
Ara menghampiri Yejung kekasihnya yang masing terbaring koma di ranjangnya.
"Sayang, maafkan aku. Aku hilaf dengan ucapan ku kepada Young. Entah mengapa, aku merasa kesal kepada dirinya. Seolah olah dia itu kamu, namun ia tak mau mengakuinya. Dan aku sangat kecewa kepadanya. Katakan sayang,apa yang harus aku lakukan" ucapnya menangis.
Namun tidak ada tanggapan dan reaksi dari Yejung. Lelaki itu terus saja menutup matanya, seolah olah dia pingsang.
"Sayang, jika itu beneran kamu, apa kau kecewa mendengar ucapanku ?" Apakah kau marah dengan sikapku yang tak seperti biasanya ?" Ayo katakan"
Sejenak Ara terdiam, lalu memegang tangan kekasihnya.
"Sayang, maafkan aku. Aku mungkin sudah gila. Mana mungkin kau bisa menjawab pertanyaanku" ucapnya sembari menghapus air matanya.
Keesokan paginya, ruh Yejung masuk ke dalam ruangannya. Ia melihat kekasihnya Ara masih tidur dengan terlelap.
Ia pun menghampiri Ara, dan ingin membelai rambutnya. Namun nihil, ia sama sekali tak bisa memegangnya.
Sesaat kemudian, Ara terbangun dan segera ke kamar mandi. Usai dari kamar mandi, ia lalu duduk di samping Yejung.
"Sayang cepat sadar yah. Aku disini slalu mendoakanmu" ucapnya sambil tersenyum.
"MAKASIH YA SAYANG" jawab ruh Yejung.
PUKUL 10.00 PAGI
DI RUANGAN YEJUNG(Rumah sakit)
Zhun Zan dan Woong datang menghampiri Ara.
Ara yang melihat mereka menatapnya dengan mata tajam.
"Paman datang kemari karena ingin menyampaikan, bahwa waktu Yejung tinggal 4 hari lagi. Apabila ia nggak bangun bangun juga, ya terpaksa kamu harus merelakannya. Dan setelah 4 hari berlalu, seminggu kemudian kamu harus menikah dengan Woong"
Woong pun tersenyum licik mendengar ucapan ayahnya.
"Tidak, saya tidak akan menikah dengan anakmu. Karena saya tahu, bahwa kau dan anakmu yang membuat surat wasiat itu. Bukan Yejung. Jadi, saya nggak akan pernah menikah dengan anakmu. Ucamkan itu"
Woong sangat terkejut mendengar ucapan Ara. Mana mungkin ia bisa tahu soal ini. Siapa yang memberitahukannya. Pikirnya.
Sementara ruh Yejung yang mendengarnya, tampak senang. Karena ternyata Ara sudah mengetahui tentang surat wasiat itu.
"Karena kamu sudah tahu, maka kita lanjutkan permainan ini. Apabila kau menolak menikah dengan anakku, maka detik ini juga saya memutuskan akan menyuruh dokter untuk mencabut semua alat bantu di tubuh Yejung. Bagaimana ?" ucap Zhun Zan mengancam.
"Paman, kau tak bisa melakukan itu seenaknya" ucap Leon yang tiba tiba datang.
"Mengapa ? paman yang berhak memutuskan itu. Karena paman adalah keluarganya. Dan kalian bukan siapa siapa Yejung"
"Bukan siapa siapa maksud paman,ingat saya adalah sahabat Yejung, dan Ara adalah kekasihnya. Kami yang slalu ada disampingnya, setiap ia merasakan suka duka. Bukan paman" ujar Leon.
__ADS_1
"Oh jadi kalian benar benar ingin membuat Yejung mati sekarang. Baiklah, saya akan memanggil dokter. Kita lihat,apakah dokter akan mendengar perkataan saya,atau mendengar perkataan kalian"
"Ya, silahkan" balas Ara menantang.
Sesaat kemudian, dokter Jiun datang ke ruangan Yejung.
"Ada apa ini ?"
"Dokter. Mana yang lebih berkuasa kepada pasien. Keluarga atau kekasih dan sahabatnya"
"Ya, tentu keluarganya. Karena partisipasi keluarga sangat diperlukan disini" jawabnya.
"Kalian dengarkan,apa kata dokter. Jadi terserah saya, alat bantu di tubuhnya mau di cabut sekarang atau nanti. Benarkan dok ?"
