
Ara dan Yejung baru saja tiba setelah dokter memeriksa ayahnya. Ara yang matanya sudah berkaca kaca, segera menghampiri dan memeluk ayahnya. Ia menangis sepilu pilunya melihat ayahnya yang telah tiada.
"Dokter, apa yang terjadi dengan ayah Ara" tanya Yejung yang juga ikut sedih.
"Di lihat dari kondisi beliau, sepertinya beliau telah memakan atau meminum sesuatu yang beracun. Mulut dan lidahnya juga terlihat mengepuh"
Lalu dokter pribadi Yeong Jing mengambil gelas yang ada di meja Yeong Jing dan mencium baunya.
"Yah. Sepertinya ada yang sengaja menabur bubuk racun ke dalam teh beliau"
Ara yang mendengar itu, segera menghapus air matanya dan memerintahkan Zhun Zan untuk memanggil OB yang membuatkan teh untuk ayahnya.
"Memang saya yang membuatkan teh untuk tuan, tapi saya sama sekali tidak memberikan racun kepada teh tuan" ucap pak Zam gemetaran.
"Lalu siapa lagi Zam, hanya engkau yang membuatkan teh untuk tuan" sahut Zhun Zan.
"Saya benar benar tidak tahu apa apa. Saya menyediakan teh untuk tuan, seperti biasanya"
"Untuk mengetahui kebenarannya, bagaimana kalaw kita melihat cctv yang ada di dapur" ucap Yejung.
"Maaf tuan. Cctv di dapur di curi orang" sahut karyawan yang lain.
"Berarti ini benar benar perencanaan pembunuhan. Pasti ada yang sengaja mengambil cctv itu, agar kedoknya tidak ketahuan. Tapi mungkin Lebih baik kita tetap memeriksa cctv itu" sahut slah satu polisi.
Yejung, Ara, Zhun Zan dan dua polisi lainnya pun berjalan menuju ruang cctv. Sesampainya disana, Yejung membuka cctv yang ada di dapur.
"Pembunuh ini benar benar sialan, ia sengaja menutupi tubuh dan wajahnya dengan jubah hitam dan kain hitam" ucap Yejung marah ketika melihat hasil rekaman cctv itu.
"Siapa orang yang sengaja membunuh ayahku" kata Ara sambil menangis
Yejung pun memeluk kekasihnya itu.
"Sayang, kamu yang sabar yah. Pasti kita dapat mengetahui pembunuh ayahmu"
"Paman, tolong kumpulkan semua tas karyawan yang ada disini. Siapa tahu kita bisa menemukan bukti berupa pakaian ataupun penutup wajah si pembunuh itu. Karena saya tahu, tidak ada orang luar yang masuk di perusahaan ini, kecuali semua pekerja disini"
"Baik lah" ucap Zhun Zan lalu segera turun ke bawah.
__ADS_1
Setelah berhasil mengumpulkan tas semua karyawan, Yejung dan 3 aparat kepolisian memeriksa tas karyawan satu per satu. Sementara wajah karyawan tampak tegang semua.
Sesaat kemudian, salah satu polisi menemukan kain hitam di salah satu tas.
"Ini tas siapa" tanya polisi itu.
"Itu tas saya pak polisi" jawab pak Zam.
"Saya menemukan kain hitam penutup wajah, yang ada di tas bapak. Dan kain ini sama persis yang di pakai pencuri itu di dalam rekaman cctv"
Mendengar itu, Yejung segera mengambil dan melihat kain itu. Setelah itu, menatap tajam ke pak Zam.
"Saya benar benar nggak tahu tentang kain itu tuan. Saya tidak mempunyai kain penutup wajah seperti itu. Nona muda (sambil melihat ke arah Ara) anda percayakan kepada saya"
Ara hanya terdiam. Dia nggak bisa berkata apa apa.
Lalu, polisi itu mencari bukti lagi di tas pak Zam. Yah, seperti sudah di bisikin yah ke paman Yejung. He..he..he..
Sesaat kemudian, polisi itu menemukan lagi pembungkus bubuk racun di tas pak Zam.
Dokter pribadi Yeong Jing segera mengambil pembungkus itu, dan menciumnya.
