang jahat dan orang yang baik di buku ini" kata Hana
Yejung pun segera membuka lembaran demi lembaran buku catatannya. Saat di lembaran terakhir, ia membaca bahwa dirinya akan membantu Young untuk menyiapkan mahar 500 ratus juta untuk pernikahan mereka.
"Makasih ya. Kalian sudah membantu gue, terutama lo Hana"
"Ih apaan, gue yang paling banyak membantu lo disini. Soalnya kan sehari hari, lo menggunakan tubuh gue untuk bertahan hidup" sahut Young.
"Iya ya. Maaf yah Young" ucapnya. Lalu semuanya pun tertawa.
"Btw, sayang kita nikahnya kapan ?" ucap Ara
__ADS_1
"Minggu ini kita akan menikah"
"Gue dan Anita juga akan menikah minggu ini. Bagaimana kalau kita nikahnya bersamaan saja" usul Leon.
"Ya ya ya.., gue setuju"
Sementara itu, Young dan Hana hanya terdiam mendengar ucapan mereka.
"Maaf, kami pamit pulang dulu" ucap Young
"Baiklah. Tapi sebelum kamu pulang, gue ingin memberi lo sesuatu. Leon, kamu ada cek nggak disitu ?"
"Ada" ucap Leon sambil memberikan ceknya kepada Yejung. Yejung lalu memberikan cek itu kepada Young.
"Ambillah. kalian boleh menulis angka berapa pun yang kalian mau di cek ini"
"Tidak perlu Yejung. Terimahkasih"
"Ambillah, ini tanda trimahkasih gue kepada kalian. Tapi ingat, gue akan tetap menganggap kalian sebagai saudara gue. Kalian boleh datang ke rumah gue dan bermalam"
"Tidak. Kami ikhlas menolong tuan. Terimah kasih banyak" ucap Young.
Ke enamnya pun berjalan keluar dari gedung. Sampai di pinggir jalan, seorang bocah kecil datang sambil membawa koran.
"Wah, kaka sangat mirip dengan orang yang ada di korang ini" ucap bocah itu kepada Young.
Yejung lalu melihat koran tersebut dan membacanya.
"YOUNG BERHASIL MENGALAHKAN SEGEROMBOLAN BEGAL YANG MERESAHKAN WARGA. ATAS KEBERHASILANNYA, KAMI DARI PIHAK PEMERINTAH MEMBERIKAN UANG SEBESAR 5OO RATUS JUTA KEPADA YOUNG"
Mendengar itu, Hana tampak senang.
"Itu bukan gue, ini semua karena lo Yejung" ucap Young.
"Ambiillah uang itu. Itu adalah rezeki buat kalian berdua"
"Makasih Yejung" ucapnya bersamaan lalu berpamitan untuk pergi.
Sementara itu, Woong baru tiba di kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya. Sesaat kemudian, ponselnya berbunyi dan segera mengangkat telefon itu.
"Maaf tuan, uang yang tuan pinjam sudah jatuh tempo. Tuan harus segera melunasinya"
"Baiklah" ucap Woong mematikan panggilan itu.
Dengan serta merta, Woong segera mengambil sertifikat rumah Yejung dan ingin menjualnya. Ia pun segera pergi ke rumah Yejung, agar Yejung segera angkat kaki dari rumah tersebut.
__ADS_1
Sampai disana, ia lalu menemui Yejung dan juga Ara.
BERSAMBUNG..🌹🌹