"Iya. Itu tergantung dari keputusan keluarganya. Kalau tak ada pertanyaan lagi, saya permisi dulu"
"Baiklah dok. Silahkan"
"Bagaimana ? apa kalian sudah dengar ? Ayo segera putuskan, pilih 4 hari atau alat bantu di tubuhnya di cabut sekarang" ucap Woong
Mendengar itu, Ara dan Leon merasa kebingunan.
"Baiklah, 4 hari. Dan saya yakin Yejung akan secepatnya sadar" jawab Ara tegas.
"Lo yakin Ra'" kata Leon sambil berbisik
Mendengar itu, Woong dan ayahnya tersenyum licik.
"Saya memilih 4 hari tapi dengan syarat, bahwa jika dalam 4 hari ke depan Yejung tidak sadar. Ku mohon, biarkan ia tetap memakai alat bantu di tubuhnya. Saya akan tetap menikah denganmu" ucap Ara
"APA KAU SUDAH GILA SAYANG. KAU MENGORBANGKAN DIRIMU DEMI AKU" ucap ruh Yejung
Zhun zan dan Woong saling bertatapan.
"Baiklah. Kami setuju, kalau begitu kami permisi dulu" ucap Zhun Zan lalu keluar dari ruangan bersama dengan Woong.
Di dalam mobil, ponsel Woong berbunyi. Ia sangat senang melihat panggilan masuk dari Aery.
"Halo sayang"
"Sayang,hari ini aku pulang. Tolong jemput aku di bandara sekarang juga.
"Iya iya sayang. Aku akan menjemputmu segera" ucap Woong senang.
Setelah menelfon, ia lalu menghentikan mobilnya.
"Ayah dengarkan tadi, aku akan menjemput Aery di bandara. Jadi aku mohon, ayah turun yah. Ini uang untuk ayah "
__ADS_1
"Ah kamu ini berani beraninya nurunin ayah di tengah jalan" ucapnya lalu turun dari atas mobil.
"Maaf ayah" ucapnya lalu melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
Sampai di bandara, Woong lalu menelfon kekasihnya itu.
"Sayang, kamu sekarang dimana ? aku sudah berada di bandara tepatnya di parkiran mobil"
"Kamu tunggu disitu saja ya sayang. Soalnya aku lagi di toilet " ucap Aery lalu mematikan panggilan Woong.
10 menit menunggu, Woong pun turun dari dalam mobil dan mencari Aery.
Alangkah terkejutnya ia, ketika melihat Aery kekasihnya sedang berciuman dengan pria lain. Ia pun segera menghampiri mereka.
"Aery" ucap Woong marah
Aery yang mendengar itu segera menghentikan aksinya, dengan wajah yang kaget.
"Eh sayang" ucap Aery tersenyum.
"Dia siapa ? Mengapa kau menciumnya sampai segitunya"
"Sayang, ciuman kayak gitu mah sudah biasa di lakukan di paris. Kamu jangan marah gitu dong. Kenalin dia itu spupu aku"
Lelaki yang ada di depannya pun tampak terkejut dengan ucapan Aery. Namun dia hanya mengikuti perkataan Aery.
"Kenalin, saya Han spupu Aery" ucap Han sambil menyedorkan tangannya untuk bersalaman.
"Woong" ucapnya dengan wajah senang.
"Sayang, Han boleh nebeng juga nggak di mobilmu. Soalnya dia kesini menggunakan taxi"
"Oh ya. Nggak apa apa kok"
"Makasih ya sayang. Itu kopor dan barang aku, tolong antar yah ke mobil. Cuma dikit ko"
Woong hanya mengangguk. Ia pun mengangkat barang Aery dan berjalan ke depan. Sementara Aery dan Han berjalan di belakangnya, sambil Aery memegang tangan Han.
Sampai di mobil, Woong segera memasukkan barang barang Aery di bekasi.
"Sayang,aku duduknya di belakang bersama Han saja. Soalnya aku itu sangat lelah, seharian nggak baring. Nggak apa apa kan sayang ?"
"Iya nggak apa apa kok " ucap Woong.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil, dengan Woong sebagai supirnya.
Di tengah jalan, Aery tampak mesra dengan Han. Woong yang melihat itu tampak cemburu. Namun ia masih percaya, bahwa Han adalah spupu Aery.
__ADS_1
BERSAMBUNG..🌹🌹