"Baunya seperti bau racun yang ada di teh tuan Yeong Jing. Ini adalah pembungkus bubuk racun itu"
Mendengar ucapan dokter itu, pak Zam semakin gemetaran.
"Saya benar benar nggak tahu tentang itu. Saya bukanlah penyebab kematian tuan Yeong Jing. Saya berani sumpah pak"
"Zam, semua bukti ada di tas anda. Anda jangan mengelak lagi. Pak polisi, lebih baik bapak membawa dia ke kantor polisi" sahut Zhun Zan dengan senyum liciknya.
"Nona Ara, percayalah saya tidak membunuh ayah nona. Saya sudah bertahun tahun kerja bersama tuan. Mana mungkin saya melakukan itu " ucap pak Zam memohon.
"Pak polisi, bawah dia ke kantor polisi" ucap Ara geram.
"Pak Zam, anda kami tahan. Karena semua bukti ada di tas bapak"
Polisi itu pun membawa pak Zam ke kantor polisi. Sedangkan Yejung masih belum percaya bahwa pak Zam lah pelakunya. Rasanya ada yang ganjal dengan semua ini.Pikirnya.
__ADS_1
Setelah pak Zam di bawah, Ara segera mengurus jenazah ayahnya untuk di bawah ke rumahnya. Entah mengapa Yejung merasa kalaw pak Zam itu tidak bersalah. Rasanya ia ingin ke kantor polisi juga, untuk meminta keterangan secara jelas kepada pak Zam. Tapi nggak mungkin, karena ia harus menemani Ara dalam kondisi yang begini.
Sesampainya di kediaman jenazah, Ara tak henti hentinya menangis. Sedang Yejung duduk di samping Ara.
"Ayah, kenapa engkau pergi secepat ini. Pernikahan ku tinggal 4 hari lagi. Siapa yang akan menjadi wali di hari istimewaku ayah. Hu...hu...hu..."
"Sayang, kau tenang saja. Kau tak akan sendiri. Aku disini akan slalu menemanimu"
"Sayang, kamu janjikan. Kamu tak akan meninggalkan aku"
"Aku janji. Aku akan slalu setia menemanimu dan menjagamu. Bahkan kita akan hidup bersama seribu tahun lagi"
"Makasih ya sayang" (sambil memeluk Yejung dengan kesedihannya.
Setelah ayah Ara telah di makamkan, semua orang yang datang melayat, pulang ke rumahnya masing masing.
Di kamarnya, Ara berdiri di balik jendela sambil termenung. Lalu Yejung datang dan memegang lengannya.
"Sayang, janganlah engkau slalu meratapi kepergian ayahmu" ucap Yejung kepada Ara.
"Tapi sayang, ayah seharusnya belum pergi. Seharusnya ia masih bersamaku dan makan malam denganku. Kemarin, aku masih bercanda gurau bersamanya. Bahkan semalam dia berjanji, bahwa dia akan menemaniku membeli gaun pernikahan. Tapi karena pembunuh sialan itu, ia telah membunuh ayahku. Entah apa salah ayahku, sehingga ia membunuhnya. Padahal, ia sering mendapat bonus dari ayahku" tutur Ara
"Apakah kau yakin, bahwa pak Zam adalah orang yang benar benar membunuh ayahmu ?"
"Semua bukti ada di tasnya"
"Tapi, bisa jadi ada orang yang sengaja menaruh bukti itu ke dalam tas pak Zam. Sehingga ia selamat dan pak Zam lah yang terlihat bersalah dan akhirnya harus di penjara"
"Maksud kamu"?
"Yah, seperti yang ku katakan tadi. Pasti ada udang di balik batu. Mana mungkin pak Zam melakukan itu, aku sering ke kantor ayahmu. Dan jika aku bertemu dengannya, pasti ia slalu tersenyum ramah kepadaku. Lagian dia juga OB terbaik ayahmu. Jadi aku rasa, ada yang ganjal dengan semua ini"
"Aku juga merasa kurang yakin kalaw dia yang melakukan ini semua" ucap Ara
"Kamu tenang saja. Aku akan mengungkap kebenaran ini semua" kata Yejung kepada Ara.
BERSAMBUNG..🌹🌹
__ADS_1